Kerecehan Idul Adha Tahun Ini


Setelah dua tahun tidak pernah pulang ketika Idul Adha, akhirnya saya berkesempatan untuk pulang juga setelah pondok pesantren memberikan jatah libur yang luar biasa banyak (bagi saya) yaitu sekitar 10 hari. Tahun-tahun sebelumnya, libur Idul Adha yang diberikan oleh pesantren hanya 3 hari. Dengan pertimbangan waktu, jarak dan biaya transportasi, saya lebih memilih untuk tetap di pondok dan melaksanakan solat Id di tanah rantau. Jika jatah libur bisa sampai seminggu, saya akan memikirkan ulang rencana untuk pulang.

Alhamdulillah! Akhirnya saya pulang juga. Awalnya saya memberi kabar ke Abah Ibuk melalui grup Whatsapp keluarga bahwa saya akan pulang. Saya ingin tahu respon mereka seperti apa. Ternyata mereka sangat senang kalau anaknya pulang. Maklum, karena saking jauhnya tempat rantau, anak gadis sulung mereka ini memang jarang sekali pulang. Bahkan, semester kuliah yang sedang saya tempuh dengan berapa kali saya pulang itu sama dan bisa digunakan sebagai titen-titenan. Misal, kalau saya sudah pulang empat kali, berarti kuliah saya sudah semester empat.

“Ndengaren to nduk kok libur suwe. Ya wes muleh ae” (Tumben liburnya lama, Nduk. Ya udah pulang aja) tulis Ibuk di grup Whatsapp.

“Muleh to nduk. Abah ki kuangen lo.” tulis Abah di grup Whatapp juga. Tak lupa dengan berbagai emot hati dan ekspresi untuk menggambarkan perasaan senang bercampur rindu.

Akhirnya, pada 10 Agustus 2019, saya berangkat menuju terminal sehabis solat subuh. Saya diantar oleh Mbak Risa, salah seorang teman di pesantren. Di tengah jalan, saya meminta Mbak Risa untuk mengantarkan saya ke salah satu minimarket 24 jam. Saya mau mengambil uang kiriman Ibuk kemarin malam karena disuruh bawa uang agak banyak. Biar tenang katanya.

“Emang minimarketnya buka?”, tanya mbak Risa

“Buka, Mbak. Lha wong itu minimarket 24 jam.”

“Ada ATM-nya ya?”

“Ada dong, Mbak”

Sesampainya di minimarket tersebut, saya masuk ke dalam minimarket dengan terheran-heran. Pasalnya saya tidak melihat orang sama sekali di dalam minimarket yang nyala terang benderang di tengah-tengah toko atau bangunan lain yang lampunya masih dimatikan. Saya langsung menuju ke mesin ATM. Ternyata Mbak Risa mengikuti saya dari belakang.

“Ya ampun Mbak. Ndek kene kok gak enek wong e.” (Ya ampun Mbak. Di sini kok gak ada orangnya)

“Mosok sih?”

“Biasane kan setiap masuk minimarket disambut.” Saya bermaksud guyon sebenarnya. Saya kira benar-benar tidak ada orang di dalam minimarket. Rapi tiba-tiba mas-mas pegawai minimarket tersebut muncul dari bawah meja kasir. Masnya terlihat agak salting namun tetep sok sibuk main hape.

Karena merasa tidak enak, saya langsung membeli makanan ringan dan sebotol air mineral. Padahal niatnya hanya tarik tunai aja. Ternyata ada orangnya di minimarket. Kirain gak ada orang karena ketiduran. Guman saya dalam hati.

***

Malam hari saya rebahan di dipan. Seharian naik bus rasanya memang melelahkan. Saya iseng scrolling beranda Twitter hingga menemukan satu video menarik yaitu video tentang sapi yang tiba-tiba masuk ke dalam sebuah restoran. Sapi tersebut benar-benar masuk restoran. Video ini bertambah lucu dengan tambahan backsound lagu susu nasional yang biasa dijual keliling.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Tweet video tersebut sudah ditonton sebanyak lebih dari 500 ribu kali dan diretweet sebanyak 21 ribu kali. Tampak sapi berwarna hitam tersebut dengan polosnya memasuki pintu restoran yang terbuat dari kaca. Sapi tersebut masuk hingga mendekati meja kasir di dalam restoran. Tampak dua orang perempuan yang sedang asyik makan langsung kaget dengan kedatangan seekor sapi tersebut. Secara naluri hewan, mungkin sapi tersebut mengira bahwa restoran tersebut adalah kandangnya. Sapi tersebut pun balik badan dan berjalan keluar restoran dengan meninggalkan tanda tanya besar bagi orang-orang di dalam restoran tersebut. Kelucuan adegan sapi berwarna hitam masuk restoran sebelum Idul Adha ini ditambah dengan kerecehan warga Twitter yang sibuk beramsumsi bahkan berimajinasi mengenai alasan mengapa sapi tersebut bisa sampai masuk restoran.

Seperti itulah kerecehan pada Idul Adha tahun ini. Sebenarnya masih banyak cerita yang bisa ditemukan di sosial media manapun. Semoga ada yang bisa diambil dari setiap kerecehan yang mengundang tawa segenap netizen di negara +62 ini. Sekian~

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.