Resensi Buku Biografi KH Hasyim Muzadi, Cakrawala Berkah Pedagang Roti


KH Hasyim Muzadi – Cakrawala Kehidupan Sang Pengabdi Umat

Identitas Buku

Judul               : KH Hasyim Muzadi – Cakrawala Berkah Pedagang Roti

Penulis             : Ahmad Millah Hasan

Tebal buku      : 532 halaman

Sinopsis

220px-Ahmad_Hasyim_Muzadi
Sumber gambar dari Wikipedia

KH Hasyim Muzadi, sosok kelahiran 8 Agustus 1944 di Bangilan, Tuban, Jawa Timur, merupakan salah satu tokoh yang turut berperan untuk menyebarkan paham Islam Rahmatan lil Alamin kepada Indonesia dan dunia melalui organisasi Nahdhatul Ulama. Kiai Hasyim mengontribusikan hidupnya untuk umat serta memperjuangkan toleransi dan perdamaian utamanya pada masalah agama di Indonesia bahkan dunia. Berbagai catatan kinerja Kiai Hasyim dalam upayanya meredakan konflik di berbagai negara sudah dilakukan melalui kepemimpinananya di organisasi Nahdhatul Ulama. Kiai Hasyim pulalah yang berhasil mematahkan ‘apa kata orang’ bahwa pemimpin NU harus berasal dari trah (keturunan) kiai. Anak seorang pedangang seperti Kiai Hasyim pun bisa berkesempatan menjadi pemimpin NU. Di bawah kepemimpinan Kiai Hasyim, NU terbukti dapat berperan dalam meredakan konflik perpecahan yang terjadi di dunia. Berbagai kinerja Kiai Hasyim yang mumpuni mampu membuatnya terpilih menjadi ketua umum PBNU selama dua periode (1999-2010). Hal ini didasari salah satunya oleh pengalaman berorganisasi yang dilakukan Kiai Hasyim sejak menjadi aktivis PMII di Celaket 10. Bahkan, Kiai Hasyim adalah satu-satunya pemimpin NU yang pernah menduduki berbagai kepengurusan NU mulai dari tingkat paling bawah mulai dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda Ansor NU, Pengurus Cabang NU Malang, Pengurus Cabang NU Jatim hingga Pengurus Besar NU.

Kecerdasaran Kiai Hasyim sejak Kecil

KH Hasyim Muzadi bukanlah orang dari garis keturunan orang kaya bahkan kiai sekalipun. Ia berasal dari Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Ayahnya seorang pedagang tembakau dan ibunya seorang pedagang roti. Meski demikian, Hasyim kecil sudah terbiasa hidup sederhana sesuai ajaran orang tuanya.

Hasyim kecil sudah dikenal sebagai anak yang cerdas. Hasyim masuk Madrasah Ibtidaiyah (setara sekolah dasar) saat berusia 4 tahun. Hasyim pun tidak bersungguh-sungguh ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Ia beralasan karena pelajaran-pelajaran di sekolah terlalu mudah baginya. Akhirnya, ia dipindahkan ke Sekolah Rakyat (SR) Bangilan. Pada saat menduduki kelas 5 SD, pihak sekolah ingin agar Hasyim mengikuti ujian akhir bersama anak-anak kelas 6 SD. Hal ini terjadi karena Hasyim dianggap mampu melahap pelajaran-pelajaran yang ada di kelas SD karena kepintarannya. Akhirnya, dari total 36 murid yang mengikuti ujian nasional, Hasyim adalah satu-satunya murid yang dinyatakan lolos ujian akhir.

Setelah itu, Kiai Hasyim melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Tuban. Kiai Hasyim hanya bersekolah selama 1,5 tahun di sana sampai ia disuruh mondok oleh ayahnya di Gontor. Keputusan ayahnya jelas sangat disayangkan oleh para guru di sekolah tersebut. Mereka merasa kehilangan murid terbaiknya. Salah satu gurunya bahkan pernah mengatakan akan menanggung seluruh biaya Kiai Hasyim selama bersekolah di sana hingga lulus. “Bocah pinter kok dipondokno. Lak gak kuat bandani sekolah, tak sekolahne.” (Anak pintar kok dipondokkan. Kalau tidak kuat membiayai, aku yang akan menyekolahkan).

