Resensi Buku karya Puthut Ea – Para Bajingan yang Menyenangkan


33003399Resensi Buku karya Puthut Ea – Para Bajingan yang Menyenangkan

Identitas Buku

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis             : Puthut Ea

Penerbit           : Buku Mojok

Tahun terbit    : Cetakan pertama tahun 2016

Tebal buku      : 177 halaman

Dimensi buku  : 20 x 13 cm

Sinopsis

Buku Para Bajingan yang Menyenangkan mengisahkan tentang persahabatan enam orang yang memiliki hobi mengerikan yaitu berjudi. Mereka adalah almarhum Jadek, Bagor, Khuntet, Proton, Babe, dan penulis buku sendiri, Puthut. Mereka menamai kelompok pertemanan mereka dengan nama Jackpot Society. Di tengah kesibukan kuliah, mereka senang menggeluti kegiatan perjudian mereka. Padahal sebagai orang berpendidikan, mereka tahu betul bahwa judi yang selama ini mereka lakoni lebih banyak kalahnya daripada menangnya. Tak jarang barang-barang mereka hilang karena digadaikan untuk bermain judi. Almarhum Jadek pernah mengikhlaskan mobilnya karena ia kalah taruhan. Meski sering menuai kekalahan, tapi mereka selalu menikmati hobi buruk mereka. Bagi anggota Jackpot Society, judi adalah permainan yang menyenangkan. Menang senang kalah pun tak kalah senang. Konon, penjudi itu senang memamerkan kekalahannya.

Almarhum Jadek memiliki cara nyentrik untuk merayakan kemenangan judinya. Pernah suatu ketika, geng Jackpot Society menang judi kurang lebih 15 juta. Pada zaman jahiliyah mereka, uang 15 juta adalah nominal yang fantastis. Sebagai perbandingan, ketika cerita ini terjadi, harga seporsi kepala tongkol warung padang “Untuang” di Terban adalah 3000 rupiah, harga seporsi pecel di tenda kaki lima adalah 1500 rupiah, harga rokok Gudang Garam Internasional dan Djarum Super kurang lebih 2000 rupiah.

Mereka merayakan kemenangan dengan pergi ke Ramai Mall di Malooboro. Mereka sepakat begitu sampai di pintu mall, setiap orang diputar tiga kali lalu menuding sesuatu. Apa pun yang mereka tuding, harus mereka beli.

Puthut mendapat giliran pertama. Ia memutar badan tiga kali dengan mata tertutup. Begitu membuka mata, tangannya menuding gerai kacamata. Akhirnya, Puthut membeli kacamata tersebut dengan harga 350 ribu rupiah.

Ketika giliran Kunthet, tangannya menuding toko baju. Ketika giliran Alharhum, tangannya menuding toko martabak di luar mall. Tiba giliran Bagor, Bagor harus apes karena mendapati dirinya menuding toko BH. Artinya, ia harus membeli BH sesuai kesepakatan awal permainan. Bagor hanya bisa misuh-misuh tidak jelas. Ketika giliran Proton, ia malah menuding pos satpam. Semua temannya tertawa. Tanpa sadar, permainan mereka di tengah mall sudah ditonton oleh orang-orang di sekitar mall sembari tertawa terbahak-bahak.

Pengalaman mereka di dunia perjudian membuat mereka banyak melakukan inovasi mengenai langkah-langkah dalam bermain judi. Contohnya adalah Kunthet. Mahasiswa Jurusan Geofisika UGM adalah penjudi yang tangguh dan satu-satunya orang yang pernah beberapa kali mengeluarkan teori judi. Dan sayangnya, tidak adalah satu pun teori judinya yang membuat geng Jackpot Society memenangkan permainan judi.

Teori terakhir yang Kunthet keluarkan adalah teori bola salju. Teori ini digunakan untuk permainan judi bola. Teori singkatnya adalah kita memasang nominal terkecil ketika pertama kali melakukan permainan, misal 50 ribu. Kita pasang warna hitam. Jika yang keluar merah, kita pasang lagi warna yang sama dengan nilai dua kali lipat, yaitu 100 ribu. Kalau kalah, tetap pasang lagi warna yang sama lagi dengan nominal dua kali lipat, yaitu 200 ribu. Begitu seterusnya hingga 400 ribu, 800 ribu, 1,6 juta, dan seterusnya. Kunthet beranalisis bahwa sangat kecil kemungkinan warna yang sama akan muncul selama tujuh kali berturut-turut.

Mereka pun berangkat judi untuk mempraktekkan teori bola salju Kunthet. Mereka pasang hitam, 50 ribu. Bola keluar merah. Mereka pasang lagi 100 ribu. Bola keluar merah. Pasang lagi 200 ribu. Merah lagi. Pasang 400 ribu. Merah lagi. Pasang 800 ribu. Pasang 1,6 juta. Keluar merah lagi. Ketika memasang 3,2 juta, bola yang keluar pun tetap berwarna merah. Mereka benar-benar terpukul. Salah seorang dari mereka pernah hampir pasang dua kali lipatnya, yaitu 7,2 juta. Tapi, peraturan judi bola hanya memperbolehkan mereka memasang maksimal 4 juta.

Syukurlah, rumah-rumah judi yang dulunya sering mereka sambangi sudah tutup. Bayangkan jika rumah tersebut masih ada hingga sekarang, mau jadi apa nasib anggota Jackpot Society di masa depan? Meski mereka sudah hidup dengan karier dan keluarga masing-masing, sepenggal waktu kebersamaan mereka dengan segenap kejenakaannya begitu berharga walaupun dulunya mereka adalah bajingan. Yap, bajingan yang menyenangkan.

 

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan dari buku Para Bajingan yang Menyenangkan adalah penyajian kosakata bahasa Jawa pada bagian belakang buku untuk membantu pemahaman pembaca yang tidak menguasai bahasa Jawa. Buku Para Bajingan yang Menyenangkan memang kental dengan nuansa jawa terutama humornya. Apalagi cerita yang ditulis dalam buku ini kebanyakan mengambil latar belakang di Yogyakarta. Kekurangan dalam buku ini adalah penyampaian cerita tidak dipisahkan dengan bab sehingga membuat bingung pembaca. Pembatas cerita pada buku hanyalah tiga kata yang ditulis dengan huruf besar. Apalagi setiap bab menyajikan cerita yang tidak runtut satu sama lain. Akan lebih baik jika setiap cerita diberi sebuah judul agar tidak membingungkan pembaca dengan perpindahan antar satu cerita ke cerita lain.

img_20181107_0810332066242348.jpg

img_20181107_080252-990830930.jpg

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s