Belajar Sedikit Lebih Peka

Pagi hari, sekitar pukul setengah 10, saya sedang bersantai setelah sebelumnya menikmati tayangan-tayangan Youtube tentang horror story ketika mendaki gunung dari channelnya Dzawin. Handphone saya tinggal dalam keadaan sedang dicharger. Sebenarnya, saya berencana untuk one day without handphone hari ini ketika ternyata ada beberapa misscall dan chat yang meneror handphone saya. Ternyata, grup official pondok di Whatsapp sedang sedikit ramai dengan chat dari Bapak Yai.

Cerita bermula saat saya mendapat tugas untuk mengurus data seluruh santri. Tugasnya cukup mudah yaitu cukup dengan mengumpulkan data seluruh santri. Agak ribet sedikit karena ada beberapa ejaan nama yang salah. Setelah semua sudah selesai, saya diminta untuk mengirimkan data tersebut ke email salah seorang kenalan Bapak Yai di Jakarta untuk kepentingan tertentu. Saya mengirimkan data berupa file dengan format Word pada saat itu.

Hari ini, ternyata Bapak Yai sudah menghebohkan sedikit penghuni grup Whatsapp santri. Beliau memberitahu bahwa kenalannya dari Jakarta tersebut meminta dikirim ulang data santri dalam file bentuk lain yaitu file dengan format Excel. Saya langsung sigap dan tanggap. Beruntungnya saya sudah dibekali dengan laptop Xiaomi 13’3 inch yang pemakaiannya lumayan kenceng untuk mengolah data-data seperti ini alias tidak lemot, ngelag, dan semacamnya. Tidak sampai 5 menit, saya sudah berhasil mengirimkan file format Excel yang diminta ke alamat email yang dituju.

Bapak Yai saya bukan berangkat dari zaman milenial. Beliau adalah pria paruh baya yang baru saja menikmati kecanggihan teknologi. Selain karena tuntutan zaman, profesi lain beliau sebagai dosen mengharuskan Bapak Yai untuk bisa mengakrabkan diri dengan laptop untuk masalah pekerjaan dan handphone sebagai komunikasi. Hemat saya, Bapak Yai tidak terlalu sering bermain handphone apalagi sampai berkirim pesan lewat chat. Jadi, terkadang di suatu kesempatan, ada beberapa kalimat yang Bapak Yai kirimkan lewat chat grup tidak langsung dipahami oleh santrinya. Entah itu karena singkatan suatu kata yang tidak dipahami atau kurang lebihnya tanda baca untuk kalimat. Maklum, Bapak Yai lebih mencintai ilmu dan seisinya dibanding berjam-jam melihat layar handphone. Bagi beliau, kitab-kitab yang berjajar di perpustakaan mininya lebih menyenangkan untuk didalami ketimbang mainan handphone dan stalking gak jelas ala anak milenial.

Hari ini, Bapak Yai saya mengirim pesan chat di grup seperti ini,

Saya pun segera membalas bahwa file yang diminta sudah dikirimkan. Tak lupa untuk membalas chat Bapak Yai di grup untuk mengonfirmasi bahwa saya sudah selesai mengirim file. Tapi, pada saat itu sebenarnya saya masih sempat berpikir. Bapak Yai sempat menulis kata “tks” pada chat beliau. Saya bingung apa arti dari kata tersebut. Saya sebagai santri takut jika ada kesalahpahaman di chat. Bisa jadi kata “tks” adalah singkatan dari suatu hal yang berpengaruh penting dalam pengiriman file. Otak saya masih berpikir keras untuk menemukan maksud Bapak Yai pada kata “tks” tersebut sebelum Bapak Yai membalas chat saya di grup,

Ealah, “tks” itu maksudnya Thanks toh. Kadung lekku mikir jeru. Hehe. Sebagai santri solehah, saya pun memberikan balasan yang baik dong.

Beginilah! Saya memang lebih menyukai obrolan langsung daripada sekadar via chat. Rawan terjadi kesalahpahaman. Kadang kalimat yang bermaksud santai tapi yang baca malah berpikir bahwa kalimat yang kita sampaikan mengandung kemarahan. Lebih nyaman ngobrol langsung sih sebenarnya. Kadang kalau lek gak srantan atau sedang capek ya pakai voice note ketika di ruang chat. Ngetik panjang-panjang kan capek. Apalagi kalau cuma di read doang. Idih!

Tak lupa saya update story baru atas keberhasilan saya menemukan kosakata baru di chat hari ini. Siapa tahu ada salah satu teman di Whatsapp yang belum tau arti kata yang baru saja saya temukan hari ini.

