Koin Webtoon dan Analisa Profit

Pada suatu malam, di malam minggu, saya sedang mengalami kegabutan yang luar biasa. Setelah buka-tutup berbagai macam aplikasi di smartphone, saya berhenti pada Webtoon. Kebetulan, pada malam minggu, berbagai macam serial Webtoon favorit saya update. Setelah khatam membaca semua serial favorit, saya iseng membuka menu More pada kanan bawah layar. Menu yang saya buka ternyata berisi koin Webtoon

Setelah kalap memakai koin untuk membuka episode berbayar di serial favorit

Seingat saya, koin Webtoon dulunya hanya dapat dibeli dengan pembayaran melalu Google Play. Tapi untuk sekarang, pembayaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu pulsa Telkomsel, kartu kredit, bahkan yang terbaru adalah dengan Gopay yang sedang promosi dengan cashback 100% hingga 9 September 2019. Karena sedang iseng, saya menggunakan metode pembayaran dengan pulsa Telkomsel. Saya membeli 100 koin Webtoon dengan harga Rp15000,- dan ternyata harga tersebut belum termasuk pajak. Alhasil, pulsa saya terpotong Rp16800,- pada transaksi ini.

Untuk pembelian koin Webtoon ini cukup gampang. Tinggal klik pilihan koin beserta harganya dan pilihan metoda pembayaran akan muncul. Login akun Google dibutuhkan ketika menggunakan pembayaran dengan pulsa Telkomsel.

Setelah mendapatkan 100 koin Webtoon, saya langsung menggunakannya untuk membaca serial Suddenly I Became A Princess dan The Secret of Angel.

Koin Webtoon ini rupanya memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan keuntungan pada Webtoon berdasarkan strategi pemasaran mereka. Webtoon sendiri menyediakan beberapa episode di atas episode yang resmi dirilis. Episode episode tersebut ditampilkan secara tumbnail dan ada harga tertentu jika ingin membacanta. Misal 100 koin seharga Rp15000,- , maka 10 koin sama dengan harga Rp150,-. Seandainya ada 1000 saja pembaca Webtoon yang penasaran dan membeli episode yang belum dirilis secara resmi, maka Webtoon dapat mengantongi 1000 x Rp150,- = Rp150.000,-. Webtoon merupakan pangsa komik online yang cukup menjanjikan bagi creator yang berkontribusi (mungkin). Ambil contoh serial The Secret of Angel yang jumlah like-nya sendiri adalah lebih dari 99.999 kali. Otomatis pembaca setia serial ini pasti banyak sekali. Jika misal ada 100.000 pembaca yg ingin membeli episode yang belum dirilis secara resmi karena penasaran dengan harga 10 koin, maka Webtoon dapat mengantongi sekitar 100.000 x Rp150,- = Rp15.000.000,- . Itu masih contoh satu serial komik. Masih banyak lagi serial webtoon favorit dengan harga episode unreleased sekitar 10 hingga 12 koin.

Pergeseran Makna Kata

Salah Tangkap Makna

Gambar dari Netflix

Saya sangat mencintai bahasa daerah saya yaitu bahasa Jawa. Selain sebagai penutur bahasa Indonesia untuk kebutuhan pendidikan, saya lebih sering menggunakan bahasa Jawa karena dianggap lebih mengekspresikan apa yang saya rasakan. Istilah lainnya, dengan bahasa Jawa, apa yang saya sampaikan bisa lebih dalam lagi untuk diterima terutama oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Tapi, terkadang bahasa daerah tidak bisa diartikan dengan tepat ke dalam bahasa Indonesia seperti contoh kecil ketika Raditya Dika membawa konten kisah viral KKN Desa Penari pada channel Youtube-nya. Teman di samping Raditya Dika yang kala itu menjadi story teller KKN Desa Penari menerjemahkan salah satu percakapan dalam dalam bahasa Jawa dengan sebutan “anak cantik” dan “anak bagus”. Padahal dalam bahasa Jawa, penggunaan kata “cah ayu” untuk perempuan atau “cah bagus” untuk laki-laki tidak bisa serta merta diterjemahkan secara demikian dalam bahasa Indonesia. Saya sebagai penutur bahasa Jawa agak geli mendengar kalimat terjemah dari “cah ayu” tersebut karena pada dasarnya, kalimat-kalimat tersebut hanya berupa sapaan sekelas “hei”, “halo”, dan lain-lain.

