Sikap hangat di tengah dinginnya Malang


Sikap hangat di tengah dinginnya Malang

Aku pernah menyesalkan nasibku ketika pertama kali hidup di Malang. Ternyata Malang bersuhu dingin. Terutama ketika malam dan menjelang pagi. Aku tidak memiliki selimut pada saat malam pertama aku tidur di Malang. Alhasil, aku harus mengakrabkan diri dengan dingin. Tubuhku menggigil. Dengan segala kepengecutanku dalam menyampaikan perasaan, aku memilih diam kepada 9 teman sekamarku bahwa aku betul betul kedinginan. Beruntung aku membawa jaket dan sepasang kaus kaki sebagai penghangat sementara. Meski dingin, aku tetap harus memejamkan mata. Besok, semua pekerjaan menuntut harus diselesaikan.

Sebenarnya, kompleks Pondok Pesantren Nurul Furqon terletak dekat dengan pasar besar kota Malang. Pondok pesantren ini memang terletak di sebelah timur pasar besar yang lebih populer dengan sebutan “Wetan Pasar Besar”. Pasar yang mengambil tempat di bekas gedung Matahari Mall itu terdiri dari dua lantai. Akses pondok pesantren yang sebegitu dekatnya dengan pasar membuat segala kebutuhan dapat dijangkau dengan mudah dan yang pasti, murah.

Sebagai santri baru yang sedang belajar beradaptasi dengan suasana kota Malang, aku butuh selimut. Sayangnya, aku tidak berani berangkat ke pasar sendirian meskipun jaraknya dekat. Rasa-rasanya aku masih asing di sini.

Sudah dua hari aku bertahan tidur tanpa selimut. Benar benar dingin. Aku pun juga bersikap dingin dengan orang orang di sekitarku. Sebenarnya bukan bersikap dingin. Sikapku lebih mengarah kepada diriku yang kurang pandai bergaul dan tidak bisa basa basi sok akrab. Jadi, aku lebih memilih diam.

Malam ketiga, ketika hendak berbaring, Mbak Cika, teman sekamar, menyapaku.
“Kamu gak kedinginan, Its?”
“Enggak kok mbak. Aku sudah pakai jaket sama kaus kaki.”, jawabku ngeles. Aslinya sih kedinginan. Hanya saja, rasa dinginnya berkurang sedikit karena sudah memakai jaket dan kaus kaki.
“Kamu gak bawa selimut ke sini?”
“Gak kepikiran bawa selimut mbak.”

Sekilas aku teringat perkataan Ibu untuk membawa selimut. Perkataan Ibu aku tolak dengan alasan sudah bawa barang banyak untuk masuk pondok pesantren. Aku memang belum berpengalaman keluar rumah sebelumnya. Baru setelah sampai pondok, aku menyesal karena tidak menuruti perkataan Ibu untuk membawa selimut.

“Ayo aku temenin beli di pasar!”, sahut Mbak Cika kemudian.
“Mbaknya mau nemenin aku?”
“Iya. Besok pagi ya. Sekalian beli bantal dan guling. Aku besok gak kuliah kok”
“Terimakasih mbak. Tapi aku memang gak pake bantal kalo tidur. Jadi, beli selimut saja sudah cukup”

Karena hari sudah semakin malam, kami berdua memutuskan untuk tidur

***

Beberapa hari kemudian, pagi harinya, aku dan Mbak Cika berangkat ke pasar. Kami tidak langsung berangkat keesokan harinya setelah percakapan kemarin malam. Alasannya karena kami berdua sama-sama lupa dengan rencana berangkat ke pasar. Mbak Cika pun juga mendadak ada jam kuliah pagi.

Aku dan Mbak Cika menelusuri pasar. Jujur saja, bagiku, inilah pertama kali aku menginjakkan kaki ke Pasar Besar setelah kurang lebih seminggu tinggal di Malang. Rasanya masih takut-takut. Keberadaan Mbak Cika selama perjalanan yang membuatku merasa aman. Tak lupa, Mbak Cika memberiku kiat-kiat ketika menjelajahi pasar. Satu hal yang paling krusial adalah barang bawaan harus dijaga betul-betul.
“Tasnya taruh depan. Dipegang baik-baik. Takutnya nanti dicopet.”, kata Mbak Cika kepadaku. Aku mengangguk.