Kerecehan Idul Adha Tahun Ini

Setelah dua tahun tidak pernah pulang ketika Idul Adha, akhirnya saya berkesempatan untuk pulang juga setelah pondok pesantren memberikan jatah libur yang luar biasa banyak (bagi saya) yaitu sekitar 10 hari. Tahun-tahun sebelumnya, libur Idul Adha yang diberikan oleh pesantren hanya 3 hari. Dengan pertimbangan waktu, jarak dan biaya transportasi, saya lebih memilih untuk tetap di pondok dan melaksanakan solat Id di tanah rantau. Jika jatah libur bisa sampai seminggu, saya akan memikirkan ulang rencana untuk pulang.

Alhamdulillah! Akhirnya saya pulang juga. Awalnya saya memberi kabar ke Abah Ibuk melalui grup Whatsapp keluarga bahwa saya akan pulang. Saya ingin tahu respon mereka seperti apa. Ternyata mereka sangat senang kalau anaknya pulang. Maklum, karena saking jauhnya tempat rantau, anak gadis sulung mereka ini memang jarang sekali pulang. Bahkan, semester kuliah yang sedang saya tempuh dengan berapa kali saya pulang itu sama dan bisa digunakan sebagai titen-titenan. Misal, kalau saya sudah pulang empat kali, berarti kuliah saya sudah semester empat.

“Ndengaren to nduk kok libur suwe. Ya wes muleh ae” (Tumben liburnya lama, Nduk. Ya udah pulang aja) tulis Ibuk di grup Whatsapp.

“Muleh to nduk. Abah ki kuangen lo.” tulis Abah di grup Whatapp juga. Tak lupa dengan berbagai emot hati dan ekspresi untuk menggambarkan perasaan senang bercampur rindu.

Akhirnya, pada 10 Agustus 2019, saya berangkat menuju terminal sehabis solat subuh. Saya diantar oleh Mbak Risa, salah seorang teman di pesantren. Di tengah jalan, saya meminta Mbak Risa untuk mengantarkan saya ke salah satu minimarket 24 jam. Saya mau mengambil uang kiriman Ibuk kemarin malam karena disuruh bawa uang agak banyak. Biar tenang katanya.

“Emang minimarketnya buka?”, tanya mbak Risa

“Buka, Mbak. Lha wong itu minimarket 24 jam.”

“Ada ATM-nya ya?”

“Ada dong, Mbak”

Sesampainya di minimarket tersebut, saya masuk ke dalam minimarket dengan terheran-heran. Pasalnya saya tidak melihat orang sama sekali di dalam minimarket yang nyala terang benderang di tengah-tengah toko atau bangunan lain yang lampunya masih dimatikan. Saya langsung menuju ke mesin ATM. Ternyata Mbak Risa mengikuti saya dari belakang.

“Ya ampun Mbak. Ndek kene kok gak enek wong e.” (Ya ampun Mbak. Di sini kok gak ada orangnya)

“Mosok sih?”

“Biasane kan setiap masuk minimarket disambut.” Saya bermaksud guyon sebenarnya. Saya kira benar-benar tidak ada orang di dalam minimarket. Rapi tiba-tiba mas-mas pegawai minimarket tersebut muncul dari bawah meja kasir. Masnya terlihat agak salting namun tetep sok sibuk main hape.

Karena merasa tidak enak, saya langsung membeli makanan ringan dan sebotol air mineral. Padahal niatnya hanya tarik tunai aja. Ternyata ada orangnya di minimarket. Kirain gak ada orang karena ketiduran. Guman saya dalam hati.

***

Malam hari saya rebahan di dipan. Seharian naik bus rasanya memang melelahkan. Saya iseng scrolling beranda Twitter hingga menemukan satu video menarik yaitu video tentang sapi yang tiba-tiba masuk ke dalam sebuah restoran. Sapi tersebut benar-benar masuk restoran. Video ini bertambah lucu dengan tambahan backsound lagu susu nasional yang biasa dijual keliling.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Tweet video tersebut sudah ditonton sebanyak lebih dari 500 ribu kali dan diretweet sebanyak 21 ribu kali. Tampak sapi berwarna hitam tersebut dengan polosnya memasuki pintu restoran yang terbuat dari kaca. Sapi tersebut masuk hingga mendekati meja kasir di dalam restoran. Tampak dua orang perempuan yang sedang asyik makan langsung kaget dengan kedatangan seekor sapi tersebut. Secara naluri hewan, mungkin sapi tersebut mengira bahwa restoran tersebut adalah kandangnya. Sapi tersebut pun balik badan dan berjalan keluar restoran dengan meninggalkan tanda tanya besar bagi orang-orang di dalam restoran tersebut. Kelucuan adegan sapi berwarna hitam masuk restoran sebelum Idul Adha ini ditambah dengan kerecehan warga Twitter yang sibuk beramsumsi bahkan berimajinasi mengenai alasan mengapa sapi tersebut bisa sampai masuk restoran.

Seperti itulah kerecehan pada Idul Adha tahun ini. Sebenarnya masih banyak cerita yang bisa ditemukan di sosial media manapun. Semoga ada yang bisa diambil dari setiap kerecehan yang mengundang tawa segenap netizen di negara +62 ini. Sekian~