Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Identitas buku

Judul : Sabda Palon

Penulis : Damar Shashangka

Penerbit : Dolphin

Tahun terbit : Cetakan kedua, Januari 2017

Tebal buku : 447 halaman

Sinopsis

Cerita sejarah ini berlatar pada tahun 1400-an Masehi, tepat menjelang keruntuhan Majapahit. Kala itu, agam Islam sudah berkembang pesat di berbagai daerah kekuasaan Majapahit. Hal ini membuat pemerintah Majapahit tergerak untuk mengadakan menteri yang bertugas khusus untuk mengurus agama Islam. Majapahit sendiri sudah memiliki menteri khusus untuk mengurus agama Hindu dan Budha. Keluarga Keraton Keling, Bhre Kertabhumi atas usulan istrinya, Dewi Amarawati, mengutus Syekh Ibrahim Al-Akbar untuk mengurus agama Islam di Majapahit. Dewi Amarawati merupakan putri Champa sekaligus adik dari Syekh Ibrahim Al-Akbar. Secara otomatis, Syekh Ibrahim yang masih keturunan Rasulullah SAW memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit.

Lanjutkan membaca “Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan”
Iklan

Mbak Bidadari

Di pondok pesantren membuat kita mampu berteman dengan semua orang dari berbagai golongan yang pada dasarnya mencintai kesederhanaan.

Saya memulai karier menjadi mahasantri (mahasiswi sekaligus santri) di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna Jember. Kenapa ada embel-embel “mahasiswi”? Karena pondok pesantren ini memang khusus untuk mewadahi mahasiswi yang ingin memperdalam ilmu agama dan menjaga diri daripada bengong di kamar kos. Sebutan lainnya adalah “Pondok Daripada”. Daripada di kos, daripada kesepian, daripada bingung, mending ke Al Husna aja. Begitu katanya.

Lanjutkan membaca “Mbak Bidadari”

Kenangan Tanggal Tujuh

Sumber gambar : Unsplash

Selamat ulang tahun, Itsna!

Masih dalam nuansa ulang tahun yang sudah saya posting sebelumnya di sini, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu teman masa SMP. Dia bernama Jasmin. Orangnya cantik lagi pintar. Tubuhnya juga ideal. Dia seperti terlihat sempurna sampai-sampai mata minusnya tertutupi dengan kesempurnaannya.

Kami bersekolah di SMP Al Azhaar. Waktu zaman kami masih sekolah, murid-murid biasa melakukan rutinitas solat jamaah yang memang sudah menjadi agenda full day school. Kondisi sekarang sudah berbeda. Murid di SMP Al Azhaar semakin banyak. Jadi, kami harus solat di hall sekolah yang dikepung oleh kebun jagung yang luas nan sejuk. Saya dan Jasmin masih menangi transisi antara solat di aula lantai dua menuju hall lantai satu.

Lanjutkan membaca “Kenangan Tanggal Tujuh”

Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan

Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan

Beberapa hari yang lalu, saya berhasil menamatkan bacaan dari dua buku yang berbeda. Buku pertama adalah Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut Ea dan buku kedua adalah Lambe Akrobat, Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip karya Agus Mulyadi. Kedua buku ini mengangkat tema tulisan jenaka. Ada saja di sudut tertentu pada kedua buku tersebut yang membuat saya tertawa sendiri.

Lanjutkan membaca “Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan”

Selamat ulang tahun, Itsna!

Hari ini memang bukan hari kelahiran seorang tokoh besar. Tapi, hari ini adalah hari kelahiran seseorang yang kelak akan menjadi orang besar dan mampu menebar manfaat bagi orang lain. 7 November 2018. Sebuah momentum untuk mengenang bahwa saya sudah tua – jika dibandingkan dengan kawan-kawan kuliah dan sebagai pengingat bahwa umur saya di dunia ini sudah berkurang satu tahun.

Karena bukan merupakan tradisi, acapkali saya mengabaikan apa itu hari ulang tahun. Saya tidak ingat hari ulang tahun teman-teman saya. Terlebih ulang tahun saya sendiri. Saya memang jarang memeriahkan hari kelahiran. Keluarga saya tidak serta merta merayakan hari ulang tahun. Orang tua saya saja lupa dengan ulang tahun saya sendiri.

Lanjutkan membaca “Selamat ulang tahun, Itsna!”

Sikap hangat di tengah dinginnya Malang

Sikap hangat di tengah dinginnya Malang

Aku pernah menyesalkan nasibku ketika pertama kali hidup di Malang. Ternyata Malang bersuhu dingin. Terutama ketika malam dan menjelang pagi. Aku tidak memiliki selimut pada saat malam pertama aku tidur di Malang. Alhasil, aku harus mengakrabkan diri dengan dingin. Tubuhku menggigil. Dengan segala kepengecutanku dalam menyampaikan perasaan, aku memilih diam kepada 9 teman sekamarku bahwa aku betul betul kedinginan. Beruntung aku membawa jaket dan sepasang kaus kaki sebagai penghangat sementara. Meski dingin, aku tetap harus memejamkan mata. Besok, semua pekerjaan menuntut harus diselesaikan.

Sebenarnya, kompleks Pondok Pesantren Nurul Furqon terletak dekat dengan pasar besar kota Malang. Pondok pesantren ini memang terletak di sebelah timur pasar besar yang lebih populer dengan sebutan “Wetan Pasar Besar”. Pasar yang mengambil tempat di bekas gedung Matahari Mall itu terdiri dari dua lantai. Akses pondok pesantren yang sebegitu dekatnya dengan pasar membuat segala kebutuhan dapat dijangkau dengan mudah dan yang pasti, murah.

Lanjutkan membaca “Sikap hangat di tengah dinginnya Malang”

Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Identitas buku

Judul   : Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Penulis : Agus Mulyadi

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama, Mei 2018

Tebal buku      : 165 halaman

Dimensi          : 20 x 13 cm

Sinopsis

Buku karya Agus Mulyadi ini bercerita tentang serba serbi keluarga kecil Agus yang dulunya hidup pas-pasan. Banyak kisah yang unik dari keluarga kecil Agus – sang penulis. Salah satu kisahnya adalah ketika emak dan bapak Agus biasa memanggil satu sama lain dengan sebutan “Jo”. Bagi orang awam, mereka akan penasaran dengan maksud dari panggilan tersebut di saat pasangan lain memiliki panggilan lazim seperti “sayang”, “beb”, “ayah ibu”, dan sebagainya. Agus sampai kewalahan dalam menjawab pertanyaan teman-temannya ketika pertama kali main ke rumah Agus dan mendapati kemesraan bapak dan emak Agus dengan panggilan Jo. Usut punya usut, ternyata kata “Jo” berasal dari kata bojo yang dalam bahasa Jawa memiliki arti suami/istri. Panggilan Jo ini sudah dipraktikkan oleh orang tua Agus semenjak hari pernikahan.

Lanjutkan membaca “Resensi Buku Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip”