Resensi Buku Kumpulan Cerpen berjudul La Tahzan!


Resensi Buku Kumpulan Cerpen berjudul La Tahzan!

wp-1517556080886-1121695500.jpgData buku

Judul buku      : La Tahzan! Kunci Bahagia Itu Simpel, Kok

Penerbit           : Sabil Yogyakarta

Tahun terbit     : Cetakan pertama 2015

Dimensi buku  :

Tebal buku      : 212 halaman

Sinopsis singkat

Buku yang berjudul La Tahzan ini berisi kumpulan cerita dari berbagai narasumber. Semua narasumber mengutip ayat-ayat Al Quran sebagai penunjang ceritanya walaupun hanya satu ayat. Kumpulan cerita yang berbentuk cerita ini memiliki beragam tema menarik. Ada yang memaparkan kisah hidupnya. Ada pula yang menuliskan opini pribadinya dengan maksud untuk memberi nasihat kepada pembaca. Gaya tulisan yang digunakan beberapa narasumber dalam menyampaikan tulisannya juga disampaikan dengan bahasa santai.

Salah satu cerita datang dari narasumber bernama @Sparkyu23 yang bercerita tentang bapaknya. Bapak dikenal sebagai pribadi yang tak pernah ramah terutama kepada dirinya sebagai anak. Sedikit saja melakukan kesalahan, ia langsung mendapat kemarahan dari bapaknya. Hal ini terus terjadi sampai si anak merasa benci kepada bapaknya sendiri. Hingga suatu hari, ibunya Bapak – atau nenek dari @Sparkyu23 – meninggal dunia. Sejak saat itu, bapak jadi lebih banyak diam dan jarang marah-marah seperti dulu. Akhirnya, @Sparkyu23 merasa iba melihat bapaknya yang selalu bersedih semenjak meninggalnya nenek. Dari situ, @Sparkyu23 mulai merindukan saat-saat ia dimarahi oleh bapaknya. Rasa-rasanya kemarahan dan kata-kata menyakitkan dari bapaknya lebih baik untuk diterima daripada melihat bapak bersedih. @Sparkyu23 pun teringat akan kisah Nabi Ibrahim yang masih bersikap baik terhadap bapaknya meskipun ia kafir bahkan si pembuat patung berhala. Sebagai anak, @Sparkyu23 perlu merasa untuk tidak membenci serta bersikap baik kepada bapak seperti apapun sikap bapaknya. Karena menghormati orang tua merupakan perintah Allah yang harus dipatuhi.

Cerita lain datang dari @Dhea Arvie. Ia bercerita tentang suatu waktu ketika ada tiga tamu asing yang datang. Ditanyai kepentingannya, mereka mengatakan bahwa ingin bertemu kakek. Ditanyai lebih detail mengapa ingin menenmui kakek, mereka tidak mau langsung menjawab. Akhirnya, nenek mempersilahkan mereka duduk terlebih dahulu dan menunggu sebentar karena pada saat itu kakek sedang tadarus Al Quran. Kebiasaan kakek semenjak dulu memang tidak berubah. Beliau selepas salat Maghrib selalu membaca Al Quran hingga adzan Isya dan dilanjutkan dengan salat Isya. Nenek pun menjamu mereka dengan menu seadanya dan mereka pun terlibat perbincangan akrab. Lambat laun, mereka hening sejenak dari percakapan. Samar-samar, suara kakek terdengar merdu sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Entah mengapa, tiga tamu ini mendadak pamit dari rumah karena katanya ada urusan mendadak. Keesokan harinya, terdengar kabar dari tetangga yang tak jauh dari rumah mengalami perampokan tadi malam. Pelakunya adalah tiga orang misterius dengan modus bertamu di rumah korban. Ternyata tiga orang pelaku tersebut adalah orang yang kemarin bertamu di rumah kakek dengan alasan ingin menemui kakek. Berkat kebiasaan kakek yang senantiasa membaca Al Quran, alhamdulillah rumah kakek tidak jadi kemalingan.

Cerita dari berbagai narasumber memberikan hikmah yang dapat dipetik oleh pembaca yaitu tentang keimanan, akhlak, dan keistiqomaahan dalam beragama Islam.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s