Resensi Buku Gita Savitri Devi, Rentang Kisah


cover-depan-Rentang-KisahIdentitas buku

Judul : Rentang Kisah

Penulis : Gita Savitri Devi

Penerbit : Gagasmedia

Tahun terbit : 2017

Sinopsis

Buku yang berjudul Rentang Kisah karya Gita Savitri ini bercerita tentang masa kecil Gita Savitri dan berbagai fenomena kehidupan dengan banyak pelajaran berharga bagi Gita. Gita kecil bukanlah sosok yang senang dengan orang tua. Terutama ibunya. Gita kecil melihat ibunya sebagai sosok diktator dan menakutkan. Segala arahan dari ibu harus selalu ia turuti. Kalau tidak, ibunya bisa marah besar. Kemarahan itu yang membuat Gita kecil takut sekaligus membenci ibunya. Terkadang, Gita iri dengan teman-teman sebayanya yang bisa terlihat harmonis dan akrab dengan kedua orang tua mereka. Gita tidak bisa demikian. Satu-satunya hal bisa Gita lakukan adalah menuruti semua perintah ibunya. Alhasil, Gita sudah disibukkan dengan berbagai macam kursus sesuai arahan sang ibu. Kegiatan kursus Gita tersebut selalu diantar jemput oleh ibunya. Jarang bagi Gita untuk bisa nongkrong cantik bersama teman-temannya.

Suatu saat, Gita sudah lulus SMA. Dunia perkuliahan sudah menanti di depan mata. Gita yang sampai saat itu masih belum memiliki cita-cita, merasa bingung dengan jurusan apa yang ingin ia tempuh. Ia bukan tipe rajin belajar. Bahkan, Gita merasa bahwa dirinya tidak tahu bagaimana cara belajar yang benar. Akhirnya ia mengikuti pendapat orang yaitu memilih jurusan kuliah berdasarkan passion yang dimiliki. Walaupun, Gita lagi-lagi bingung dengan apa passion yang dia sukai sekarang.

Setelah perenungan panjang, Gita memutuskan untuk mengambil jurusan desain grafis di ITB melihat hobinya yang senang menggambar. Gita memfokuskan diri dengan belajar soal-soal latihan masuk perguruan tinggi. Setelah belajar keras dan mengikuti seleksi nasional, Gita berhasil mendapatkan kampus impiannya.

“Kamu mau kuliah di ITB atau di Jerman?” tanya ibu setelah mengetahui pengumuman hasil seleksi. Gita terkejut. Setelah ia bersusah payah belajar untuk masuk universitas serta setelah Gita menentukan pilihannya, ibu justru bereaksi lain. Bukan diberi selamat atau apa kek. Padahal udah susah-susah belajar. Gerutu Gita dalam hati.

Gita kembali dilanda kebingungan. Ibunya memberi pilihan yang sulit. ITB sudah di depan mata. Sedangkan Jerman terlihat menarik untuk dicoba. Melihat ayah dan ibunya yang dahulu juga tinggal di Jerman, Gita memilih Jerman dan melepaskan ITB. Sayangnya, nasib Gita tidak sebaik itu. Ibunya telah memperoleh informasi dari sales X tentang perkuliahan di Jerman yang menerima mahasiswa minimal berusia 18 tahun. Saat itu usia Gita baru menginjak 17 tahun. Sebenarnya Jerman menerima mahasiswa di bawah usia 17 tahun tapi segala bentuk persetujuan administrasi harus atas nama wali atau penanggung jawab dari mahasiswa. Akan merepotkan jika apa-apa harus minta tanda tangan ayah. Padahal ayahnya sedang sibuk bekerja di luar negeri. Keputusan akhirnya, Gita harus menelan pil pahit dengan menunggu selama setahun di rumah sebelum benar-benar berangkat ke Jerman. Waktu senggang selama setahun sempat Gita keluhkan. Lambat laun, Gita mulai menerima waktu senggangnya. Ia menghabiskan waktu untuk bersantai dan nongkrong bersama teman-temannya. Waktu senggang yang dulu tidak bisa ia rasakan karena disibukkan dengan kursus ini-itu.

