Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Identitas buku

Judul : Sabda Palon

Penulis : Damar Shashangka

Penerbit : Dolphin

Tahun terbit : Cetakan kedua, Januari 2017

Tebal buku : 447 halaman

Sinopsis

Cerita sejarah ini berlatar pada tahun 1400-an Masehi, tepat menjelang keruntuhan Majapahit. Kala itu, agam Islam sudah berkembang pesat di berbagai daerah kekuasaan Majapahit. Hal ini membuat pemerintah Majapahit tergerak untuk mengadakan menteri yang bertugas khusus untuk mengurus agama Islam. Majapahit sendiri sudah memiliki menteri khusus untuk mengurus agama Hindu dan Budha. Keluarga Keraton Keling, Bhre Kertabhumi atas usulan istrinya, Dewi Amarawati, mengutus Syekh Ibrahim Al-Akbar untuk mengurus agama Islam di Majapahit. Dewi Amarawati merupakan putri Champa sekaligus adik dari Syekh Ibrahim Al-Akbar. Secara otomatis, Syekh Ibrahim yang masih keturunan Rasulullah SAW memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit.

Islam memang sudah berkembang di Majapahit. Perkembangan Islam di Nusantara bisa dibilang tidak maksimal karena tidak ada pemuka agama yang dekat dengan penguasa. Beberapa ulama yang masih keturunan Rasulullah SAW sudah sejak lama menjajaki bumi Jawa untuk mensyiarkan agama Islam termasuk ayah Syekh Ibrahim, Syekh Jamaluddin Syah Jalal. Kepergian ayahnya yang sudah lama ke tanah Jawa membuat Syekh Ibrahim ingin segera menyusul pula ke tanah Jawa. Karena terdapat permintaan dari Kerajaan Majapahit pula, Syekh Ibrahim tertarik untuk turut mensyiarkan agama rasul di tanah Jawa sekaligus mencari kabar ayahnya di sana.

Syekh Ibrahim ditemani Sayyid Ali Murtadlo dan tiga belas santri pilihan berangkat dari Kerajaan Champa menuju Kerajaan Majapahit. Rombongan Syekh Ibrahim berangkat menggunakan jung melewati lautan yang luas untuk memenuhi undangan dari Bhre Kertabumi. Naas, pada suatu hari di tengah laut, badai besar tiba-tiba menghadang perjalanan rombongan Syekh Ibrahim sehingga menyebabkan jung rusak dan tenggelam. Badai besar yang terjadi membuat jung rombongan Syekh Ibrahim terdampar di Kamboja.

Terdamparnya rombongan Syekh Ibrahim di Kamboja bukanlah kabar baik. Terutama ketika Syekh Ibrahim membawa serta tiga belas santri yang merupakan orang Champa. Perlu diketahui bahwa hubungan Champa dengan Kamboja tidak terlalu baik saat itu. Ketika keberadaan rombongan Syekh Ibrahim diketahui oleh pasukan Kamboja, rombongan Syekh Ibrahim langsung ditahan oleh Kerajaan Kamboja.

Nasib Syekh Ibrahim beserta rombongannya mungkin tidak akan selamat dari kerajaan Kamboja jika tidak berkat Panglima Samdech Ram. Samdech Ram adalah salah satu panglima pasukan Kamboja yang berutang budi atas kebaikan rombongan Syekh Ibrahim ketika Panglima Samdech Ram diserang sihir yang tidak diketahui. Berkat bantuan Panglima Samdech Ram, Syekh Ibrahim dapat mengirim tiga orang santrinya yang dapat berbahasa Sansekerta untuk dikirim ke Kerajaan Majapahit demi meminta bantuan. Berbekal surat Syekh Ibrahim untuk Raden Bhre Kerthabumi, penguasa Keraton Keling di Trowulan, tiga orang santri tersebut berusaha untuk secepatnya sampai ke tanah Jawa yang saat itu perjalanan paling canggih adalah masih jung di lautan sembari menunggu arah angin. Ketika surat sudah sampai di tangah Bhre Kertabhumi, beliau langsung menyiapkan armada besar beserta pasukan untuk menjemput Syekh Ibrahim beserta rombongan. Jika rombongan Syekh Ibrahim tetap ditahan pihak Kamboja, Majapahit tidak akan menahan pertumpahan darah yang akan terjadi di Kamboja.