Ketika di Gontor pun, Kiai Hasyim dikenal sebagai santri yang cerdas. Karena kecerdasannya pula, Kiai Hasyim meremehkan pelajaran-pelajaran di Gontor. Ia jarang belajar. Untuk mengisi waktu luang, Kiai Hasyim hanya memilih banyak tidur dan makan. Beberapa peraturan pondok juga pernah dilanggarnya sehingga Kiai Hasyim harus dicukur gundul sesuai aturan pesantren. Gundul bagi santri merupakan aib. Orang rumah pun paham jika Kiai Hasyim tidak pulang saat liburan, berarti dia sedang gundul. Hebatnya, meski hobinya banyak tidur dan makan, Kiai Hasyim adalah santri yang berprestasi. Ia selalu naik kelas. Bahkan, Kiai Hasyim lulus tepat waktu dan mendapat predikat sebagai santri terbaik di Gontor.

 

Pengalaman Karier Berorganisasi Kiai Hasyim dari Bawah

Setelah pendidikannya selesai di Gontor dan sempat menempuh pendidikan di Pesantren Senori, Tuban dan Pesantren Lasem, Jawa Tengah, Kiai Hasyim melanjutkan pendidikan di IAIN Malang (sekarang UIN Malang) setelah sebelumnya gagal mendaftar di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta karena ijazahnya dari Pesantren Gontor belum keluar. Dari sana, Kiai Hasyim mulai bergabung di PMII. Kebersamaan Kiai Hasyim dan kawan-kawan seperjuangan sangat erat. Mereka sering menyebut diri mereka sebagai aktivis “Celaket 10” yang sebutannya merujuk pada alamat basecamp PMII Malang yaitu di Jalan Celaket (sekarang bernama Jalan Jaksa Agus Suprapto) Nomor 10. Saking akrabnya, Kiai Hasyim dan teman-temannya sering memanggil dengan nama julukan sesuai kebiasaan mereka sehari-hari. Kiai Hasyim sendiri oleh teman-teman aktivis PMII dipanggil dengan sebutan Ndelewer karena kebiasaannya sering terlambat. Kiai Hasyim beragumen bahwa ia telat hanya untuk urusan pribadi bukan urusan umat.

Susah senang dilewati oleh mereka para aktivis Celaket 10 PMII. Bahkan, mereka sering berbagi makanan dan makan bersama jika ada salah satu dari mereka yang sedang kesusahan. Ketika menghadapi masa-masa perekonomian sulit, Kiai Hasyim dan teman-temannya sempat meminta bantuan pada para senior NU. Tak jarang, mereka menjual sesuatu yang sekiranya bisa untuk dijual. Pernah suatu kali, Kiai Hasyim menjual celana salah seorang temannya tanpa sepengetahuan teman tersebut. Uang hasil menjual celana digunakan untuk makan bersama kawan-kawan PMII. Selang beberapa waktu kemudian, celana Kiai Hasyim tak luput untuk dijual oleh teman-temannya sendiri. Meski demikian, tidak ada satu pun dari mereka yang sakit hati.

Dari PMII, bakat Kiai Hasyim mulai terlihat yaitu kepiawaiannya untuk halo-halo alias ceramah. Akhirnya, Kiai Hasyim mendapat banyak undangan berceramah. Hasil ceramah berupa berkat dan uang akan dinikmati bersama teman-teman. Tak jarang, teman-teman Kiai Hasyim rela menunggu di basecamp PMII hingga larut malam demi menunggu kepulangan Kiai Hasyim yang membawa berkat hasil ceramah. Kiai Hasyim pun semakin dikenal oleh masyarakat setempat karena bakat ceramahnya. Hal ini juga tak lepas oleh peran teman-temannya di PMII yang gencar mempromosikan Kiai Hasyim agar diundang di acara-acara yang membutuhkan penceramah. Semakin banyak undangan ceramah untuk Kiai Hasyim, semakin mempermudah urusan makan bagi teman-teman di PMII.

Dari keanggotaannya di PMII serta romantisme aktivis Celaket 10, Kiai Hasyim bergabung di Gerakan Pemuda Ansor. Karier organisasinya meningkat setelah bergabung dan menjadi ketua di Pengurus Wilayah NU Cabang Malang. Karena kegiatan ceramahnya, Kiai Hasyim menjadi sosok yang dikenal oleh berbagai kalangan. Akhirnya, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur mengalahkan pesaing-pesaingnya. Kepiawaiannya membawa organisasi NU dan merangkul berbagai kalangan saat menjabat sebagai Ketua NU Jawa Timur mengantarkannya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU selama dua periode yakni mulai 1999 hingga 2010

 

Tirakat 1000 Hari untuk Mengabdi kepada Umat

Kiai Hasyim pernah menjabat sebagai anggota DRPD Jawa Timur dari Parti Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1986. Suatu ketika, Kiai Hasyim dipanggil oleh KH Anwar di Bululawang, Kabupaten Malang. Panggilan sang kiai pun dipenuhinya. Kiai Hasyim pun kaget karena Kiai Dahlan menyuruhnya untuk berhenti menjadi anggota DPRD yang saat itu disegani banyak orang.

