Aku…

​Aku…

Aku suka menulis. Karena menulis adalah ungkapan dariku yang tak sanggup terbuka begitu saja kepada orang lain.

Aku suka menulis karena jiwaku membutuhkan wadah untuk mengungkapkan apa yang ia rasa.

Aku suka menulis. Bukan karena egois, tapi hanya ingin menjelaskan betapa indah hidup ini lewat tulisan.

Andai seranai rindu bisa terobat dengan menulis, aku tak akan pernah berhenti menulis untuk menyembuhkan rasa rindu ini.

Iklan

Kisah Puisi Tanpa Judul

Itsna sedang belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Di depannya sudah ada satu modul tebal berisi soal-soal latihan dan satu buku kosong tebal untuk media coret-coret dan berhitung. Itsna begitu serius mengerjakan soal dan membolak-balik buku kosong sampai ia menemukan beberapa potong kalimat indah di bukunya. Mungkin potongan-potongan itu disebut dengan puisi.

 

Siapa sangka zaman tersirat

Bukan di bawah bayang merdu Continue reading “Kisah Puisi Tanpa Judul”

Inilah pemandanganku, Sebuah Puisi Kehidupan

Ini pemandanganku
Seperti desir desir bisu
Kan memuncakkan gurat beda
Beda atau sama
Bukan untuk sepotong kata

Ini  pemandanganku
Bukan seperti taman surga
Bukan pula bak hentakan hina
Terjerat pilu kisah tanah
Tak setinggi awang Arsyi

Mungkin
Inilah pemandanganku
Percaya, bukti, tidak perlu
Jikalau bukan letak hati yg berserah
Niscaya langkah ini tidak mungkin sesama dulu.

Ini pemandanganku
Beda dengan pemandanganmu
Bukan cahaya tampak
Namun hati yang dipeluk ikhlas
-Itsnahm, 23 Februari 2016
***
Akhir-akhir ini aku mulai menyukai apa itu puisi. Setiap senggang, kusempatkan sekian detik untuk merangkak puisi. Bukan! Bukan sekedar karena senggangnya waktu, namun ada hal lain yang terjadi. Bisa dikatakan masalah.
Yaaahh. Hubungan horizontal alias dengan sesama hamba Allah memang tidak selalu baik-baik saja. Kadang ada hal-hal yang menimbulkan kesalahpahaman. Hingga pada akhirnya, yang dulu kenal dan akrab sekarang seperti siswa pertama kali masuk sekolah dan tengah menjalani MOS. Kalau pertama kali masuk sekolah kita bertemu orang-orang baru yang saling bertegur sapa, kalau ini beda. Kita jadi berjauhan. Tidak menyapa atau cerita-cerita tidak jelas seperti biasanya.
Karena kita adalah perempuan, berakal satu tapi berperasaan sembilan, setiap masalah yang ada selalu pakai hati. Sulit bagi perempuan menggunakan otaknya untuk segala masalah. Hal yang sanggup dilakukan oleh kita sebagai perempuan adalah menangis. Yaps! Wajar kan kalau kita menangis? Terutama jika air mata ini mendesak keluar dan tumpah begitu saja ketika menghadapi orang yang kita sayangi?
Mungkin ada yang beda dengan cara pandang kita mengenai dunia. Dulu, aku mengira kita memiliki satu pandangan yang sama. Istilahnya adalah satu pemikiran. Ternyata baru kusadari sekarang. Kita ini memang berbeda. Tidak pernah sama. Sekalipun satu sama lain menganggap baik-baik saja. Nyatanya tampilan luar tidak menjamin apa yang ditampilkan di dalam.
Entahlah! Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku sampai mengecewakan hatinya.
Maafkan aku, wahai teman. Semoga pertemanan dan persahabatan kita ini bermuara ke surga. Dan semoga masalah ini membuat kita menjadi berpikir lebih dewasa dalam menjalani hidup. Aamiin aamiin.*
*Diedit pada Jumat, 26 Februari 2016

Aku Bercerita

Aku bercerita
Tentang sang penjaga
Melewati larik-larik hujan
Dalam embun hati yang terjaga

Titik
Cerita suatu hari
Enggan berbagi dalam hujan
Meski alkisah itu telah terbentang

Pungguk mengisahkan cintanya
Dibalik elok hujan bercerita
Kala gerimis luka mulai terjatuh
Menetes lembut
Dari hulu hati yang meletakkan

Kini
Cerita hampir usai
Bukan karena derasnya yang tesuh
Ataupun rintiknya yang merindu
Namun satu hal yang harus aku relakan
Hujan ini
Sudah selesai

Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya

rhbc_prod438081
From http://www.rhbabyandchild.com

Jauh, tapi nyata dan ada. Bukan fatamorgana, apalagi ilusi belaka. Kasihnya terasa hangat menyelimuti jiwa yang rapuh. Doanya tak pernah berhenti mengalir, menyejukkan jiwa, mengokohkan setiap asa yang ada.