Lanjutkan membaca “Pergeseran Makna Kata”

Belajar Sedikit Lebih Peka

Pagi hari, sekitar pukul setengah 10, saya sedang bersantai setelah sebelumnya menikmati tayangan-tayangan Youtube tentang horror story ketika mendaki gunung dari channelnya Dzawin. Handphone saya tinggal dalam keadaan sedang dicharger. Sebenarnya, saya berencana untuk one day without handphone hari ini ketika ternyata ada beberapa misscall dan chat yang meneror handphone saya. Ternyata, grup official pondok di Whatsapp sedang sedikit ramai dengan chat dari Bapak Yai.

Cerita bermula saat saya mendapat tugas untuk mengurus data seluruh santri. Tugasnya cukup mudah yaitu cukup dengan mengumpulkan data seluruh santri. Agak ribet sedikit karena ada beberapa ejaan nama yang salah. Setelah semua sudah selesai, saya diminta untuk mengirimkan data tersebut ke email salah seorang kenalan Bapak Yai di Jakarta untuk kepentingan tertentu. Saya mengirimkan data berupa file dengan format Word pada saat itu.

Hari ini, ternyata Bapak Yai sudah menghebohkan sedikit penghuni grup Whatsapp santri. Beliau memberitahu bahwa kenalannya dari Jakarta tersebut meminta dikirim ulang data santri dalam file bentuk lain yaitu file dengan format Excel. Saya langsung sigap dan tanggap. Beruntungnya saya sudah dibekali dengan laptop Xiaomi 13’3 inch yang pemakaiannya lumayan kenceng untuk mengolah data-data seperti ini alias tidak lemot, ngelag, dan semacamnya. Tidak sampai 5 menit, saya sudah berhasil mengirimkan file format Excel yang diminta ke alamat email yang dituju.

Bapak Yai saya bukan berangkat dari zaman milenial. Beliau adalah pria paruh baya yang baru saja menikmati kecanggihan teknologi. Selain karena tuntutan zaman, profesi lain beliau sebagai dosen mengharuskan Bapak Yai untuk bisa mengakrabkan diri dengan laptop untuk masalah pekerjaan dan handphone sebagai komunikasi. Hemat saya, Bapak Yai tidak terlalu sering bermain handphone apalagi sampai berkirim pesan lewat chat. Jadi, terkadang di suatu kesempatan, ada beberapa kalimat yang Bapak Yai kirimkan lewat chat grup tidak langsung dipahami oleh santrinya. Entah itu karena singkatan suatu kata yang tidak dipahami atau kurang lebihnya tanda baca untuk kalimat. Maklum, Bapak Yai lebih mencintai ilmu dan seisinya dibanding berjam-jam melihat layar handphone. Bagi beliau, kitab-kitab yang berjajar di perpustakaan mininya lebih menyenangkan untuk didalami ketimbang mainan handphone dan stalking gak jelas ala anak milenial.

Hari ini, Bapak Yai saya mengirim pesan chat di grup seperti ini,

Saya pun segera membalas bahwa file yang diminta sudah dikirimkan. Tak lupa untuk membalas chat Bapak Yai di grup untuk mengonfirmasi bahwa saya sudah selesai mengirim file. Tapi, pada saat itu sebenarnya saya masih sempat berpikir. Bapak Yai sempat menulis kata “tks” pada chat beliau. Saya bingung apa arti dari kata tersebut. Saya sebagai santri takut jika ada kesalahpahaman di chat. Bisa jadi kata “tks” adalah singkatan dari suatu hal yang berpengaruh penting dalam pengiriman file. Otak saya masih berpikir keras untuk menemukan maksud Bapak Yai pada kata “tks” tersebut sebelum Bapak Yai membalas chat saya di grup,

Ealah, “tks” itu maksudnya Thanks toh. Kadung lekku mikir jeru. Hehe. Sebagai santri solehah, saya pun memberikan balasan yang baik dong.

