Serangkai Kisah di Pondok Quran #2

Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa. Continue reading “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2”

Iklan

Santri Khilaf

Pada suatu hari, Ibuk memberikan bukti cintanya berbentuk kiriman jatah bulanan. Ibuk mengabari saya lewat Whatsapp. Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira semacam ini.

Hari ini, Jumat, merupakan hari libur pondok. Ketika saya sedang bersantai sejenak melepas kesibukan hafalan, teman sekamar, Intan, mengajak saya ke toko buku Gramedia. Mata saya langsung berbinar senang. Kebetulan saya sedang ingin membeli buku Reach Your Dreams karya Wirda Mansur. Sedangkan Intan hanya ingin membeli buku LKS demi kebutuhan sekolah.

Continue reading “Santri Khilaf”

Mengenal Uzbekistan bersama Kesebelasan GenHalilintar

Kesebelasan GenHalilintar, Uzbekistan Negara Sahabat. Sinopsis buku Kesebelasan GenHalilintar, Uzbekistan Negara Sahabat.

Siapa yang tidak kenal Gen Halilintar? Keluarga besar yang membuat orang tercengang karena terdiri dari ayah ibu dan sebelas orang anak. Keluarga besar ini sempat trend dan nangkring di berbagai media dan namanya semakin dikenal publik. Sebagai keluarga yang menginspirasi, alhasil Gen Halilintar menulis buku yang mengungkap tentang kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu dari buku yang sudah saya baca adalah Uzbekistan Negara Sahabat setelah sebelumnya sempat membaca buku Kesebelasan GenHalilintar.

Buku Uzbekistan Negara Sahabat bukan seperti novel atau cerita apalah. Buku terbitan GenHalilintar ini semacam jurnal perjalanan dibanding dengan novel. Dari buku ini, kita seperti diajak jalan-jalan di Uzbekistan bersama GenHalilintar. Seperti yang dijelaskan dalam buku ini bahwasanya antara Uzbekistan dan Indonesia memiliki hubungan sejarah dan budaya yang rapat walau sempat berpisah sekian lama hingga tidak saling kenal. Dikatakan Soekarno, presiden pertama RI, pernah berkunjung ke Continue reading “Mengenal Uzbekistan bersama Kesebelasan GenHalilintar”

Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.

Pukul 7 pagi, Ibuk berkoar-koar bahwa beliau merindukan nasi pecel. Ibuk ingin makan nasi pecel. Akhirnya, Ibuk merealisasikan impiannya tadi dengan menyuruh saya membeli pecel. Karena kota kecil saya sudah bertebaran warung pecel yang buka setiap pagi, jadi tidak sulit untuk mencari warung pecel terdekat. Apalagi lokasi rumah saya yang begitu strategis di tengah pusat kota. Yang susah adalah mencari warung pecel yang sepi pelanggan. Hampir semua atau bahkan semua warung pecel ramai pembeli.

Jam 7 pagi sudah saya anggap terlalu siang untuk mendambakan nasi pecel. Belum terlambat sih. Hanya saja warung pecel yang ramai sekali dengan antrean bejibun yang membuat saya males. Membayangkan bagaimana harus menunggu itu sudah capek. Apalagi kalau menunggu beneran. Namun demikian saya Continue reading “Lelahnya nungguin antrean pecel. Apalagi nungguin kamu.”

“Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku”

Sampai detik ini, aku masih menyukai hujan. Mungkin ada banyak sekali alasan yang melatar belakangi mengapa aku bisa sebegini cintanya pada hujan. Mungkin, kamu adalah salah satu alasannya.

Alkisah pada suatu hujan di malam hari, kamu terdampar dan terpaksa di rumahku. Hujan harus reda supaya kamu bisa pulang. Jadi, kamu harus menunggu hujan di rumahku. Betapa tidak masuk akalnya alasan ini sampai-sampai membuatku mencintai hujan? Tapi nyatanya, Allah seperti memberikan hujan agar kamu tertahan di rumahku. #geer #kebangetan

Continue reading ““Karena hujan pernah menahanmu di sini, untukku””

Menikmati Setiap Proses

1
One of notifications

Pemberitahuan: 2200 penayangan.

Penayangan hari ini : 7

Penayangan kemarin : 8

Itulah sederet kata yang selalu saya lihat setiap hari. Rasa penasaran saya akan sebuah blog selalu terletak pada statistik yang tak pernah lelah menghitung jumlah kunjungan. Ketika melihat hasil statistik, saya sudah memaklumi bahwasanya untuk sebuah blog baru sudah menjadi kewajaran jika sepi pengunjung. Meski postingan di blog sudah banyak sekalipun, karena blog masih baru, pengunjungnya hanya dalam hitungan jari. Itulah yang dinamakan proses.

Saat ini saya sedang mengembangkan blog baru di Blogger. Ingin mencoba suasana baru saja karena di WordPress sudah bertahun-tahun merasakan sensasinya. Di Blogger, saya ingin flashblack pengalaman saya pertama kali ngeblog alias mulai dari nol lagi. Semunya tidak mudah. Harus terus menerus menulis dan berinovasi Continue reading “Menikmati Setiap Proses”

Menghadapi Masa Depan

Huuufffttt. Umur kian bertambah nominalnya meski sejatinya jatah nafas sudah berkurang. Namanya juga hidup. Pasti kita akan menghadapi tuntutan hidup yang lebih banyak dan besar. Ibarat main game, semakin meningkatnya level maka tingkat kesulitan game semakin tinggi.

Kelas 3 SMA, tidak ada sebulan sudah UN. Belajar pun masih gini-gini aja. Jujur, saya lebih senang belajar SBMPTN karena menurut saya itu lebih bermanfaat daripada sekedar UN. Nilai UN tidak berarti. Asalkan lulus dan nilai biasa-biasa saja. Kalau SBMPTN? Itu lebih penting karena sebagai penentu masuk tidaknya ke PTN favorit. Tapi hingga detik ini saya masih sedikit sekali belajar SBMPTN. Sering- Continue reading “Menghadapi Masa Depan”