Waktu yang Terbuang untuk Membaca


Pernah nggak sih mikir, berapa lama kita meluangkan waktu untuk membuka layar ponsel? Entah sesibuk apapun sampai jungker walek seharian pun, rasanya masih bisa menyempatkan diri untuk membuka notifikasi di ponsel.

Mau buka hape bentar ah!

Niatnya sih sebentar. Tapi ada aja yang seru dari smartphone kesayangan kita sehingga kita pun betah untuk berdua dengannya. Baru-baru ini, game Mobile Legend merajai ponsel cowok-cowok. Waktu senggang mereka habiskan untuk bermain game tersebut beramai-ramai. Apa asyiknya sih game ini? Batinku suatu saat. Bahkan game smartphone semacam ini pernah dilombakan di fakultasku dengan hadiah jutaan rupiah bagi siapa saja pemenangnya. Aku hanya bisa melongo keheranan.

Cewek-cewek pun tidak putus asa untuk berduaan dengan ponsel mereka. Selain chat, satu-satunya hal yang paling sering mereka lakukan adalah membuka feeds Instagram. Aku yang merupakan bangsa cewek mengaku menyukai aktivitas tersebut. Scroll down pembaruan di Instagram beserta snapgramnya sudah menjadi makanan sehari-hari. Istilah endorse, selebgram, hits, kekinian, pencitraan, dan semua berita bisa kita ketahui lewat Instagram. Benar-benar kecanggihan modern yang luar biasa, batinku.

Pada suatu tatap muka kuliah, Pak Saiful, salah satu dosen saya, sempat menyampaikan bahwa menurut statistik, Indonesia menjadi negara dengan tingkat baca paling rendah nomor tiga di dunia. Sedangkan pada tingkat waktu menggunakan ponsel, Indonesia menempati posisi ketiga terbesar di dunia dalam seringnya menggunakan smartphone (maafkan atas ketidakvalidan data karena tidak mengetahui sumbernya). Apa dampaknya? Orang Indonesia tidak gemar mencari tahu dengan membaca banyak hal. Sedangkan berita picisan hasil broadcast berantai dari grup chat langsung dipercaya begitu saja. Seakan masyarakat sudah mampu digiring opininya bahkan diadu domba melalui hoax yang tersebar di internet. Minat baca rendah, sedangkan penggunaan ponsel terlampau sering. Ya begitulah akibatnya.

Akhir-akhir ini aku merenungi sesuatu. Sebenarnya udah sejak lama sih. Aku merenungi soal waktu yang dialokasikan dengan bermain ponsel hingga beberapa waktu. Bahkan bisa sampai berjam-jam mata ini betah liat ponsel. Ketauan deh yang biasanya begadang gara-gara mainan hp doang. 

Ketika suatu siang aku melangkahkan diri di perpustakaan, menikmati dinginnya ruangan perpustakaan yang memeluk kulit, serta bersembunyi di antara rak-rak buku yang tinggi menjulang, ada satu buah kesadaran yang aku temukan. Aku merasa sedang berada di surga. Kesenangan yang sedari dulu menghujam lama di alam bawah sadar. Hingga tak terasa mata menjadi rusak karena terlalu sering melakukannya tanpa mengenal pencahayaan. Aku suka membaca. Itu adalah hobiku sejak kecil. Baru ketika usia 20 tahun ini aku menyadarinya. Tepatnya di tengah kesibukanku sebagai mahasiswi jurusan komputer yang notabene harus berhadapan dengan komputer saben dino.

Aku mulai merenungi berapa waktu yang terbuang cuma-cuma demi menatap ponsel sejak pertama kali ponsel keluaran terbaru jatuh ke pelukan. Momen-momen masa indahku dengan buku bacaan sedari kecil seakan terlupakan dengan keasyikan bermain ponsel. Tanpa sadar, hobi lamaku terpendam dan menduakannya dengan ponsel.

Jika dipikir melalul logika. Jelas tidak terbantahkan bahwa waktu yang digunakan untuk membaca buku lebih bermanfaat daripada mengisi setiap kesenggangan waktu dengan bermain ponsel.

Dan aku merenungi kembali. Betapa manfaatnya jika waktu senggang digunakan untuk membaca buku. Setiap waktu yang tersisa digunakan untuk melanjutkan bacaan buku yang belum tuntas. Berjam-jam waktu yang selama ini kugunakan untuk ponsel dapat digunakan untuk melahap banyak buku. Pengetahuan ilmuku tanpa sadar pun akan bertambah. Bukan malah bertambah dengan pengetahuan mengenai kehidupan orang lain yang menjadi racun bagi kesehatan otak. Hehe.

Kecanggihan teknologi tidak lantas membuat orang Indonesia untuk mencari tahu banyak hal. Daya keingintahuan mereka rendah. Tapi entah mengapa tingkat keingintahuan orang Indonesia terhadap kehidupan orang lain sangat tinggi.

-Gita Savitri Devi dalam bukunya, Rentang Kisah

 

Semoga tulisan ini tidak sekadar menjadi bahan renungan tapi merupakan sarana intropeksi diri dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Iklan

2 tanggapan untuk “Waktu yang Terbuang untuk Membaca”

  1. Pdhal isi sosmed ya gitu2 aja ya. Yg kita lakukan ya gitu2 aja tapi ttep aja intens mainan ponsel. Kalau skrang aku merasakan jenuh mbak sama ponsel dan media sosial

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s