Ridho Orang Tua adalah Segalanya

Ridho Orang Tua adalah Segalanya

Kemarin, 11 November 2017, Ustad Ari Dwi Widodo S.Pd.I, M.Pd.I selaku salah satu guru ngaji diniyah saya di pondok pesantren mahasiswi Al Husna menyampaikan petuah luar biasa di antara materi pembelajaran. Begitulah gaya beliau mengajar –yang saya suka– yaitu menyisipkan pelajaran atau nasihat kehidupan di sela-sela materi pembelajaran yang memang harus disampaikan.

Di kala hening tercipta di antara santri-santri yang sedang mencerna materi baru, Ustad Widodo tiba-tiba saja menyampaikan suatu hal tentang pernikahan. Beliau menyampaikan bahwa kita sebagai perempuan harus meminta pendapat dan persetujuan orang tua ketika hendak menikah. Hal ini menjadi pertimbangan yang amat sangat penting mengingat perempuan membutuhkan wali sebagai salah satu syarat sah pernikahan. Berbeda dengan laki-laki. Perempuan harus berdiskusi atau menjalin komunikasi penuh dengan orang tua terkait rencana pernikahan karena dari sana tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya akan berpindah tangan kepada laki-laki yang menikahinya. Terlepas dari gender laki-laki atau perempuan sepatutnya kita sebagai anak tetap mendiskusikan secara baik perihal besar seperti ini kepada ayah ibu kita selaku orang-orang penting yang telah berperan besar dalam hidup kita selama ini. Continue reading “Ridho Orang Tua adalah Segalanya”

Iklan

Kangen Rumah


Terhitung sudah dua bulan lebih beberapa hari saya berada di Malang yang berjarak lebih dari 100 km dari kota asal, Tulungagung. Meski dalam rentang waktu tersebut saya sempat pulang selama seminggu, tapi rasa itu tetap ada. Sebuah rasa kerinduan. Rindu segalanya tentang rumah. Baik suasananya, orang-orangnya, semuanya. Ah! Memang dasarnya saya anak rumahan. Jarang sekali keluar rumah. Jadi, berkumpul di rumah bersama keluarga kecil sudah menjadi santapan utama sehari-hari., Continue reading “Kangen Rumah”

“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”

Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Continue reading ““Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku””

Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya

rhbc_prod438081
From http://www.rhbabyandchild.com

Jauh, tapi nyata dan ada. Bukan fatamorgana, apalagi ilusi belaka. Kasihnya terasa hangat menyelimuti jiwa yang rapuh. Doanya tak pernah berhenti mengalir, menyejukkan jiwa, mengokohkan setiap asa yang ada.

Tak butuh remahan roti, anak panah, maupun petunjuk jalan untuk mencari cahaya rembulan sepertimu, ma…

Karena engkau ada di sini, selalu di sini, dan memang di sini.

Mungkin, darahmu masih mengalir di setiap pembuluh darahku. Bagaimana bisa aku harus mencarimu dulu?

Karena engkau ibuku. Malaikatku.

Memandangmu, bagaikan obat penyejuk hati.

Membuatmu terharu, tersenyum, dan bahagia adalah surgaku.

Tapi bukan berarti aku tak pernah membuatmu kecewa, marah, sedih ataupun menangis.

Maafkan aku ma, karena aku tak pernah menjadi malaikat untukmu.

Maafkan aku ma, karena aku tak bisa menjadi qurotul a’yun bagimu.

Maafkan aku ma, karena akulah penyebab jatuhnya air matamu.

Maafkan aku, maafkan aku. Continue reading “Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya”