Perjalanan yang Berakhir

Setiap orang ditakdirkan untuk pergi. Entah pergi kemana pun. Tak seorang pun diizinkan untuk menetap selamanya. Salah satu perjalanan pergi yang akan dialami setiap manusia adalah pergi dari kehidupan dunia menuju kehidupan yang lebih kekal.

Hari ketiga pasca lebaran, Ibuk mengajakku berziarah di makam ibunya atau nenekku. Kami mengendarai motor menuju pemakaman. Sengaja Ibuk memilih pagi hari sekitar pukul sembilan karena matahari telah bersinar namun belum terik dan menyengat.

“Putik, anak e kambek putune teko.”, ujar Ibuk seraya mengelus tanah di atas pembaringan ibunya. Selama hidup, kami memang terbiasa memanggil nenek dengan sebutan putik. “Ndang nduk wacakno yasin.”,

Continue reading “Perjalanan yang Berakhir”

Iklan

Belajar Filosofi Kehidupan dari Tangan Terluka

Beberapa hari yang lalu, tangan saya terluka akibat terkena pecahan beling. Tepatnya, pecahan beling tanpa sengaja menusuk ibu jari tangan kanan saya. Lukanya memang tidak parah, namun cukup untuk membuat saya merasa kesakitan.

Awalnya, saya merasa sedikit putus asa ketika jempol ini harus terluka karena tidak bisa ngapa-ngapain. Dibuat pegang ini sakit, dibuat membawa sesuatu susah, dibuat untuk menulis apalagi. Karena terluka, alhasil saya mengandalkan empat jari lainnya yang masih sehat. Rasanya semacam enggan beraktifitas karena merasa tidak bisa melakukan sesuatu ketika jempol sakit.

Hampir seminggu saya tidak menulis karena merasa tidak bisa memegang polpen. Namun, saya teringat akan tugas Sekolah Inggris dari kak Budi Waluyo yang belum saya kerjakan. Hingga ketika mepet akhir pekan, yaitu hari Sabtu, saya ngebut mempelajari dan mengerjakan soal-soal latihan Bahasa Inggris beserta soal-soal

Continue reading “Belajar Filosofi Kehidupan dari Tangan Terluka”