Malam ketika Mengingat Kematian

wp-1503209899080.
Kitab Kasyifatussaja warna ungu.

Ba’da maghrib acara di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna di Jember masih seperti biasa. Selepas tadarus ringan di juz satu, para santri bergegas mengambil kitab Kasyifatussaja. Pada kesempatan kali ini Ibu Nyai sendiri yang mengisi acara ngaos kitab karena Bapak Yai yang masih menjalani ibadah haji. Malam ini, Ibu membahas tentang bab kematian.

Setiap manusia pasti akan menghadapi sakaratul maut. Entah seperti apapun hal-hal yang dilakukan semasa hidup ditentukan di sakaratul maut. Penentuan nasib seorang hamba di akhirat kelak apakah baik atau buruk ditentukan ketika sakaratul maut. Maka dari itu, seseorang yang sedang menghadapi pedihnya sakaratul maut perlu dibimbing oleh orang lain seperti misalnya sanak saudara. Ketika seseorang sedang tersiksa oleh sakaratul maut, setan mulai berdatangan menawarkan berbagai macam hal-hal berharga dengan jaminan akan menghilangkan rasa sakit yang luar biasa jika orang tersebut mau menerima Lanjutkan membaca “Malam ketika Mengingat Kematian”

Iklan

Perjalanan yang Berakhir

Setiap orang ditakdirkan untuk pergi. Entah pergi kemana pun. Tak seorang pun diizinkan untuk menetap selamanya. Salah satu perjalanan pergi yang akan dialami setiap manusia adalah pergi dari kehidupan dunia menuju kehidupan yang lebih kekal.

Hari ketiga pasca lebaran, Ibuk mengajakku berziarah di makam ibunya atau nenekku. Kami mengendarai motor menuju pemakaman. Sengaja Ibuk memilih pagi hari sekitar pukul sembilan karena matahari telah bersinar namun belum terik dan menyengat.

“Putik, anak e kambek putune teko.”, ujar Ibuk seraya mengelus tanah di atas pembaringan ibunya. Selama hidup, kami memang terbiasa memanggil nenek dengan sebutan putik. “Ndang nduk wacakno yasin.”,

Lanjutkan membaca “Perjalanan yang Berakhir”