Kepekaan, Prioritas, Kerjasama, dan Tanggungjawab


Senin. Awal minggu yang menarik untuk membangun semangat.

Pagi ini seisi kamar sedang tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Pukul tujuh tepat, mereka harus sudah berada di kampus. Alhasil mereka menyiapkan diri sebaik mungkin guna menyerap ilmu yang akan mereka peroleh beberapa jam kemudian di kelas.

Aku bersantai sembari beres-beres kamar. Jadwal kuliahku tidak sepagi mereka. Aku berangkat siang nanti menjelang dhuhur. Kebetulan, hari ini adalah jadwal piket kamarku. Jadi, aku berusaha membereskan serta membersihkan seisi kamar seapik mungkin. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman? Dengan kebersihan kamar yang terjaga, kita tentu akan nyaman menyinggahi kamar sendiri meski barang sebentar.

Kebersihan merupakan pokok penting dalam kehidupan pribadi maupun berkelompok bahkan bisa menimbulkan masalah sosial.

Teringat kisah tetangga kamar. Ia mengeluhkan teman-teman sekamarnya yang enggan bersih-bersih kamar. Dengan entengnya, teman-teman sekamarnya ngeloyor seenaknya pergi kuliah tanpa membereskan selimut, bantal, guling, bahkan mencuci piring kotor bekas makan kemarin. Anehnya, mereka tidak lupa untuk berdandan cantik sebelum berangkat kuliah. Memilih baju terbaik hingga polesan tipis-tipis di wajah tidak luput dari perhatian. Masalah penampilan nomor satu. Sedangkan soal kebersihan kamar sih masa bodoh bagi mereka.

Ada lagi kisah dari kamar lain. Pada suatu hari aku main-main di kamar teman. Arah mataku langsung tertuju pada tumpukan piring kotor setinggi menara Eiffel serta sampah menumpuk setinggi gunung Fuji. Piring-piring kotor beserta gundukan sampah tersebut berdiam di dekat kamar mandi.

“Iku opo gak pengen kok isahi ta?” (Itu nggak pengen kamu cuci, ya?) tanyaku sembari menunjuk tumpukan piring kotor. Secepat kilat, lawan bicaraku yang menjadi salah satu penghuni kamar itu langsung mengerti apa yang kumaksud.

“Hehehe. Bentar lagi.” ujarnya meringis.

“Kalo sampah-sampah itu memang nggak ada yang buang?” tanyaku lagi.

“Iya. Saking banyaknya jadi malas mau buang sampah.” gerutunya lagi. Ia kembali menyibukkan diri dengan ponsel di genggaman.

Temanku ini akhirnya bercerita bahwa konsep kebersihan kamar ini berdasarkan kesadaran masing-masing. Kalau merasa ngeres, ya menyapu. Kalau merasa piringnya masih kotor dan belum dicuci ya segera dicuci sendiri. Intinya, kebersihan kamar bukan menjadi tanggung jawab bersama melainkan buah dari kesadaran masing-masing. Iya kalau sadar, kalau enggak?

Aku dulu juga mengalami hal serupa. Di kamarku, dihuni empat orang. Kami semua memiliki kesibukan kuliah dengan waktu pulang yang tak menentu. Pada awalnya pun, kebersihan kamar atas kesadaran masing-masing. Entah hingga berapa minggu, kamar selalu berantakan. Selimut, bantal, dan guling berserakan, lantai kotor, kamar mandi berlumut, tumpukan piring kotor tak bertuan, serta gundukan sampah yang tidak bisa ditoleransi. Belum lagi barang-barang pribadi yang berceceran tak tentu arah menghiasi penjuru kamar. Jika dibiarkan, kesibukan kuliah akan menenggelamkan kami dari kebersihan kamar yang seharusnya dijaga dengan baik.

Karena muak dengan kegiatan bersih-bersih yang selalu dilakukan dari salah seorang di antara kami, akhirnya kami sepakat untuk mengagendakan piket kamar. Kami berempat mendapat giliran piket membersihkan kamar setiap hari. Tugas-tugas piket antara lain melipat selimut, menata kasur, bantal, guling, mencuci piring yang berisi jatah makan bersama, membuang sampah, serta menyapu lantai. Sedangkan ro’an kamar mandi dilakukan seminggu sekali bergiliran antara kami berempat untuk menjaga kebersihan kamar mandi.