Setelah memilih dan memilah, akhirnya aku bisa kembali ke pondok membawa selimut berbahan polyster yang lembut. Akhirnya aku bisa menghadapi dinginnya kota Malang ketika malam hari. Selimut baruku langsung aku pakai. Tidak dicuci. Kalau dicuci terlebih dahulu, pasti akan memakan waktu lama.

“Terimakasih ya mbak sudah menemani”, ujarku kepada Mbak Cika. Mbak Cika tersenyum.

***

Pagi hari, tepatnya pada hari Sabtu, seluruh santri wajib turun di aula lantai satu meskipun setoran atau tidak. Peraturan di pondok memang mewajibkan santri untuk berada di tempat setoran yaitu aula pada hari Sabtu dan Minggu ketika waktu setoran. Waktu setoran hafalan di PPTQ Nurul Furqon dibuka tiga kali sehari yaitu pagi setelah subuh, sore setelah Ashar, dan malam selepas Isya’.

Rupanya, pagi itu bukanlah pagi yang menyenangkan bagiku.

Aku mempersiapkan hafalanku. Tapi tiba-tiba perutku sakit sekali. Tanpa basa basi, aku langsung naik ke lantai dua dan menuju kamar mandi. Sekilas kondisi pondok di lantai dua begitu sepi. Tapi perut yang sakit membuatku tidak sempat mempedulikan keadaan. Aku langsung masuk kamar mandi dalam waktu yang lama.

Tiba tiba pintu kamar mandi tempatku bersemayam digedor dengan sangat keras.
“Siapa di dalam?!”, kata seseorang dengan nada tinggi. Aku bingung. Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan seseorang dari luar itu. Perutku jauh terlampau sakit sehingga tidak mempedulikan huru hara dari luar.
“Siapa di dalam??!!!!!”. Suara seseorang itu kian meninggi. Tak ketinggalan dengan gedoran pintu kamar mandi yang keras tanda tak bersahabat.
“Wayah ngaji kok malah adus! (Waktu ngaji kok malah mandi)”, sahut seseorang tadi dengan nada tinggi. “Siapa di dalam?!!!”, teriaknya lagi. Dengan terpaksa aku menjawabnya.
“Itsna…”.
“Siapa?”
“Itsna mbak…”.
“Ngapain di dalam kamar mandi?”.
“Sakit perut mbak…”.
Seketika tidak ada suara dari balik pintu kamar mandi yang sedari tadi digedor hingga nyaris copot. Aku masih bingung. Apa salah dan dosa seseorang yang sedang ada keperluan di kamar mandi sehingga sampai diteriaki dan digedor sedemikian rupa. Kebingunganku hanya berlangsung sepersekian detik. Selanjutnya, aku melanjutkan keperluanku di kamar mandi hingga tuntas.

Sorenya, seluruh santri turun ke aula termasuk aku. Setelah waktu setoran berakhir, Mbak Cika menghampiriku.
“Kamu tadi yang ada di kamar mandi pas pagi?”
“Iya mbak.”
“Lain kali gak boleh ya!”
Mbak Cika langsung berkelakar panjang kali lebar mengenai peraturan pondok ketika hari Sabtu dan Minggu. Aku mlongo. Ternyata insiden gedoran pintu kamar mandi pagi tadi karena aku melanggar peraturan.
“Maaf mbak. Saya gk tau.” Karena masih berstatus sebagai santri baru, kesalahanku tadi pagi dimaklumi oleh pengurus pondok.

Beberapa menjelang, aku baru mengetahui bahwa Mbak Cika adalah keamanan pondok. Keamanan adalah salah satu divisi dalam kepengurusan pondok yang bertugas menegakkan peraturan. Tanggung jawab inilah yang tak ayal membuat keamanan pondok adalah orang-orang yang paling dibenci oleh santri lain. Apalagi bagi santri yang suka melanggar aturan. Beberapa mungkin tidak suka dengan caranya menegur santri ketika salah. Tapi sederhananya, dia hanya menjalankan tugasnya.

Mbak Cika pun demikian. Dia terlihat seperti paling dimusuhi di pondok. Sikapnya semau gue. Tapi jika ada yang melanggar peraturan pondok, sikapnya langsung tegas. Tidak jarang ia sampai marah-marah dengan santri yang bersangkutan terlepas telah melanggar peraturan atau sekadar salah paham semata.

Terlepas statusnya sebagai pengurus pondok bagian keamanan, sikap Mbak Cika membuatku terkesan di tengah dinginnya malam. Yap, sikapnya yang hangat dan mau menolongku untuk sekadar menemani membeli selimut di pasar.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s