Tak butuh remahan roti, anak panah, maupun petunjuk jalan untuk mencari cahaya rembulan sepertimu, ma…

Karena engkau ada di sini, selalu di sini, dan memang di sini.

Mungkin, darahmu masih mengalir di setiap pembuluh darahku. Bagaimana bisa aku harus mencarimu dulu?

Karena engkau ibuku. Malaikatku.

Memandangmu, bagaikan obat penyejuk hati.

Membuatmu terharu, tersenyum, dan bahagia adalah surgaku.

Tapi bukan berarti aku tak pernah membuatmu kecewa, marah, sedih ataupun menangis.

Maafkan aku ma, karena aku tak pernah menjadi malaikat untukmu.

Maafkan aku ma, karena aku tak bisa menjadi qurotul a’yun bagimu.

Maafkan aku ma, karena akulah penyebab jatuhnya air matamu.

Maafkan aku, maafkan aku. Continue reading “Sajak untuk Mama – Kerinduan Seorang Putri terhadap Ibundanya”

Jebakan Puisi – Logika Gagal

Kembalikan Indonesia Padaku

kepada Kang Ilen

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagiann hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Puisi di atas terdapat dalam simulasi UN Bahasa Indonesia SMA terbitan Erlangga tahun 2011. Terdapat tiga pertanyaan yang sesuai dengan puisi di atas dan jawaban saya atas ketiganya salah semua.

Continue reading “Jebakan Puisi – Logika Gagal”

Bukan untuk Merasa Sudah – Sebuah Puisi

Pada suatu hari yang cerah, saya mengikuti pelajaran kelas seperti biasa. Saat itu pelajaran yang saya ikuti adalah Bahasa Indonesia. Guru saya menerangkan materi tulisan esai. Apa itu esai? Esai adalah tulisan yang berdasarkan opini atau pendapat penulis terhadap suatu hal. Awalnya saya bingung dengan apa itu esai. Tapi lama-lama saya paham juga karena ternyata apa-apa yang saya tulis di blog merupakan tulisan esai.

Kembali ke cerita. Saat itu guru saya membuat rolling barangsiapa yang mendapat satu kosakata tersebut maka ia harus membuat tulisan esai dengan tema yang sesuai dengan kosakata tersebut. Mirisnya, selain Continue reading “Bukan untuk Merasa Sudah – Sebuah Puisi”

Puisiku – Seberkas Cahaya

Seberkas CahayaSaat merenung
Kulihat isi hatiku
Kulihat semua cinta kasihku
Kulihat semua kekesalanku
Yang bercampur aduk
Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam

Terkadang…
Kuingin menghilangkan kekesalanku
Kuingin menghilangkan rasa dendamku
Yang terselip diantara rajutan – rajutan hatiku

Kuingin seberkas cahaya
Yang muncul di dalam hati
Untuk memusnahkan penyakit hati
Karena kuingin
Hati yang penuh rasa kasih sayang

Kata-kata mutiara

Saya punya kata-kata mutiara nih. Atau mungkin kata-kata bijak. Berikut ini adalah kata-kata mutiara buatan saya sendiri.

Kita menjadi pintar karena dua hal, yaitu membaca dan menulis.

Suatu hal akan baik untuk kita jika kita memanfaatkan dengan baik.

Dua kalimat di atas adalah kata-kata mutiara buatan saya sendiri. Kalau kata-kata mutiara lainnya….

Saya tak pernah takut hari esok, karena saya sudah melihat hari kemarindan saya mencintai hari ini.

Bila sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, terimalah sebagai bagian tanggung jawab.

Kebahagiaan adalah jika apa yang anda pikirkan, apa yang anda katakan, apa yang anda lakukan berada dalam keharmonisan.

Orang yang paling bahagia adalah orang yang memikirkan hal-hal menarik.

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai.

Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusuhan dan pengkhianatan.

Belajarlah dari kesalahan orang lain, anda tidak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri.

Memaafkan adalah bentuk cinta yang paling tinggi dan paling indah. Sebagai imbalannya, anda akan bisa menerima kebahagiaan dan kedamaian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Kata-kata mutiara di atas semoga bermanfaat bagi pebaca blog BaCaAnKu ini… 🙂