Kiai Anwar berpikir bahwa sudah saatnya Kiai Hasyim memperkuat syiar islam dengan memdirikan sebuah pondok pesantren di Malang. Namun, untuk mendirikan sebuah pondok pesantren syaratnya cukup berat yaitu harus menjalani tirakat. Tirakat yang diarahkan Kiai Anwar kepada Kiai Hasyim saat itu adalah berhenti hidup mewah, puasa, pantang terhadap sesuatu, dan lain-lain selama 1000 hari atau kurang lebih tiga tahun. Permintaan Kiai Anwar pun dituruti. Dasarnya adalah manut dawuhe kiai (patuh dengan perintah/perkataan kiai).

Tirakat 1000 hari pun dilakukan. Kehidupan Kiai Hasyim sekeluarga pun berubah. Mereka hanya makan dari honor hasil ceramah sesuai arahan Kiai Anwar. Muchit Muzadi, kakak sulung Kiai Hasyim, merasa keberatan dengan kabar adiknya yang akan mendirikan pondok pesantren. Sang kakak berpikir bahwa mereka sekeluarga tidak berasal dari keluarga kiai.

Kiai Hasyim terus melanjutkan tirakatnya. Seiring berjalannya waktu, keadaan ekonomi Kiai Hasyim juga semakin sulit. Meski demikian, Kiai Anwar tak tinggal diam. Ia terus mengawasi tirakat Kiai Hasyim sembari membantu keluarga Kiai Hasyim dengan mengirimkan beras, kecap, garam, dan lain-lain untuk bisa dimakan. Akhirnya, Kiai Hasyim berhasil melakukan tirakat sesuai yang diperintahkan Kiai Anwar. “Sekarang bukan saatnya istikhdamul ummah (memanfaatkan umat) tapi khidmatul ummah (mengabdi pada umat)”, kata Nafi, keponakan Kiai Hasyim yang menirukan ucapan Kiai Anwar.

Pembangunan pondok pesantren dimulai mula-mula membangun musola yang menjadi cikal bakal pondok pesantren di Jalan Cengger Ayam Malang. Karena dana terbatas, Kiai Hasyim harus berusaha keras. Pada saat itu pula, Kiai Hasyim mulai memikirkan konsep pondok pesantren seperti apa yang akan ia kembangkan karena Kiai Anwar tidak memberikan ketentuan apapun dalam mendirikan pondok pesantren. Akhirnya, Kiai Hasyim memilih konsep pondok pesantren khusus mahasiswa dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah untuk mendekatkan anak-anak pada ilmu agama karena kebanyakan anak-anak zaman sekarang lebih mengenal ilmu umum di perguruan tinggi dibanding ilmu agama. Alasan lainnya adalah kecenderungan model pendidikan zaman sekarang yang memisahkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Padahal, pendidikan agama juga penting dipelajari untuk menjadi penyeimbang bagi pendidikan  umum. Utamanya ilmu agama sangat penting untuk menjaga keseimbangan rohani seseorang agar tidak memanfaatkan ilmu-ilmu umum dengan cara yang salah.

Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam pun melebarkan sayap. Pada tahun 2001, Kiai Hasyim mendirikan Pondok Pesantren Al Hikam kedua di Depok, Jawa Barat yang lokasinya dekat dengan kampus Universitas Indonesia. Pendirian Pondok Pesantren Al Hikam II ini dapat terlaksana dengan baik berkat seorang dermawan beragama Katolik yang menawarkan tanah seluas 1,5 hektar di belakang Fakultas Teknik Universitas Indonesia dengan harga hanya Rp225.000,-/meter. Padahal saat itu, harga tanah di kawasan tersebut telah mencapai Rp500.000,-. Pembayarannya pun bisa dicicil. Kiai Hasyim mengatakan, sang pemilik tanah diam-diam tertarik pada pemikirannya soal toleransi antar umat beragama. Pendek kata, sang pemilik tanah beragama Katolik tersebut adalah pengagum berat Kiai Hasyim. Ia selalu mengikuti perjalanan Kiai Hasyim dan seluruh ceramah beliau mengenai toleransi serta gerakan lintas agama.

Kini, fasilitas Al Hikam sudah memadai. Selain bangunan asrama yang representatif, Pondok Pesantren Al Hikam sudah dilengkapi toko swalayan dan apotek yang juga dibuka untuk masyarakat umum. “Semua bangunan dan fasilitas ini diupayakan sendiri berdasarkan doa. Ini untuk menjamin agar pesantren tetap independen”, ujar Kiai Hasyim.

img-20180808-wa00241351098529.jpg

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s