Napak Tilas Kenangan Sosok Guru

Bu Muna, guru mengajiku sedang asyik menulis sesuatu di selembar kertas kecil berwarna kuning.

“Kamu bisa baca ini?”, tanya Bu Muna menunjukkan hasil tulisannya. Aku menggeleng. Pasalnya tulisan yang ditunjukkan Bu Muna berupa tulisan arab tanpa harakat.

“Kalau gini? Udah bisa baca?”. Aku menggangguk meski caraku membaca tulisan tersebut masih terbata-bata. “Itu doa dari gurunya Bu Muna ketika Bu Muna mau mengikuti lomba tahfidz quran dulu.”.

“Yang jadi juara tingkat kabupaten itu ya ustadah?”.

“Iya! Itsna bener.”.

***

Continue reading “Napak Tilas Kenangan Sosok Guru”

Iklan