Keadaan kamar pasca agenda piket harian pun berubah drastis. Kamar kami jadi terlihat bersih, rapi, dan nyaman untuk dihuni. Masing-masing dari kita pun saling mengingatkan agar tidak meninggalkan barang-barang pribadi terutama sampah di sembarang tempat. Lhawong tempat sampah mini ada di dalam kamar. Apa susahnya jika langsung bersegera membuang sampah? Jika salah seorang dari kami terlampau sibuk, kita juga turut membantu dalam membersihkan kamar. Intinya, kamar harus terlihat bersih dan rapi. Tak masalah jika lemari berantakan. Asalkan kepentingan bersama semisal kamar tidak sampai berantakan,

By the way, ada berbagai pelajaran yang bisa aku ambil dari peristiwa sepele semacam ini.

Pertama soal kepedulian kita kepada lingkungan sekitar. Kita dapat menggunakan kosakata peka di samping kata peduli. Sadar tidak sadar, bentuk dan penampilan lingkungan akan dipengaruhi bagaimana cara kita bertindak terhadap lingkungan tersebut. Misalkan kita membuang sampah di sembarang tempat. Lambat laun, lingkungan yang menjadi sasaran kita untuk membuang sampah akan terlihat kotor. Tidak usah jauh-jauh. Coba perhatikan kamar kita. Tempat kita tidur dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kepekaan lingkungan penting untuk dilatih. Kepekaan ini bisa dengan penataan ruang, ketelitian akan barang-barang yang dicurigai hilang, terutama soal kebersihan kamar. Apalagi kita cewek. Jangan sampai kita tidak peduli dengan isi kamar yang berantakan. Luangkan waktu sejenak untuk membereskan kamar. Membersihkan kamar dengan rapi tidak akan mengurangi waktumu untuk menyelamatkan dunia! Jika kamar bersih, maka akan berdampak pada diri sendiri juga. Jadi, apa susahnya meluangkan waktu untuk membersihkan kamar?

Kedua, soal prioritas. Kebersihan itu sebenarnya hal yang gampang dilakoni sekaligus menjadi hal yang diremehkan. Dulu, sebelum agenda piket kamar digalakkan, piring kotor menumpuk banyak. Hingga ketika salah satu dari kami berempat ingin makan, kami kehabisan sendok dan piring. Tumpukan piring pun terus berdiam diri sekian lama hingga akhirnya tak tahu tuannya. Tidak ada yang mau mengakui piring kotornya karena lupa saking lamanya tidak dicuci. Bayangin aja! Kalau dipikir-pikir, apa susahnya meluangkan waktu semenit untuk mencuci satu piring dan satu sendok bekas makan sendiri? Daripada menunda-nunda kemudian lupa dengan tanggung jawab kecilnya untuk sekadar mencuci piring? Aku sering sekali menunda-nunda cuci piring. Tapi lain kali, kebiasaan buruk ini tidak akan aku ulangi.

Ketiga, soal kerjasama. Aku sering sekali menemukan ketika sudah susah payah bersih-bersih, beberapa waktu kemudian tempat sudah secepat itu kotor lagi. Ibarat kemarau yang disapu oleh hujan sehari. Kerjasama untuk saling menjaga kebersihan itu penting banget. Percuma kalau cuma satu yang selalu bersih-bersih sedangkan yang lainnya cuek aja dengan tidak menjaga kebersihan. Syukurlah sudah ada agenda piket harian. Jadi, masing-masing dari kita bisa merasakan susahnya bersih-bersih kamar dan lebih menghargai kebersihan kamar.

Keempat dan terakhir adalah soal tanggung jawab. Masalah piket harian terlihat sepele. Tapi sebenarnya melatih kita untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil. Pekerjaan sepele semacam bersih-bersih kamar sebenarnya melatih softskill kita untuk peka terhadap lingkungan sekaligus bertanggung jawab atas amanah yang diemban. Sesibuk apapun itu.

Jadi, sesibuk apapun kita, jangan sampai melupakan kebersihan. Sadar diri bahwa aku adalah cewek. Jadi, soal kebersihan sejatinya harus dilatih sedini mungkin.

Sesibuk apapun dirimu, sak polahe opo dirimu, pokok e ojo lali kambek kewajibanmu.

-Itsnahm on Facebook

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s