Serangkai Kisah di Pondok Quran #2

Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa. Continue reading “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2”

Iklan

Serangkai Kisah di Pondok Quran #1

“Mbak Hik, ojo boyong.”, ucap Halimah sehabis berdoa setelah solat. Ia langsung menjabat tanganku erat-erat Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian ia membenamkan wajahnya di punggung tanganku seraya menangis tanpa suara.

***

23 Oktober 2016 adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Setelah sekitar lima bulan menanti tanpa daya dan guna di rumah, akhirnya Abah menemukan pondok yang cocok untukku. Namanya PPTQ Nurul Furqon Putri Malang. Lokasinya strategis karena di tengah kota, juga di sekitar pasar. Jadi, untuk mencari kebutuhan hidup sudah gampang sekali. Abah, Ibuk dan kedua adikku mengantarkanku bersama menggunakan mobil. Begitu sampai di lokasi, langsung terasa hiruk pikuk pasar besar kota malang yang super. Banyak sekali orang dengan kesibukan masing-masing. Tak jarang terjadi kemacetan di sekitar pasar. Utamanya ketika ada mobil yang ingin memarkirkan diri di sana. Salah satunya adalah mobil keluargaku. Continue reading “Serangkai Kisah di Pondok Quran #1”