Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang

Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa.

Lanjutkan membaca “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang”

Iklan