Syarat Penghafal Al Quran, Lek Iso

Kemarin saya mendapatkan wejangan yang sangat menarik dari salah seorang guru setelah lebih dari setahun tidak bersua. Beliau adalah Abah Yai Chusaini, pendiri PPTQ Nurul Furqon Malang. Terlepas beliau masih mengingat saya atau tidak setelah sekian lama tidak pernah bertemu.

Waktu itu saya beserta rombongan dari Jember melakukan studi banding guna memperbaiki sistem hafalan Al Quran kami yang masih merupakan program baru dari Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna. Kala itu kita masih bingung dengan sistem hafalan yang cocok untuk kita yang notabene sibuk kuliah tapi tetap gigih menghafalkan Al Quran. Akhirnya diadakan rencana studi banding.

Tidak mudah mencari pondok pesantren yang satu style dengan kita, sibuk kuliah dan sibuk menghafal Al Quran. Kebanyakan pondok pesantren jika pondok tahfidz maka santri diisolasi dari kehidupan luar. Mereka pasti tidak memegang handphone atau alat komunikasi apapun sehingga mereka sangat fokus. Bahkan mereka bisa saja tidak diizinkan keluar pondok meskipun hanya sebentar.

Akhirnya kami menemukan PPTQ Nurul Furqon yang beralamat di Wetan Pasar Besar. Alhamdulillah pondok tahfidz tersebut sesuai dengan kami – santrinya kebanyakan mahasiswa dan mau menghafalkan Al Quran.

Pengasuh PPTQ Nurul Furqon, Abah Yai Chusaini memberikan wejangan bagi tamu beliau – rombongan dari PPM Al Husna Jember – bahwa syarat menghafal Al Quran adalah cukup dengan dua kata, Lek Iso.

Lancar bacaannya. Termasuk dalam hal ini sudah benar bacaan tajwid dan makhrojul hurufnya. Ini merupakan pondasi dalam menghafal Al Quran. Sebelum memulai hafalan, kita harus membenarkan bacaan Al Quran kita terlebih dahulu.

Eikhlas. Dalam menghafal Al Quran, kita harus ikhlas lillahita’ala. Jangan menghafal Al Quran karena beasiswa, karena ingin dipanggil gelar al hafidz, karena ini, karena itu. Niatkan ikhlas kepada Allah. Ketika kita sudah menghafal Al Quran, dunia pasti akan mengikuti kita.

Kuat secara fisik dan mental adalah modal selanjutnya dalam menghafal Al Quran. Kita harus kuat secara mental untuk menghafalkan Al Quran hingga selesai serta menjaganya seumur hidup. Kita harus kuat secara fisik juga agar kegiatan kita dalam menghafal Al Quran bisa maksimal.

Istiqomah. Bagi penghafal Al Quran, kita harus istiqomah seumur hidup dalam menghafal dan menjaga hafalan

Sabar dalam menghafalkan Al Quran. Meskipun Al Quran susah untuk dihafalkan, kita harus sabar dan terus sabar bersama Al Quran.

Ora gampang putus asa ketika menghafal Al Quran. Selain sabar, kita harus semangat serta tidak putus asa dalam menghafalkan Al Quran.

Abah Chusaini mengakui bahwa beliau harus sering-sering memotivasi santrinya agar tetap teguh menghafalkan Al Quran meskipun sibuk menuntut ilmu di bangku kuliah. Jadi, beliau sering memikirkan cara cerita motivasi agar terdengar menyenangkan. Salah satunya adalah dengan membuat jembatan keledai rangkaian kata seperti di atas.

Matur suwun, Abah Yai….

Penyerahan vandel
Foto bersama antara Pengasuh PPM Al Husna Jember dengan Pengasuh PPTQ Nurul Furqon Malang
Foto bersama

Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Resensi Novel Sejarah Sabda Palon – Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Identitas buku

Judul : Sabda Palon

Penulis : Damar Shashangka

Penerbit : Dolphin

Tahun terbit : Cetakan kedua, Januari 2017

Tebal buku : 447 halaman

Sinopsis

Cerita sejarah ini berlatar pada tahun 1400-an Masehi, tepat menjelang keruntuhan Majapahit. Kala itu, agam Islam sudah berkembang pesat di berbagai daerah kekuasaan Majapahit. Hal ini membuat pemerintah Majapahit tergerak untuk mengadakan menteri yang bertugas khusus untuk mengurus agama Islam. Majapahit sendiri sudah memiliki menteri khusus untuk mengurus agama Hindu dan Budha. Keluarga Keraton Keling, Bhre Kertabhumi atas usulan istrinya, Dewi Amarawati, mengutus Syekh Ibrahim Al-Akbar untuk mengurus agama Islam di Majapahit. Dewi Amarawati merupakan putri Champa sekaligus adik dari Syekh Ibrahim Al-Akbar. Secara otomatis, Syekh Ibrahim yang masih keturunan Rasulullah SAW memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit.

