Hari Pernikahanku


Ini adalah hari yang tidak pernah kuduga kedatangannya. Aku akan menikah hari ini. Bukan hanya aku saja yang berbahagia, tapi setiap orang disekelilingku pun sedang hanyut dalam kebahagiaan. Semua sanak keluarga dan kerabat menghadiri kediamanku di sini. Mereka berbondong-bondong memberiku hadiah. Tak lupa, penata rias sibuk memoles wajahku seapik mungkin. Tampaknya sang penata rias sedang berusaha maksimal agar aku benar-benar menjadi ratu yang dikagumi oleh semua orang hari ini.

Aku memakai gaun panjang dengan penuh taburan permata yang gemerlapan. Gaun dengan nuansa kebaya berwarna dominan ungu muda itu serasi dengan kerudung satin segiempat yang kugunakan menali leher ke belakang. Tak lupa, sepatu hak tinggi membaluti kakiku hingga mampu menambah tinggi badanku hingga beberapa sentimeter.

Aku segera digiring bersama rombongan keluarga menuju masjid untuk memulai prosesi pernikahan. Akadku akan dilaksanakan di sana. Setelah sampai, aku menunggu di salah satu bilik masjid yang lain selain tempat pengantin pria mengucapkan akad. Adat islam yang menyembunyikan pengantin wanita sebelum akad terucap benar-benar dilakukan padaku. Di dalam salah satu bilik lain, dengan kepala menunduk dan jemari tangan saling bertaut di atas pangkuan, hatiku mencelos pasrah sekaligus berdoa. Detik-detik berpindahnya penanggungjawabku dari Abah kepada mempelai pria akan segera dilakukan.

SAH!

Satu kata itu diulang berkali-kali oleh hadirin yang menyaksikan prosesi akad secara langsung. Setelah doa-doa dipanjatkan oleh yang berkenan, aku digiring untuk keluar dari bilik tempatku menunggu. Aku akan benar-benar bertemu dengan sosok yang sekarang menjadi suamiku.

Dia berperawakan biasa seperti umumnya laki-laki. Tidak gemuk atau kurus. Sedang. Namun sedikit berisi. Rambutnya lurus kaki dengan potongan pendek seperti umumnya laki-laki. Tidak gondrong. Dan yang pasti, rambutnya sesuai tipe Ibuk. Ibuk pernah bilang kalau nggak pengen punya menantu yang rambutnya keriting. Tingginya sejajar denganku karena saat itu kakiku sedang memakai sepatu hak tinggi. Kostumnya dengan jas dan celana panjang bernuansa ungu menambah keserasian kami berdua. Dia menghampiriku dengan senyum bahagia. Aku membalas senyuman itu. Dalam hati, aku masih tidak percaya dengan apa yang kualami. Ketika kini aku dipersatukan untuk seseorang yang sama sekali belum aku kenal sebelumnya. Dan takdir hidupku selanjutnya akan kujalani berdua bersamanya.

“Kamu pulang dulu ya!” katanya kepadaku dengan tersenyum.

“Ha?” aku melongo atas apa yang ia katakan. Dia lantas tersenyum lalu pergi. Mau tidak mau. Dia lantas pergi. Aku hanya bisa mematuhi perintahnya tanpa menemukan jawaban pemuas hati. Aku sadar diri bahwa sekarang aku sudah menjadi istrinya.

Keesokan harinya, aku mendapati diriku secara sadar di rumah. Aku sedang membantu Ibuk membereskan rumah. Mendiamkan diri di rumah membuat hatiku tak kunjung diam untuk mencari jawaban. Bukankah aku sudah menikah? Bukankah aku seharusnya mengikuti kemana suamiku pergi dan tinggal?

“Buk?” sapaku menebas keheningan antara aku dan Ibuk. “Bukankah seharusnya aku ikut suamiku, Buk? Kok aku masih di sini?” Ibuk langsung membalasnya dengan senyum. Ibuk terlihat menarik napas untuk menyiapkan beberapa potonh kalimat untuk memberiku jawaban terbaik.

“Dia minta kamu untuk di rumah dulu karena dia ingin memberimu waktu untuk dapat menerimanya. Dia sadar bahwa kalian belum pernah saling mengenal sebelumnya.” Ibu menarik napas sekali lagi. :Dan dia sudah memintamu dari Abah dan Ibuk secara berani dan baik-baik.” tutup Ibu sembari tersenyum. Aku seperti tidak bisa menangkap ekspresi senyum itu. Apakah itu senyum kebahagiaan dari seorang ibu ketika berhasil melepaskan anak gadisnya untuk seseoranh yang tepat?

***

KRIIIIIIIIIIIIIIIING!

KRIIIIIIIIIIIIIIIING!

KRIIIIIIIIIIIIIIIING!

Bel pondok ketika waktu subuh berbunyi mengagetkan seisi penghuni pondok yang masih nyaman dalam tidurnya. Pertanda pasti jika sebentar lagi solat subuh berjamaah yang dipimpin Bapak Yai akan dilaksanakan. Aku langsung bangkit. Bel pondok yang memekakkan telinga buru-buru ingin kunetralkan dengan air wudhu. Setelah selesai dari kamar mandi, kubangunkan teman-teman sekamar. Lantas, aku langsung melesat turun dari kamarku di lantai dua menuju mushola pondok.

Pukul lima kurang beberapa menit. Solat subuh berjamaah dilaksanakan. Baru mencapai rukuk kedua, tiba-tiba aku terbelalak kaget.

Ya Allah. Mimpi apa aku tadi? Masak aku mimpi nikah? Sama siapa ya? Aku sama sekali tidak kenal sama orang yang menikahiku dalam mimpi. Naas, aku mengingat mimpi anehku ketika sedang solat.

Astagfirullah! Mimpi menjelang subuh memang nggak ada yang bener.

Iklan

5 tanggapan untuk “Hari Pernikahanku”

  1. aaaah ternyata mimpi….keren ni ceritanya, bikin orang mikir ini beneran sejak awal hahahahha….btw salam kenal ya Itsna. Keren ih udah ngeblog sejak usia 12 tahun. Salut…..

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s