Setitik Harapan Kala Itu

Malamnya kota Malang. Foto dari elektro.um.ac.id

“Nol! Apakah takdir kita akan benar-benar di sini bersama-sama?”, tanya Alya saat berjalan di terotoar pada malam hari di kota Malang. Kala itu, kami berharap untuk tidak berjauhan saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Iya, Yen! Aku pengen supaya kita sekolah di sekolah yang sama lagi. Agar kita bisa sama-sama saling menguatkan dalam keistiqomahan. 

***

“Jadi beberapa dari kalian akan mengikuti lomba untuk mewakili sekolah.”, ujar Bu Muna sembari memegang selembar kertas di hadapannya. “Ini mandat dari sekolah. Bu Muna disuruh memilih beberapa dari kalian. Jadi buat pengalaman ya.”, tambah beliau kemudian.

Pagi itu, selepas setoran mengaji, Bu Muna memberikan pengumuman pada seluruh muridnya. Beberapa waktu kemudian akan diadakan lomba dengan tema Al Quran di Universitas Malang. Lombanya bermacam-macam seperti lomba kaligrafi, karya tulis ilmiah, tartil, debat sampai hafalan. Responku biasa saja waktu mendengar berita tersebut.

“Itsna sama Alya ikut ya.”, ujar Bu Muna setelah menunjuk beberapa murid lain. Aku mlongo.
Lanjutkan membaca “Setitik Harapan Kala Itu”

Iklan

Serangkai Kisah di Pondok Quran #4 – Kepulangan Kali Pertama

Mondok adalah pengalaman yang luar biasa baru bagiku. Pertama kalinya jauh dari orang tua. Lalu aku mulai mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Malang, Pasuruan, Lampung, Palembang, hingga NTT. Jujur saja, aku dahulu kala hampir tidak memiliki teman. Teman-temanku dulu hanya sebatas teman sekolah. Aku memang anak rumahan yang tidak tahu keasyikan dunia luar.

Aku merasakan malam pertama tidur di pondok hingga tak terasa satu bulan berlalu. Rumor-rumor perizinan pulang mulai berseliweran. Maklum saja dikarenakan kalender sudah menghabiskan usia November dan akan melahirkan Desember sekaligus pertanda akhir tahun menjelang. Musim libur semester yang sering dinantikan mbak-mbak mahasiswi pun akan segera dimulai. Mereka nampak bersorak kegirangan demi menyambut liburan. Tinggal menunggu pengumuman Abah Yai perihal kapan diperbolehkan pulang. Lanjutkan membaca “Serangkai Kisah di Pondok Quran #4 – Kepulangan Kali Pertama”

Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang

Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa.

Lanjutkan membaca “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang”

Santri Khilaf

Pada suatu hari, Ibuk memberikan bukti cintanya berbentuk kiriman jatah bulanan. Ibuk mengabari saya lewat Whatsapp. Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira semacam ini.

Hari ini, Jumat, merupakan hari libur pondok. Ketika saya sedang bersantai sejenak melepas kesibukan hafalan, teman sekamar, Intan, mengajak saya ke toko buku Gramedia. Mata saya langsung berbinar senang. Kebetulan saya sedang ingin membeli buku Reach Your Dreams karya Wirda Mansur. Sedangkan Intan hanya ingin membeli buku LKS demi kebutuhan sekolah.

Lanjutkan membaca “Santri Khilaf”

Mengenal Uzbekistan bersama Kesebelasan GenHalilintar

Kesebelasan GenHalilintar, Uzbekistan Negara Sahabat. Sinopsis buku Kesebelasan GenHalilintar, Uzbekistan Negara Sahabat.

Siapa yang tidak kenal Gen Halilintar? Keluarga besar yang membuat orang tercengang karena terdiri dari ayah ibu dan sebelas orang anak. Keluarga besar ini sempat trend dan nangkring di berbagai media dan namanya semakin dikenal publik. Sebagai keluarga yang menginspirasi, alhasil Gen Halilintar menulis buku yang mengungkap tentang kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu dari buku yang sudah saya baca adalah Uzbekistan Negara Sahabat setelah sebelumnya sempat membaca buku Kesebelasan GenHalilintar.

Buku Uzbekistan Negara Sahabat bukan seperti novel atau cerita apalah. Buku terbitan GenHalilintar ini semacam jurnal perjalanan dibanding dengan novel. Dari buku ini, kita seperti diajak jalan-jalan di Uzbekistan bersama GenHalilintar. Seperti yang dijelaskan dalam buku ini bahwasanya antara Uzbekistan dan Indonesia memiliki hubungan sejarah dan budaya yang rapat walau sempat berpisah sekian lama hingga tidak saling kenal. Dikatakan Soekarno, presiden pertama RI, pernah berkunjung ke Lanjutkan membaca “Mengenal Uzbekistan bersama Kesebelasan GenHalilintar”

Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.

Pukul 7 pagi, Ibuk berkoar-koar bahwa beliau merindukan nasi pecel. Ibuk ingin makan nasi pecel. Akhirnya, Ibuk merealisasikan impiannya tadi dengan menyuruh saya membeli pecel. Karena kota kecil saya sudah bertebaran warung pecel yang buka setiap pagi, jadi tidak sulit untuk mencari warung pecel terdekat. Apalagi lokasi rumah saya yang begitu strategis di tengah pusat kota. Yang susah adalah mencari warung pecel yang sepi pelanggan. Hampir semua atau bahkan semua warung pecel ramai pembeli.

Jam 7 pagi sudah saya anggap terlalu siang untuk mendambakan nasi pecel. Belum terlambat sih. Hanya saja warung pecel yang ramai sekali dengan antrean bejibun yang membuat saya males. Membayangkan bagaimana harus menunggu itu sudah capek. Apalagi kalau menunggu beneran. Namun demikian saya Lanjutkan membaca “Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.”

“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”

Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Lanjutkan membaca ““Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku””