Setitik Harapan Kala Itu

Malamnya kota Malang. Foto dari elektro.um.ac.id

“Nol! Apakah takdir kita akan benar-benar di sini bersama-sama?”, tanya Alya saat berjalan di terotoar pada malam hari di kota Malang. Kala itu, kami berharap untuk tidak berjauhan saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Iya, Yen! Aku pengen supaya kita sekolah di sekolah yang sama lagi. Agar kita bisa sama-sama saling menguatkan dalam keistiqomahan. 

***

“Jadi beberapa dari kalian akan mengikuti lomba untuk mewakili sekolah.”, ujar Bu Muna sembari memegang selembar kertas di hadapannya. “Ini mandat dari sekolah. Bu Muna disuruh memilih beberapa dari kalian. Jadi buat pengalaman ya.”, tambah beliau kemudian.

Pagi itu, selepas setoran mengaji, Bu Muna memberikan pengumuman pada seluruh muridnya. Beberapa waktu kemudian akan diadakan lomba dengan tema Al Quran di Universitas Malang. Lombanya bermacam-macam seperti lomba kaligrafi, karya tulis ilmiah, tartil, debat sampai hafalan. Responku biasa saja waktu mendengar berita tersebut.

“Itsna sama Alya ikut ya.”, ujar Bu Muna setelah menunjuk beberapa murid lain. Aku mlongo.
Continue reading “Setitik Harapan Kala Itu”

Setiap Pilihan Kita akan Dimintai Pertanggungjawaban

Kita tidak bisa memilih darimana kita dilahirkan, kita lahir dari orang tua mana, terlahir dari keturunan kaya atau miskin, berkulit putih atau hitam, berwajah rupawan atau jelek. Tapi kita bisa memilih:

1. Siapa teman-teman kita

2. Siapa kita di masa depan (baik atau buruk)

3. Siapa yang akan menjadi pendamping hidup kita

Teman dan lingkungan turut memengaruhi kita

Perumpamaan berteman dengan orang yang baik atau buruk ibarat berteman dengan penjual minyak wangi atau seorang pandai besi. Pasti sudah banyak yang mendengar dan tahu tentang perumpamaan ini. Betapa berpengaruhnya teman dalam hidup kita. Gaya berpakaian kita sama dengan bagaimana teman-teman kita berpakaian. Gaya bicara dan Continue reading “Setiap Pilihan Kita akan Dimintai Pertanggungjawaban”