Beginilah! Saya memang lebih menyukai obrolan langsung daripada sekadar via chat. Rawan terjadi kesalahpahaman. Kadang kalimat yang bermaksud santai tapi yang baca malah berpikir bahwa kalimat yang kita sampaikan mengandung kemarahan. Lebih nyaman ngobrol langsung sih sebenarnya. Kadang kalau lek gak srantan atau sedang capek ya pakai voice note ketika di ruang chat. Ngetik panjang-panjang kan capek. Apalagi kalau cuma di read doang. Idih!

Tak lupa saya update story baru atas keberhasilan saya menemukan kosakata baru di chat hari ini. Siapa tahu ada salah satu teman di Whatsapp yang belum tau arti kata yang baru saja saya temukan hari ini.

Kerecehan Idul Adha Tahun Ini

Setelah dua tahun tidak pernah pulang ketika Idul Adha, akhirnya saya berkesempatan untuk pulang juga setelah pondok pesantren memberikan jatah libur yang luar biasa banyak (bagi saya) yaitu sekitar 10 hari. Tahun-tahun sebelumnya, libur Idul Adha yang diberikan oleh pesantren hanya 3 hari. Dengan pertimbangan waktu, jarak dan biaya transportasi, saya lebih memilih untuk tetap di pondok dan melaksanakan solat Id di tanah rantau. Jika jatah libur bisa sampai seminggu, saya akan memikirkan ulang rencana untuk pulang.

Alhamdulillah! Akhirnya saya pulang juga. Awalnya saya memberi kabar ke Abah Ibuk melalui grup Whatsapp keluarga bahwa saya akan pulang. Saya ingin tahu respon mereka seperti apa. Ternyata mereka sangat senang kalau anaknya pulang. Maklum, karena saking jauhnya tempat rantau, anak gadis sulung mereka ini memang jarang sekali pulang. Bahkan, semester kuliah yang sedang saya tempuh dengan berapa kali saya pulang itu sama dan bisa digunakan sebagai titen-titenan. Misal, kalau saya sudah pulang empat kali, berarti kuliah saya sudah semester empat.

“Ndengaren to nduk kok libur suwe. Ya wes muleh ae” (Tumben liburnya lama, Nduk. Ya udah pulang aja) tulis Ibuk di grup Whatsapp.

“Muleh to nduk. Abah ki kuangen lo.” tulis Abah di grup Whatapp juga. Tak lupa dengan berbagai emot hati dan ekspresi untuk menggambarkan perasaan senang bercampur rindu.

Akhirnya, pada 10 Agustus 2019, saya berangkat menuju terminal sehabis solat subuh. Saya diantar oleh Mbak Risa, salah seorang teman di pesantren. Di tengah jalan, saya meminta Mbak Risa untuk mengantarkan saya ke salah satu minimarket 24 jam. Saya mau mengambil uang kiriman Ibuk kemarin malam karena disuruh bawa uang agak banyak. Biar tenang katanya.

“Emang minimarketnya buka?”, tanya mbak Risa

“Buka, Mbak. Lha wong itu minimarket 24 jam.”

“Ada ATM-nya ya?”

“Ada dong, Mbak”

Sesampainya di minimarket tersebut, saya masuk ke dalam minimarket dengan terheran-heran. Pasalnya saya tidak melihat orang sama sekali di dalam minimarket yang nyala terang benderang di tengah-tengah toko atau bangunan lain yang lampunya masih dimatikan. Saya langsung menuju ke mesin ATM. Ternyata Mbak Risa mengikuti saya dari belakang.

