Ridho Orang Tua adalah Segalanya

Ridho Orang Tua adalah Segalanya

Kemarin, 11 November 2017, Ustad Ari Dwi Widodo S.Pd.I, M.Pd.I selaku salah satu guru ngaji diniyah saya di pondok pesantren mahasiswi Al Husna menyampaikan petuah luar biasa di antara materi pembelajaran. Begitulah gaya beliau mengajar –yang saya suka– yaitu menyisipkan pelajaran atau nasihat kehidupan di sela-sela materi pembelajaran yang memang harus disampaikan.

Di kala hening tercipta di antara santri-santri yang sedang mencerna materi baru, Ustad Widodo tiba-tiba saja menyampaikan suatu hal tentang pernikahan. Beliau menyampaikan bahwa kita sebagai perempuan harus meminta pendapat dan persetujuan orang tua ketika hendak menikah. Hal ini menjadi pertimbangan yang amat sangat penting mengingat perempuan membutuhkan wali sebagai salah satu syarat sah pernikahan. Berbeda dengan laki-laki. Perempuan harus berdiskusi atau menjalin komunikasi penuh dengan orang tua terkait rencana pernikahan karena dari sana tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya akan berpindah tangan kepada laki-laki yang menikahinya. Terlepas dari gender laki-laki atau perempuan sepatutnya kita sebagai anak tetap mendiskusikan secara baik perihal besar seperti ini kepada ayah ibu kita selaku orang-orang penting yang telah berperan besar dalam hidup kita selama ini. Continue reading “Ridho Orang Tua adalah Segalanya”

Iklan

Malam ketika Mengingat Kematian

wp-1503209899080.
Kitab Kasyifatussaja warna ungu.

Ba’da maghrib acara di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna di Jember masih seperti biasa. Selepas tadarus ringan di juz satu, para santri bergegas mengambil kitab Kasyifatussaja. Pada kesempatan kali ini Ibu Nyai sendiri yang mengisi acara ngaos kitab karena Bapak Yai yang masih menjalani ibadah haji. Malam ini, Ibu membahas tentang bab kematian.

Setiap manusia pasti akan menghadapi sakaratul maut. Entah seperti apapun hal-hal yang dilakukan semasa hidup ditentukan di sakaratul maut. Penentuan nasib seorang hamba di akhirat kelak apakah baik atau buruk ditentukan ketika sakaratul maut. Maka dari itu, seseorang yang sedang menghadapi pedihnya sakaratul maut perlu dibimbing oleh orang lain seperti misalnya sanak saudara. Ketika seseorang sedang tersiksa oleh sakaratul maut, setan mulai berdatangan menawarkan berbagai macam hal-hal berharga dengan jaminan akan menghilangkan rasa sakit yang luar biasa jika orang tersebut mau menerima Continue reading “Malam ketika Mengingat Kematian”

Secuil Peringatan

Tadi aku sedang asyik nderes. Kala itu, aku membaca juz 4 usai solat dhuhur berjamaah. Tepatnya adalah surat Ali Imron. Aku membaca perlahan dengan maksud agar tulisan ayat-ayat yang pernah susah payah aku hafalkan itu tidak terlupa. Saking pelannya membaca, kadang napas tidak kuat dan mengakibatkan bacaan salah. 

Ketika membaca satu ayat, aku benar-benar merasakan bahwa ayat yang kubaca salah. Aku pun benar-benar tahu dimana letak kesalahan yang kubaca. Tapi aku tetap melanjutkan membaca ayat tersebut hingga selesai. Baru saja ayat itu selesai kubaca, tiba-tiba seseorang di sebelah kananku duduk menegur.  Continue reading “Secuil Peringatan”

Rasa Kantuk ketika Beribadah

Aku bangun sekitar jam 3 dini hari. Sekalinya bangun, aku langsung menguatkan raga menuju kamar mandi. Mandi adalah hal pertama yang wajib dilakukan bagiku sebelum solat malam. Setelah bertarung dengan dinginnya air, aku melaksanakan sunah-sunah yang aku ketahui untuk mengisi sepertiga malam terakhir. Dilanjutkan dengan nderes tipis-tipis. Tak jarang dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunah, rasa kantuk berdatangan. Ia menggoda siapa pun yang menggigit sunah dengan gigi gerahamnya untuk kembali membuai mimpi di atas pembaringan. Diri ini harus memutar otak melawan hawa nafsu mengantuk dengan berbagai cara salah satunya adalah nderes sambil berdiri dan jalan-jalan. Bisa juga dengan pindah-pindah tempat atau bercermin. Bisa juga nderes sambil ngemil. Intinya, aku berusaha sebisa mungkin agar meminimalisir rasa kantuk sebisa mungkin.  Continue reading “Rasa Kantuk ketika Beribadah”

Kebenaran dari Aku

wp-1495596542373.
From Xiaomi Wallpaper

Berbagi opini mengenai kehidupan setelah di pondok pesantren.

Pulang!

Siapa yang tidak menginginkan pulang setelah hidup sekian lama jauhnya dari kampung halaman. Entah mengapa, seminggu sebelum Ramadhan, aku ditakdirkan pulang karena suatu urusan.

Hari pertama setelah pulang, aku tidak bisa bangun tahajud. Alarm hp yang selama ini mampu membangunkanku pagi buta ketika di pondok, justru tidak mempan membangunkanku ketika di rumah. Aku memang terbangun. Mataku terbuka walau tidak seutuhnya. Namun, bangunku dari kesadaran hanya untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.

Hari kedua, aku kembali kehi;angan tahajudku. Aku memang terbangun dengan alarm hp. Namun, aku terbangun sejenak untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi. Hari ketiga dan keempat juga bernasib sama. Aku benar-benar kehilangan tahajud, senjata terkuatku untuk mengarungi dunia, ketika aku berada di rumah. Continue reading “Kebenaran dari Aku”

Menghafal tapi Tidak Hafal Hafal

Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal

Tetap “ISTIQAMAH” menghafal, meskipun TAK HAFAL-HAFAL, barangkali lewat pintu itu, Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya…

Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan anda.

Al-Qur’an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah anda menghafal untuk mencari kebaikan.

Ketika Anda menghafal Al-Qur’an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat? Continue reading “Menghafal tapi Tidak Hafal Hafal”

Jangan Sampai Kita Terpecah Belah karena Perbedaan

*JANGAN HANCURKAN DAKWAH DENGAN SIKAPMU YANG NGAWUR DAN TIDAK DEWASA*

Renungan Gus Mus (KH MUSTHOFA BISRI)        

  

Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya *umat Islam* yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya… Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan…. Tapi begitulah sifat anak2 kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri Continue reading “Jangan Sampai Kita Terpecah Belah karena Perbedaan”