Gertakan Majapahit dan penaklukan pelabuhan Prey Nokor oleh pasukan Majapahit membuat Kamboja gempar. Panglima Samdech Ram dengan rencananya tersendiri mengusahakan agar rombongan Syekh Ibrahim dapat kembali ke Majapahit. Setelah rombongan Syekh Ibrahim berhasil diselamatkan, Majapahit mau menarik pasukannya dari Kamboja.

Syekh Ibrahim belum sempat melanjutkan perjuangannya untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa dikarenakan sakitnya semenjak masih berada di jung dalam perjalanan menuju Majapahit. Sesampai di Pelabuhan Tuban, Syekh Ibrahim masih tetap sakit hingga meninggal dan dimakamkan di sana. Perjuangan Syekh Ibrahim dilanjutkan oleh anaknya, Sayyid Ali Murtadlo. Sayyid Ali Murtadlo beserta santri-santri yang tersisa menuju Trowulan untuk memenuhi undangan Raden Bhre Kerthabumi yang sebelumnya dilimpahkan ke sang ayah.

Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan

Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan

Beberapa hari yang lalu, saya berhasil menamatkan bacaan dari dua buku yang berbeda. Buku pertama adalah Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut Ea dan buku kedua adalah Lambe Akrobat, Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip karya Agus Mulyadi. Kedua buku ini mengangkat tema tulisan jenaka. Ada saja di sudut tertentu pada kedua buku tersebut yang membuat saya tertawa sendiri.

Continue reading “Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan”

Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Identitas buku

Judul   : Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Penulis : Agus Mulyadi

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama, Mei 2018

Tebal buku      : 165 halaman

Dimensi          : 20 x 13 cm

Sinopsis

Buku karya Agus Mulyadi ini bercerita tentang serba serbi keluarga kecil Agus yang dulunya hidup pas-pasan. Banyak kisah yang unik dari keluarga kecil Agus – sang penulis. Salah satu kisahnya adalah ketika emak dan bapak Agus biasa memanggil satu sama lain dengan sebutan “Jo”. Bagi orang awam, mereka akan penasaran dengan maksud dari panggilan tersebut di saat pasangan lain memiliki panggilan lazim seperti “sayang”, “beb”, “ayah ibu”, dan sebagainya. Agus sampai kewalahan dalam menjawab pertanyaan teman-temannya ketika pertama kali main ke rumah Agus dan mendapati kemesraan bapak dan emak Agus dengan panggilan Jo. Usut punya usut, ternyata kata “Jo” berasal dari kata bojo yang dalam bahasa Jawa memiliki arti suami/istri. Panggilan Jo ini sudah dipraktikkan oleh orang tua Agus semenjak hari pernikahan.

Continue reading “Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip”

Resensi Buku karya Puthut Ea – Para Bajingan yang Menyenangkan

33003399Resensi Buku karya Puthut Ea – Para Bajingan yang Menyenangkan

Identitas Buku

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis             : Puthut Ea

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama tahun 2016

Tebal buku      : 177 halaman

Dimensi buku  : 20 x 13 cm

Sinopsis

Buku Para Bajingan yang Menyenangkan mengisahkan tentang persahabatan enam orang yang memiliki hobi mengerikan yaitu berjudi. Mereka adalah almarhum Jadek, Bagor, Khuntet, Proton, Babe, dan penulis buku sendiri, Puthut. Mereka menamai kelompok pertemanan mereka dengan nama Jackpot Society. Di tengah kesibukan kuliah, mereka senang menggeluti kegiatan perjudian mereka. Padahal sebagai orang berpendidikan, mereka tahu betul bahwa judi yang selama ini mereka lakoni lebih banyak kalahnya daripada menangnya. Tak jarang barang-barang mereka hilang karena digadaikan untuk bermain judi. Almarhum Jadek pernah mengikhlaskan mobilnya karena ia kalah taruhan. Meski sering menuai kekalahan, tapi mereka selalu menikmati hobi buruk mereka. Bagi anggota Jackpot Society, judi adalah permainan yang menyenangkan. Menang senang kalah pun tak kalah senang. Konon, penjudi itu senang memamerkan kekalahannya.

