Tidur Nyenyak tanpa Handphone?

Gambar dari Juragancipir.com

Kabar duka menyelimutiku hari ini dan selama tiga hari ke depan. Apa alasannya? Handphoneku harus disita karena aku melanggaran tata tertib pondok pesantren. Kisah penyitaan handphoneku bermula ketika suatu hari aku tidak turun ke bawah untuk setoran. Pagi hari perut tiba-tiba mulas sedangkan kamar mandi saat itu sedang antre. Terpaksa aku menunggu di luar sembari nderes barang satu-dua ayat meskipun tidak ada yang nyantol sama sekali karena sakit perut. Setelah mendapat giliran kamar mandi, aku memutuskan untuk sekalian mandi karena hari ini memang harus kuliah pagi.

Lanjutkan membaca “Tidur Nyenyak tanpa Handphone?”
Iklan

Mbak Bidadari

Di pondok pesantren membuat kita mampu berteman dengan semua orang dari berbagai golongan yang pada dasarnya mencintai kesederhanaan.

Saya memulai karier menjadi mahasantri (mahasiswi sekaligus santri) di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna Jember. Kenapa ada embel-embel “mahasiswi”? Karena pondok pesantren ini memang khusus untuk mewadahi mahasiswi yang ingin memperdalam ilmu agama dan menjaga diri daripada bengong di kamar kos. Sebutan lainnya adalah “Pondok Daripada”. Daripada di kos, daripada kesepian, daripada bingung, mending ke Al Husna aja. Begitu katanya.

Lanjutkan membaca “Mbak Bidadari”

Kenangan Tanggal Tujuh

Sumber gambar : Unsplash

Selamat ulang tahun, Itsna!

Masih dalam nuansa ulang tahun yang sudah saya posting sebelumnya di sini, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu teman masa SMP. Dia bernama Jasmin. Orangnya cantik lagi pintar. Tubuhnya juga ideal. Dia seperti terlihat sempurna sampai-sampai mata minusnya tertutupi dengan kesempurnaannya.

Kami bersekolah di SMP Al Azhaar. Waktu zaman kami masih sekolah, murid-murid biasa melakukan rutinitas solat jamaah yang memang sudah menjadi agenda full day school. Kondisi sekarang sudah berbeda. Murid di SMP Al Azhaar semakin banyak. Jadi, kami harus solat di hall sekolah yang dikepung oleh kebun jagung yang luas nan sejuk. Saya dan Jasmin masih menangi transisi antara solat di aula lantai dua menuju hall lantai satu.

Lanjutkan membaca “Kenangan Tanggal Tujuh”

Selamat ulang tahun, Itsna!

Hari ini memang bukan hari kelahiran seorang tokoh besar. Tapi, hari ini adalah hari kelahiran seseorang yang kelak akan menjadi orang besar dan mampu menebar manfaat bagi orang lain. 7 November 2018. Sebuah momentum untuk mengenang bahwa saya sudah tua – jika dibandingkan dengan kawan-kawan kuliah dan sebagai pengingat bahwa umur saya di dunia ini sudah berkurang satu tahun.

Karena bukan merupakan tradisi, acapkali saya mengabaikan apa itu hari ulang tahun. Saya tidak ingat hari ulang tahun teman-teman saya. Terlebih ulang tahun saya sendiri. Saya memang jarang memeriahkan hari kelahiran. Keluarga saya tidak serta merta merayakan hari ulang tahun. Orang tua saya saja lupa dengan ulang tahun saya sendiri.

Lanjutkan membaca “Selamat ulang tahun, Itsna!”

Sikap hangat di tengah dinginnya Malang

Sikap hangat di tengah dinginnya Malang

Aku pernah menyesalkan nasibku ketika pertama kali hidup di Malang. Ternyata Malang bersuhu dingin. Terutama ketika malam dan menjelang pagi. Aku tidak memiliki selimut pada saat malam pertama aku tidur di Malang. Alhasil, aku harus mengakrabkan diri dengan dingin. Tubuhku menggigil. Dengan segala kepengecutanku dalam menyampaikan perasaan, aku memilih diam kepada 9 teman sekamarku bahwa aku betul betul kedinginan. Beruntung aku membawa jaket dan sepasang kaus kaki sebagai penghangat sementara. Meski dingin, aku tetap harus memejamkan mata. Besok, semua pekerjaan menuntut harus diselesaikan.

Sebenarnya, kompleks Pondok Pesantren Nurul Furqon terletak dekat dengan pasar besar kota Malang. Pondok pesantren ini memang terletak di sebelah timur pasar besar yang lebih populer dengan sebutan “Wetan Pasar Besar”. Pasar yang mengambil tempat di bekas gedung Matahari Mall itu terdiri dari dua lantai. Akses pondok pesantren yang sebegitu dekatnya dengan pasar membuat segala kebutuhan dapat dijangkau dengan mudah dan yang pasti, murah.

Lanjutkan membaca “Sikap hangat di tengah dinginnya Malang”

Jarang Menulis

Sumber gambar: Hipwee

Maafkan atas aksi saya untuk beberapa dekade terakhir yaitu jarang menulis. Latar belakang aksi ini tentu saja karena kesibukan. Entah sibuk kuliah, sibuk belajar, sibuk ini, sibuk itu, dan sibuk sibuk lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Betapa banyak cita-cita yang sedang saya lakukan sehingga membuat saya lupa akan eksistensi blog ini.

Suatu malam, seorang sahabat mengingatkan saya lewat chat,

“Kamu kok sudah jarang ngeblog? Padahal bagus banget lo tulisannya.”

Lanjutkan membaca “Jarang Menulis”

Kisah Buka Bersamaku

Nasihat kala Bukber

Tahun ini, aku pulang ke kampung halaman pada H-5 lebaran atau pada tanggal 10 Juni 2018 lalu. Tulungagung yang aku tinggalkan selama satu semester kuliah nampak banyak perubahan. Menurutku, kota kelahiranku ini terasa seperti lebih gemerlap. Terlebih lagi beberapa tempat makan baru dan bersaing di antara hiruk pikuk persaingan ekonomi di Tulungagung.

Pulang lima hari sebelum lebaran tidak aku sia-siakan. Buktinya aku menerima tiga undangan buka bersama kawan-kawan lama. Bulan ramadan seperti ini memang menjadi momen yang tepat untuk mengadakan acara kumpul-kumpul. Aku pun ingin untuk sekadar melepas rindu pada masa-masa perjuangan lalu. Kabar baiknya, Ibuk menyetujui rencanaku untuk menghadiri berbagai undangan buka bersama. Padahal saat itu tidak ada kendaraan yang bisa kukemudikan. Alhasil Ibuk memberiku fasilitas antar jemput di lokasi buka bersama Mungkin ke depannya Ibuk akan lebih setuju lagi kalau ada yang mengajakku hidup bersama. #eh. Hehe. Lanjutkan membaca “Kisah Buka Bersamaku”