Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.

Pukul 7 pagi, Ibuk berkoar-koar bahwa beliau merindukan nasi pecel. Ibuk ingin makan nasi pecel. Akhirnya, Ibuk merealisasikan impiannya tadi dengan menyuruh saya membeli pecel. Karena kota kecil saya sudah bertebaran warung pecel yang buka setiap pagi, jadi tidak sulit untuk mencari warung pecel terdekat. Apalagi lokasi rumah saya yang begitu strategis di tengah pusat kota. Yang susah adalah mencari warung pecel yang sepi pelanggan. Hampir semua atau bahkan semua warung pecel ramai pembeli.

Jam 7 pagi sudah saya anggap terlalu siang untuk mendambakan nasi pecel. Belum terlambat sih. Hanya saja warung pecel yang ramai sekali dengan antrean bejibun yang membuat saya males. Membayangkan bagaimana harus menunggu itu sudah capek. Apalagi kalau menunggu beneran. Namun demikian saya Lanjutkan membaca “Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.”