Semangat Cinta

H+4 lebaran. Mudik sejenak di kampung orang tua Ibuk yang hanya beda kabupaten. Sekembali dari mudik, cucian menumpuk pesat. Maklum, ketika lebaran aku terlalu asyik bercengkerama dengan keluarga besar yang maksimal hanya mampu bersua sekali dalam setahun. Mungkin saking asyiknya hingga membuatku lupa untuk melakukan kewajiban-kewajiban sebagaimana mestinya.

Mobil BMW putih kami melaju pelan melintasi kemacetan jalan. Aku sedikit lesu mendapati tumpukan baju kotor di bagasi Continue reading “Semangat Cinta”

Iklan

Kebenaran dari Aku

wp-1495596542373.
From Xiaomi Wallpaper

Berbagi opini mengenai kehidupan setelah di pondok pesantren.

Pulang!

Siapa yang tidak menginginkan pulang setelah hidup sekian lama jauhnya dari kampung halaman. Entah mengapa, seminggu sebelum Ramadhan, aku ditakdirkan pulang karena suatu urusan.

Hari pertama setelah pulang, aku tidak bisa bangun tahajud. Alarm hp yang selama ini mampu membangunkanku pagi buta ketika di pondok, justru tidak mempan membangunkanku ketika di rumah. Aku memang terbangun. Mataku terbuka walau tidak seutuhnya. Namun, bangunku dari kesadaran hanya untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.

Hari kedua, aku kembali kehi;angan tahajudku. Aku memang terbangun dengan alarm hp. Namun, aku terbangun sejenak untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi. Hari ketiga dan keempat juga bernasib sama. Aku benar-benar kehilangan tahajud, senjata terkuatku untuk mengarungi dunia, ketika aku berada di rumah. Continue reading “Kebenaran dari Aku”

Santri Khilaf

Pada suatu hari, Ibuk memberikan bukti cintanya berbentuk kiriman jatah bulanan. Ibuk mengabari saya lewat Whatsapp. Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira semacam ini.

Hari ini, Jumat, merupakan hari libur pondok. Ketika saya sedang bersantai sejenak melepas kesibukan hafalan, teman sekamar, Intan, mengajak saya ke toko buku Gramedia. Mata saya langsung berbinar senang. Kebetulan saya sedang ingin membeli buku Reach Your Dreams karya Wirda Mansur. Sedangkan Intan hanya ingin membeli buku LKS demi kebutuhan sekolah.

Continue reading “Santri Khilaf”

Antara ه dan ك

PPTQ Nurul Furqon Malang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan karier hafalan saya. Sebelum mondok, saya menyetorkan hafalan langsung dengan ustad atau ustadah secara empat mata. Ketika masuk pondok, saya dikejutkan dengan aksi setoran secara serempak empat orang sekaligus di hadapan Abah Yai. Empat orang ini melantunkan hafalan mereka secara bersamaan. Bahkan Abah Yai bisa menyimak sampai enam orang sekaligus. Saya bingung sekaligus heran. Bagaimana empat orang ini secara bersama-sama bisa membaca hafalan mereka dengan tanpa melihat mushaf. Bagaimana cara mereka untuk berkonsentrasi di tengah riuh bacaan teman di sampingnya. Belum lagi Abah Yai yang bisa menyimak banyak orang sekaligus. Sedang Abah Yai juga tidak sering membuka mushaf ketika menyimak santrinya. Entah bagaimana perasaan saya mengawali setoran di pondok ini. Setoran serempak dengan suara bacaan teman-teman lain yang bisa membuat hafalan buyar bila tidak berkonsentrasi. Semacam jor-jor suara dalam istilah jawanya. Dua bulan lebih hidup di sini, saya sudah terbiasa dengan sistem setoran seperti ini.

Suasana setoran hafalan Al Quran di PPTQ Nurul Furqon. Sumber foto dari salah satu santri

Continue reading “Antara ه dan ك”

Kangen Rumah


Terhitung sudah dua bulan lebih beberapa hari saya berada di Malang yang berjarak lebih dari 100 km dari kota asal, Tulungagung. Meski dalam rentang waktu tersebut saya sempat pulang selama seminggu, tapi rasa itu tetap ada. Sebuah rasa kerinduan. Rindu segalanya tentang rumah. Baik suasananya, orang-orangnya, semuanya. Ah! Memang dasarnya saya anak rumahan. Jarang sekali keluar rumah. Jadi, berkumpul di rumah bersama keluarga kecil sudah menjadi santapan utama sehari-hari., Continue reading “Kangen Rumah”

Belajar Filosofi Kehidupan dari Tangan Terluka

Beberapa hari yang lalu, tangan saya terluka akibat terkena pecahan beling. Tepatnya, pecahan beling tanpa sengaja menusuk ibu jari tangan kanan saya. Lukanya memang tidak parah, namun cukup untuk membuat saya merasa kesakitan.

Awalnya, saya merasa sedikit putus asa ketika jempol ini harus terluka karena tidak bisa ngapa-ngapain. Dibuat pegang ini sakit, dibuat membawa sesuatu susah, dibuat untuk menulis apalagi. Karena terluka, alhasil saya mengandalkan empat jari lainnya yang masih sehat. Rasanya semacam enggan beraktifitas karena merasa tidak bisa melakukan sesuatu ketika jempol sakit.

Hampir seminggu saya tidak menulis karena merasa tidak bisa memegang polpen. Namun, saya teringat akan tugas Sekolah Inggris dari kak Budi Waluyo yang belum saya kerjakan. Hingga ketika mepet akhir pekan, yaitu hari Sabtu, saya ngebut mempelajari dan mengerjakan soal-soal latihan Bahasa Inggris beserta soal-soal

Continue reading “Belajar Filosofi Kehidupan dari Tangan Terluka”

Menghafal Al Quran itu Mudah atau Sulit?

Banyak yang bertanya. Sebenarnya menghafalkan Al Quran itu mudah atau sulit? Susah atau gampang? Enak atau enggak? Para penghafal Al Quran pun kadang hampir tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. Saya juga pernah menanyakan hal ini kepada mereka sebelum akhirnya saya memutuskan untuk turut menghafal Al Quran.

Dulu saya hanyalah seorang anak yang biasa-biasa saja tanpa memiliki keistimewaan apapun. Lebih tepatnya, saya masih dalam tahap pencarian jati diri dan belum menemukan apa potensi terselubung dalam diri saya. Saya menjalani hari-hari bersekolah seperti biasa hingga saya berkenalan dengan seorang teman. Ia anak pindahan dari pondok. Setelah bertanya-tanya dan dengar sana-sini, ternyata ia adalah seorang penghafal Al Quran. Saya hanya manggut-manggut dan kagum sesaat dengan kehebatan anak tersebut. Lambat laun, entah mengapa saya dan Continue reading “Menghafal Al Quran itu Mudah atau Sulit?”