“Ya ampun Mbak. Ndek kene kok gak enek wong e.” (Ya ampun Mbak. Di sini kok gak ada orangnya)

“Mosok sih?”

“Biasane kan setiap masuk minimarket disambut.” Saya bermaksud guyon sebenarnya. Saya kira benar-benar tidak ada orang di dalam minimarket. Rapi tiba-tiba mas-mas pegawai minimarket tersebut muncul dari bawah meja kasir. Masnya terlihat agak salting namun tetep sok sibuk main hape.

Karena merasa tidak enak, saya langsung membeli makanan ringan dan sebotol air mineral. Padahal niatnya hanya tarik tunai aja. Ternyata ada orangnya di minimarket. Kirain gak ada orang karena ketiduran. Guman saya dalam hati.

***

Malam hari saya rebahan di dipan. Seharian naik bus rasanya memang melelahkan. Saya iseng scrolling beranda Twitter hingga menemukan satu video menarik yaitu video tentang sapi yang tiba-tiba masuk ke dalam sebuah restoran. Sapi tersebut benar-benar masuk restoran. Video ini bertambah lucu dengan tambahan backsound lagu susu nasional yang biasa dijual keliling.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Tweet video tersebut sudah ditonton sebanyak lebih dari 500 ribu kali dan diretweet sebanyak 21 ribu kali. Tampak sapi berwarna hitam tersebut dengan polosnya memasuki pintu restoran yang terbuat dari kaca. Sapi tersebut masuk hingga mendekati meja kasir di dalam restoran. Tampak dua orang perempuan yang sedang asyik makan langsung kaget dengan kedatangan seekor sapi tersebut. Secara naluri hewan, mungkin sapi tersebut mengira bahwa restoran tersebut adalah kandangnya. Sapi tersebut pun balik badan dan berjalan keluar restoran dengan meninggalkan tanda tanya besar bagi orang-orang di dalam restoran tersebut. Kelucuan adegan sapi berwarna hitam masuk restoran sebelum Idul Adha ini ditambah dengan kerecehan warga Twitter yang sibuk beramsumsi bahkan berimajinasi mengenai alasan mengapa sapi tersebut bisa sampai masuk restoran.

Seperti itulah kerecehan pada Idul Adha tahun ini. Sebenarnya masih banyak cerita yang bisa ditemukan di sosial media manapun. Semoga ada yang bisa diambil dari setiap kerecehan yang mengundang tawa segenap netizen di negara +62 ini. Sekian~

Jarum tak Kasat Mata

Jarum tak Kasat Mata

Kemarin pagi, jiwa-jiwa penakut seperti saya ini menonton film horor. Keinginan tersebut atas inisiatif saya sendiri yang akhir-akhir ini sedang menyukai Kisah Tanah Jawa dan seisinya. Setelah membaca kisah horor dari Mas Genta yang berjudul Keluarga Tak Kasat Mata di Kaskus, akhirnya saya penasaran untuk menonton filmnya. Kepo juga sih dengan kisah pertemuan 13 13 13 ini. Barangkali di film digambarkan dengan lebih jelas lagi daripada cerita versis Kaskus.

Saya dan beberapa orang teman menonton di kamar saya sendiri yang berisi tiga orang. Kami menonton dengan meletakkan laptop beralaskan meja lipat di atas kasur. Kami menonton dengan seksama terutama saya yang sedari tadi menutupi muka dengan selimut karena khawatir dengan jumpscare. Padahal waktu itu kami menonton pada pagi hari.

Selesai menonton film, kami sempat mondar-mandir sekitar kasur. Tiba-tiba saja saya berteriak kesakitan karena menginjak sesuatu di salah satu sudut kasur. Ternyata saya menginjak jarum yang tertanam di kasur. Kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi.