Setahun berlalu. Gita benar-benar berangkat ke Jerman. Gita mengalami culture shock berupa sistem pendidikan di Jerman. Sistem pendidikan di Jerman memang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Di Jerman, calon mahasiswa harus menempuh Studienkolleg beserta tes tulisnya selama dua tahun sebagai syarat masuk perkuliahan di Jerman. Pelajaran yang ditempuh di Studienkolleg antara lain materi pelajaran SMA. Bedanya, di Jerman kita dituntut untuk menguasai konsep dan alasan bagaimana suatu rumus dapat terbentuk. Jadi, pelajaran nampak luar biasa sulit bagi Gita. Gita banyak melahap latihan soal selama di Jerman karena jika tes Studienkolleg-nya tidak lulus, bukan hanya ia tidak diterima masuk perkuliahan di sana melainkan dipulangkan ke Indonesia. Mengapa harus menghafalkan banyak rumus kalau beberapa rumus berasal dari satu turunan yang sama?

Masalah lain yang dihadapi Gita ketika kali pertama di Jerman adalah penguasaan bahasa Jerman. Gita memang sudah mengenal bahasa Jerman semenjak kelas 2 SMA dengan mengikuti kursus bahasa Jerman. Tapi hal itu tidak membantu Gita ketika benar-benar terjun ke bumi Jerman. Alhasil, di samping mengikuti program Studienkolleg, Gita berlatih keras untuk menguasa bahasa Jerman. Di samping kebutuhan sosial dan pembelajaran, bahasa Jerman juga menjadi syarat bagi mahasiswa baru untuk berkuliah di Jerman karena bahasa pengantar kuliah di Jerman adalah bahasa Jerman sendiri. Pada akhirnya, Gita dapat melalui beberapa tes dengan nilai sangat baik. Di samping itu, Gita berhasil masuk universitas paling bergengsi di Jerman yaitu Freie Universität Berlin jurusan Kimia Murni.

Kisahnya di Jerman terus berlanjut hingga tak terasa tujuh tahun berlalu. Banyak pengalaman serta pelajaran yang Gita dapatkan selama tujuh tahun di tanah rantai. Semua pengalaman itu tentunya mampu mengubah Gita menjadi pribadi yang matang dan lebih baik. Tidak seperti dulu.

***

Awalnya saya mengenal sosok Gita di Youtube. Random banget karena menemukan channel Gita setelah berselancar nggak jelas di Youtube. Di dalam video-videonya, Gita adalah sosok yang santai. Penyampaiannya terhadap sesuatu juga terasa ringan namun mengandung bobot tersendiri. Sosok yang mengaku introvert ini banyak membagikan sesuatu tentang Jerman kepada subscribers-nya beserta cerita-cerita random melalui tulisan blog hingga Gita mendapat tawaran untuk menulis sebuah buku. Akhirnya, di tengah kesibukannya untuk tugas akhir kuliah dan sebagai content creator di Youtube, Gita menyisihkan sedikit waktunya untuk menulis sekelumit kecil tentang kehidupannya dalam sebuah buku.

Buku Gita benar-benar ringan untuk dibaca. Cerita yang ia sampaikan dalam bukunya benar-benar mengalir dan sangat mudah dipahami. Bahasanya tidak berat. Sayang, bukunya kurang tebal saja. Belum ada sehari, isi buku Gita sudah selesai dilahap oleh otak saya. Tidak heran jika Rentang Kisah tahun ini sudah masuk cetakan keenam.

Semoga kembaran Kim Ji Won ini menelurkan sebuah buku lagi. Hehehe.

Iklan

4 tanggapan untuk “Resensi Buku Gita Savitri Devi, Rentang Kisah

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s