Continue reading “Resensi Buku karya Puthut Ea – Para Bajingan yang Menyenangkan”

Resensi Buku Biografi KH Hasyim Muzadi, Cakrawala Berkah Pedagang Roti

KH Hasyim Muzadi – Cakrawala Kehidupan Sang Pengabdi Umat

Identitas Buku

Judul               : KH Hasyim Muzadi – Cakrawala Berkah Pedagang Roti

Penulis             : Ahmad Millah Hasan

Tebal buku      : 532 halaman

Sinopsis

220px-Ahmad_Hasyim_Muzadi
Sumber gambar dari Wikipedia

KH Hasyim Muzadi, sosok kelahiran 8 Agustus 1944 di Bangilan, Tuban, Jawa Timur, merupakan salah satu tokoh yang turut berperan untuk menyebarkan paham Islam Rahmatan lil Alamin kepada Indonesia dan dunia melalui organisasi Nahdhatul Ulama. Kiai Hasyim mengontribusikan hidupnya untuk umat serta memperjuangkan toleransi dan perdamaian utamanya pada masalah agama di Indonesia bahkan dunia. Berbagai catatan kinerja Kiai Hasyim dalam upayanya meredakan konflik di berbagai negara sudah dilakukan melalui kepemimpinananya di organisasi Nahdhatul Ulama. Kiai Hasyim pulalah yang berhasil mematahkan ‘apa kata orang’ bahwa pemimpin NU harus berasal dari trah (keturunan) kiai. Anak seorang pedangang seperti Kiai Hasyim pun bisa berkesempatan menjadi pemimpin NU. Di bawah kepemimpinan Kiai Hasyim, NU terbukti dapat berperan dalam meredakan konflik perpecahan yang terjadi di dunia. Berbagai kinerja Kiai Hasyim yang mumpuni mampu membuatnya terpilih menjadi ketua umum PBNU selama dua periode (1999-2010). Hal ini didasari salah satunya oleh pengalaman berorganisasi yang dilakukan Kiai Hasyim sejak menjadi aktivis PMII di Celaket 10. Bahkan, Kiai Hasyim adalah satu-satunya pemimpin NU yang pernah menduduki berbagai kepengurusan NU mulai dari tingkat paling bawah mulai dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda Ansor NU, Pengurus Cabang NU Malang, Pengurus Cabang NU Jatim hingga Pengurus Besar NU.

Continue reading “Resensi Buku Biografi KH Hasyim Muzadi, Cakrawala Berkah Pedagang Roti”

Resensi Buku Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila!

Resensi Buku Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila!

9789791907408_Bob_sadino_mereka_bilang_saya_gila_UIdQHWp__w200_hauto
Sampul buku. Sumber gambar dari Gramedia

Identitas Buku

Judul   : Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila!

Penulis : Edy Zaques

Penerbit           : Kintamani

Tahun terbit    : Cetakan pertama tahun 2009

Tebal buku      : 200 halaman

 

Sinopsis Buku

Bob Sadino adalah wiraswastawan sukses di bidang agribisnis dan personal brand-nya sangat terkenal pada zaman Orde Baru. Jika dilihat dari riwayat hidupnya, Bob Sadino berasal dari keluarga kaya raya. Ia bisa menikmati pendidikan di bangku sekolah sekaligus sempat belajar di perguruan tinggi walau hanya beberapa bulan. Bob Sadino juga mendapat pekerjaan di Djakarta Llyod (McLain & Watson Coy) dengan gaji yang cukup besar. Dengan pekerjaannya di sebuah perusahaan ekspedisi, Bob sempat tinggal di Hamburg dan Amsterdam selama kurang lebih 9 tahun. Pada masa puncak kejayaannya sebagai orang kaya, Bob berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya tersebut. Ia merasa ingin menjadi orang miskin dan memulai segalanya dari nol.

Continue reading “Resensi Buku Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila!”

Resensi Buku Catatan Akhir Tahun “Dear Me” Part 2

Resensi Buku Catatan Akhir Tahun “Dear Me”.

img_20180619_200726-1553145434.jpg

Identitas Buku

Judul               : Catatan Akhir Tahun “Dear Me” (Part 2)

Penulis             : Seluruh kontributor buku My Freedoms

Penerbit           : My Freedoms

Tahun terbit     : 2017

Cetakan           : Cetakan pertama, Juli 2017

Tebal buku      : 218 halaman

Dimensi buku  : 14 x 20 cm

 

Resensi Buku Catatan Akhir Tahun “Dear Me” Part 2

Buku yang berjudul Catatan Akhir Tahun Dear Me merupakan buku yang berisi kumpulan tulisan dari berbagai kontributor yang terdiri dari anak bangsa. Buku ini memuat tulisan-tulisan singkat karya anak bangsa mengenai ungkapan cita-cita mereka. Terlebih lagi mengenai apa saja yang akan mereka hadapi di masa depan sembari menyapa diri mereka di masa depan dengan istilah “Dear Me”.

Continue reading “Resensi Buku Catatan Akhir Tahun “Dear Me” Part 2″