Islam memang sudah berkembang di Majapahit. Perkembangan Islam di Nusantara bisa dibilang tidak maksimal karena tidak ada pemuka agama yang dekat dengan penguasa. Beberapa ulama yang masih keturunan Rasulullah SAW sudah sejak lama menjajaki bumi Jawa untuk mensyiarkan agama Islam termasuk ayah Syekh Ibrahim, Syekh Jamaluddin Syah Jalal. Kepergian ayahnya yang sudah lama ke tanah Jawa membuat Syekh Ibrahim ingin segera menyusul pula ke tanah Jawa. Karena terdapat permintaan dari Kerajaan Majapahit pula, Syekh Ibrahim tertarik untuk turut mensyiarkan agama rasul di tanah Jawa sekaligus mencari kabar ayahnya di sana.

Syekh Ibrahim ditemani Sayyid Ali Murtadlo dan tiga belas santri pilihan berangkat dari Kerajaan Champa menuju Kerajaan Majapahit. Rombongan Syekh Ibrahim berangkat menggunakan jung melewati lautan yang luas untuk memenuhi undangan dari Bhre Kertabumi. Naas, pada suatu hari di tengah laut, badai besar tiba-tiba menghadang perjalanan rombongan Syekh Ibrahim sehingga menyebabkan jung rusak dan tenggelam. Badai besar yang terjadi membuat jung rombongan Syekh Ibrahim terdampar di Kamboja.

Terdamparnya rombongan Syekh Ibrahim di Kamboja bukanlah kabar baik. Terutama ketika Syekh Ibrahim membawa serta tiga belas santri yang merupakan orang Champa. Perlu diketahui bahwa hubungan Champa dengan Kamboja tidak terlalu baik saat itu. Ketika keberadaan rombongan Syekh Ibrahim diketahui oleh pasukan Kamboja, rombongan Syekh Ibrahim langsung ditahan oleh Kerajaan Kamboja.

Nasib Syekh Ibrahim beserta rombongannya mungkin tidak akan selamat dari kerajaan Kamboja jika tidak berkat Panglima Samdech Ram. Samdech Ram adalah salah satu panglima pasukan Kamboja yang berutang budi atas kebaikan rombongan Syekh Ibrahim ketika Panglima Samdech Ram diserang sihir yang tidak diketahui. Berkat bantuan Panglima Samdech Ram, Syekh Ibrahim dapat mengirim tiga orang santrinya yang dapat berbahasa Sansekerta untuk dikirim ke Kerajaan Majapahit demi meminta bantuan. Berbekal surat Syekh Ibrahim untuk Raden Bhre Kerthabumi, penguasa Keraton Keling di Trowulan, tiga orang santri tersebut berusaha untuk secepatnya sampai ke tanah Jawa yang saat itu perjalanan paling canggih adalah masih jung di lautan sembari menunggu arah angin. Ketika surat sudah sampai di tangah Bhre Kertabhumi, beliau langsung menyiapkan armada besar beserta pasukan untuk menjemput Syekh Ibrahim beserta rombongan. Jika rombongan Syekh Ibrahim tetap ditahan pihak Kamboja, Majapahit tidak akan menahan pertumpahan darah yang akan terjadi di Kamboja.

Gertakan Majapahit dan penaklukan pelabuhan Prey Nokor oleh pasukan Majapahit membuat Kamboja gempar. Panglima Samdech Ram dengan rencananya tersendiri mengusahakan agar rombongan Syekh Ibrahim dapat kembali ke Majapahit. Setelah rombongan Syekh Ibrahim berhasil diselamatkan, Majapahit mau menarik pasukannya dari Kamboja.

Syekh Ibrahim belum sempat melanjutkan perjuangannya untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa dikarenakan sakitnya semenjak masih berada di jung dalam perjalanan menuju Majapahit. Sesampai di Pelabuhan Tuban, Syekh Ibrahim masih tetap sakit hingga meninggal dan dimakamkan di sana. Perjuangan Syekh Ibrahim dilanjutkan oleh anaknya, Sayyid Ali Murtadlo. Sayyid Ali Murtadlo beserta santri-santri yang tersisa menuju Trowulan untuk memenuhi undangan Raden Bhre Kerthabumi yang sebelumnya dilimpahkan ke sang ayah.