“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”

Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Continue reading ““Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku””

Iklan

Aku Kamu Saya Anda

 

Ketika saya masih awam sekali untuk menulis tulisan baru di blog, saya bingung bahasa apa yang saya akan gunakan untuk berkomunikasi dengan readers.  Bingung antara menggunakan kata “aku” dan menyebut “kamu” untuk menyapa pembaca, atau pakai saya anda. Karena bingung dan tidak memiliki referensi kuat di antara keduanya, saya memutuskan untuk blog walking ke beberapa blog punya orang. Bahkan sampai tanya google segala hehe.

Beberapa blog memiliki bahasa yang variatif. Ada yang menggunakan aku-kamu, ada juga yang memakai saya-anda, bahkan ada yang menggunakan gue-elu supaya memberi kesan santai kepada pembaca. Dari Continue reading “Aku Kamu Saya Anda”

Kisah Puisi Tanpa Judul

Itsna sedang belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Di depannya sudah ada satu modul tebal berisi soal-soal latihan dan satu buku kosong tebal untuk media coret-coret dan berhitung. Itsna begitu serius mengerjakan soal dan membolak-balik buku kosong sampai ia menemukan beberapa potong kalimat indah di bukunya. Mungkin potongan-potongan itu disebut dengan puisi.

 

Siapa sangka zaman tersirat

Bukan di bawah bayang merdu Continue reading “Kisah Puisi Tanpa Judul”

Menghadapi Masa Depan

Huuufffttt. Umur kian bertambah nominalnya meski sejatinya jatah nafas sudah berkurang. Namanya juga hidup. Pasti kita akan menghadapi tuntutan hidup yang lebih banyak dan besar. Ibarat main game, semakin meningkatnya level maka tingkat kesulitan game semakin tinggi.

Kelas 3 SMA, tidak ada sebulan sudah UN. Belajar pun masih gini-gini aja. Jujur, saya lebih senang belajar SBMPTN karena menurut saya itu lebih bermanfaat daripada sekedar UN. Nilai UN tidak berarti. Asalkan lulus dan nilai biasa-biasa saja. Kalau SBMPTN? Itu lebih penting karena sebagai penentu masuk tidaknya ke PTN favorit. Tapi hingga detik ini saya masih sedikit sekali belajar SBMPTN. Sering- Continue reading “Menghadapi Masa Depan”

Pacar Nggak Balas Chat? Berasa Udah Kiamat

Pacar Nggak Balas Chat, Berasa Sudah Kiamat

Mungkin judul yang saya angkat ini terlalu lebay atau gimana. Tapi entahlah! Saya sempat pusing dengan hal ini. Apalagi kalau bukan soal pacaran. Bukan saya yang pacaran. Tapi temen. Hehe

Beberapa hari yang lalu adalah hari yang indah. Sekolah jam kosong (istilahnya sudah pindah nggon turu*), pulang siang, makan siang gratis dan pulang cepat. Rasanya menyenangkan aja karena otak tidak digunakan untuk memproses pelajaran yang super melelahkan. Sehabis pulang, saya mengcharger handphone dan bersiap-siap akan bocan alias bobok cantik. Hingga rencana saya untuk tidur gagal karena tiba-tiba seseorang mengirim pesan chat ke bbm saya. Dengan malas saya meraih handphone yang masih terhubung kabel charger. Di layar handphone dengan daya tinggal 29% itu, pacar teman saya mengirim chat yang isinya,
Continue reading “Pacar Nggak Balas Chat? Berasa Udah Kiamat”

Bukan Komentar yang Ditunggu

Hampir setiap kali saya check in di blog ini. Berharap ada satu dua komentar yang nyangkut di sini. Namun sayang seribu sayang. Rupanya jejak tertinggal pengunjung tidak pernah saya jumpai. Padahal trafik blog ini cukup tinggi namun jarang ada komentar yang ditinggalkan pengunjung. Mungkin inilah karma bagi saya yang sudah sekian tahun melupakan blog ini dan tidak menanggapi komentar-komentar pembaca. Hehe 🙂

Continue reading “Bukan Komentar yang Ditunggu”