Kasur yang saya injak waktu itu bukan kasur baru melainkan kasur warisan. Kami mendapatkan dari pemilik sebelumnya setelah negoisasi menukar kasur double menjadi single. Dulu ketika awal-awal pemakaian, kami bertiga selalu menjadi korban jarum yang tertanam di kasur tersebut karena tidak sengaja terinjak. Tapi ketika kami ingin mencari jarum tersebut, kami kesulitan untuk menemukannya. Kami sudah berusaha untuk menekan pelan-pelan kasur dengan tangan agar si jarum keluar, tapi si jarum tidak pernah menampakkan diri. Di samping itu, kami juga merasa ngeri-ngeri sedap untuk mencari jarum tersebut karena takut justru tangan kami yang terkena imbasnya.

Kami menyebutnya jarum tak kasat mata. Jarum yang tertanam di kasur kami dan jarum tersebut sengaja ditancapkan oleh pemilik kasur sebelumnya. Dari hasil ekspedisi yang kami lakukan, kami berhasil menemukan beberapa jarum yang tertanam di beberapa titik pada kasur dengan satu tipe jarum yang sama yaitu jarum pentul. Jarum pentul merupakan jenis jarum yang paling sering digunakan oleh perempuan untuk memakai kerudung segiempat terutama di kalangan pesantren sebagai pengganti peniti. Tak dapat dipungkiri jika jarum pentul pasti ditemukan di kamar perempuan berjilbab karena mereka selalu memilikinya.

Tapi masalahnya adalah mereka selalu menancapkan jarum pentul ke kasur. Bahkan mereka lupa untuk mencabutnya dari kasur. Teruntuk perempuan-perempuan yang memiliki kebiasaan seperti ini,

“Apa sih motivasi kalian untuk pasang jarum pentul di kasur?” Hal-hal yang sepele seperti ini bisa membahayakan orang lain yang bahkan sama sekali nggak tau lho. Rasanya sakit banget kalo kena jarum pentul yang tertanam di kasur. Hiks.

Saya sering menemukan teman-teman saya seperti ini di kalangan pesantren dengan fasilitas kasur dan saya tegur. Tapi mungkin kebiasaan perempuan seperti ini tidak melulu terjadi di pesantren. Intinya, perempuan-perempuan muda sekarang ada baiknya untuk menghilangkan kebiasaan membuat jarum tak kasat mata seperti ini karena jarum tak kasat mata benar-benar membahayakan.

Tidur Nyenyak tanpa Handphone?

Gambar dari Juragancipir.com

Kabar duka menyelimutiku hari ini dan selama tiga hari ke depan. Apa alasannya? Handphoneku harus disita karena aku melanggaran tata tertib pondok pesantren. Kisah penyitaan handphoneku bermula ketika suatu hari aku tidak turun ke bawah untuk setoran. Pagi hari perut tiba-tiba mulas sedangkan kamar mandi saat itu sedang antre. Terpaksa aku menunggu di luar sembari nderes barang satu-dua ayat meskipun tidak ada yang nyantol sama sekali karena sakit perut. Setelah mendapat giliran kamar mandi, aku memutuskan untuk sekalian mandi karena hari ini memang harus kuliah pagi.

Lanjutkan membaca “Tidur Nyenyak tanpa Handphone?”

Mbak Bidadari

Di pondok pesantren membuat kita mampu berteman dengan semua orang dari berbagai golongan yang pada dasarnya mencintai kesederhanaan.

Saya memulai karier menjadi mahasantri (mahasiswi sekaligus santri) di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna Jember. Kenapa ada embel-embel “mahasiswi”? Karena pondok pesantren ini memang khusus untuk mewadahi mahasiswi yang ingin memperdalam ilmu agama dan menjaga diri daripada bengong di kamar kos. Sebutan lainnya adalah “Pondok Daripada”. Daripada di kos, daripada kesepian, daripada bingung, mending ke Al Husna aja. Begitu katanya.

Lanjutkan membaca “Mbak Bidadari”