Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan


Resensi Perbandingan Buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan

Beberapa hari yang lalu, saya berhasil menamatkan bacaan dari dua buku yang berbeda. Buku pertama adalah Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut Ea dan buku kedua adalah Lambe Akrobat, Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip karya Agus Mulyadi. Kedua buku ini mengangkat tema tulisan jenaka. Ada saja di sudut tertentu pada kedua buku tersebut yang membuat saya tertawa sendiri.

Sinopsis Buku Para Bajingan yang Menyenangkan dan Lambe Akrobat #TantanganRomlah

Meskipun bertema humor, kedua buku ini tetap memiliki sense yang berbeda. Buku karya Puthut Ea yang berjudul Para Bajingan yang Menyenangkan menyajikan cerita tentang sekelompok anak muda dengan hobi nyeleneh yaitu berjudi. Sekelompok anak muda tersebut menamai diri mereka Jackpot Society. Mereka adalah sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak memiliki masa depan karena nyaris gagal dalam studi mereka. Dengan latar kisah di kota pendidikan, Yogyakarta, Jackpot Society melakoni sesuatu yang dianggap dapat menyelamatkan kehidupan mereka yaitu bermain judi. Dengan berjudi, cerita-cerita jenaka yang diaktori oleh anggota Jackpot Society menjadi muncul. Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa bermain judi terlepas status mereka yang masih menjadi mahasiswa.

Salah satu anggota Jackpot Society, Almarhum Jadek, pernah meminjam uang yang digunakan sebagai dana pembangunan masjid dari kakeknya. Dengan alibi meminjam, almarhum meminjam uang tersebut untuk berjudi sebentar. Menang atau kalah, uang itu akan dikembalikan utuh.

“Terus apa hubungannya kalau dipakai judi?” kejar salah seorang teman

“Lho kamu gimana sih? Ya berjudi dengan duit barokah!”

“Barokah kok tetep kalah…”

“Yang penting kan berusaha!”

“Berusaha apa?”

“Ya berusaha judi!”.

Lambe Akrobat karya Agus Mulyadi menyajikan kisah yang berbeda dibandingkan buku sebelumnya. Lambe Akrobat bercerita tentang keluarga hansip dan geng koplo yang kehidupannya dekat dengan Agus. Keluarga hansip adalah sebutan bagi keluarga Aguss karena bapaknya yang bekerja sebagai hansip. Sedangkan geng koplo adalah sebutan bagi teman-teman Agus.

Salah satu cerita yang diangkat adalah aksi salah seorang teman penulis yang mengusir hantu dengan huruf hijaiyah. Awalnya, Agus mengira bahwa hantu itu takut dengan tulisan arab. Bukan ayat Al Quran. Hal ini didasari oleh salah satu film yang ditonton Agus. Film tersebut menampilkan adegan tuyul yang tidak bisa menembus pintu yang ditempeli stiker ayat Al Quran. Sepolos itulah pemikiran Agus zaman dahulu. Pemahaman Agus mengenai hal ini diceritakan pada teman-temannya. Ndilalah salah satu temannya ada yang benar-benar mempraktikkan apa yang dikatakan Agus bahwa hantu itu akan takut dengan tulisan arab. Ketika bertemu hantu, salah seorang teman ini tidak bisa melafalkan apapun selain huruf hijaiyah.

“Alip ba’ ta’! Alip ba’ ta’! Alip ba’ ta’!” ujarnya sambil terpaku di tempat.

Anehnya, hantu yang -diyakini- muncul di hadapannya langsung hilang beberapa detik kemudian. Teman ini pun langsung lari terbirit-birit menuju rumah. Keesokan harinya, dengan bangga ia menceritakan kesuksesan yang ia alami kepada Agus.

Padahal jika dibayangkan, mungkin hantu itu hilang bukan karena panas oleh bacaan huruf hijaiyah yang dibaca oleh teman Agus. Hantu itu hilang karena tidak kuat menahan tawa saking gelinya melihat kelakuan manusia yang dilihatnya.

Perbandingan Kelebihan dan Kekurangan Buku

Baik Para Bajingan yang Menyenangkan dan Lambe Akrobat memiliki tebal yang ringan sehingga dapat selesai dibaca dalam sehari – bahkan bisa sekali duduk jika pembaca benar-benar sedang nganggur. Dengan tebal tidak lebih dari 200 halaman, kedua buku tersebut sangat cocok untuk menyajikan cerita humor.

Secara spesifik, buku Para Bajingan yang Menyenangkan dapat memanfaatkan halaman dengan baik sehingga setiap elemen pada halaman terisi penuh dengan tulisan. Hal ini berbeda dengan buku Lambe Akrobat yang memiliki banyak space kosong pada halaman sehingga tulisan terkesan lebih sedikit. Namun jangan salah, buku Lambe Akrobat justru memiliki kelebihan yaitu penambahan ilustrasi pada setiap cerita yang disajikan. Berbeda dengan buku Para Bajingan yang Menyenangkan karena tidak memiliki ilustrasi tambahan kecuali pada sampul buku saja sebagai gambaran sosok “bajingan” versi cerita mereka.

Secara keseluruhan, baik buku Para Bajingan yang Menyenangkan atau Lambe Akrobat sudah sangat baik dengan penambahan kosakata bahasa Jawa sebagai penutup buku. Hal ini didasari karena pada beberapa sudut pada buku tersebut menyajikan cerita dengan menggunakan beberapa kosakata bahasa Jawa agar nuansa humornya tidak hilang.

Identitas Buku

wp-1541519553880-975717943.jpg

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis             : Puthut Ea

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama tahun 2016

Tebal buku      : 177 halaman

Dimensi buku  : 20 x 13 cm

wp-1541519092751-2023862161.jpg

Judul   : Lambe Akrobat – Kisah Geng Koplo dan Keluarga Hansip

Penulis : Agus Mulyadi

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama, Mei 2018

Tebal buku      : 165 halaman

Dimensi          : 20 x 13 cm

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s