Resensi Novel terjemahan dan ulasan dari Damar Shashangka, Darmagandhul.


wp-15171139024612033400491.jpgData buku

Judul buku      : Darmagandhul – Kisah Kehancuran Jawa dan Ajaran-Ajaran Rahasia

Penerjemah      : Damar Shashangka

Penerbit           : Javanica

Tahun terbit     : Cetakan ke-2 Desember 2016

Dimensi buku  : 23×15 cm

Tebal buku     : 551 halaman

Sinopsis

Darmagandhul

Diterjemahkan dan diulas dari Serat Darmagandhul catatan induk asli peninggalan KRT. Tandhanagara, Surakarta.

Novel Darmagandhul, terjemahan dari Serat Darmagandhul asli peninggalan KRT. Tandhanagara, Surakarta, berkisah tentang percakapan tokoh bernama Darmagandhul dengan Kiai Kalamwadi. Pada suatu hari, Darmagandhul bertanya kepada Kiai Kalamwadi perihal mengapa orang Jawa berpindah agama menjadi agama Rasul (Islam). Kiai Kalamwadi pun menjelaskan secara runut sejarah dari cerita-cerita leluhur yang sudah ia dapatkan selama ini. Runtuhnya kerajaan Majapahit menjadi inti dari sejarah berpindahnya agama orang Jawa yang menganut Hindu-Budha menjadi Islam.

Awal kisah bermula dari bertahtanya Prabu Brawijaya di kerajaan Majapahit. Kala itu, sang raja tengah jatuh cinta terhadap Putri Cempa, seorang putri dari kerajaan Cina yang beragama Islam dan lantas menikahinya. Putri Cempa selalu menceritakan kebaikan demi kebaikan mengenai agama Islam terhadap Prabu Brawijaya. Hati Sang Prabu sedikit demi sedikit tertarik dengan agama Rasul ini.

Kemudian, datanglah Sayid Rakmat ke tanah Jawa. Sayid Rakmat adalah keponakan Putri Cempa. Sayid Rakmat meminta izin kepada Prabu Brawijaya agar diizinkan tinggal di pesisir utara jawa serta menyebarkan agama Islam. Sang Prabu pun mengizinkan. Akhirnya, Sayid Rakmat bermukim di Ngampeldenta dan mensyiarkan agama Rasul. Mulai saat itu, banyak ulama mulai berdatangan dan meminta izin Prabu Brawijaya untuk mengizinkan mereka tinggal di tanah jawa. Lagi-lagi Prabu Brawijaya mengizinkan. Lambat laun, masyarakat Jawa yang berada di pesisir utama Jawa memeluk agama Islam.

Salah satu ulama yang datang ke tanah Jawa bernama Sayid Kramat. Beliau masih keturunan Rasulullah SAW. Sayid Kramat pun dipercayai sebagai guru bagi masyarakat Jawa saat itu. Akhirnya, seluruh masyarakat Jawa di pesisir utara, baik dari barat sampai timur, meninggalkan agama Budha lalu memeluk agama Islam berkat berguru pada Sayid Kramat ini. Padahal, jika dilihat dari sejarahnya, agama Budha sudah berada di tanah Jawa kurang lebih sekitar seribu tahun lamanya. Semua pengikutnya menyembah Dzat Hyang Widhi.

Prabu Brawijaya memiliki anak hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina. Dia lahir di Palembang dan bernama Raden Patah. Ketika Raden Patah beranjak dewasa, ia berniat untuk menghadap ayahnya. Setibanya di Majapahit, Sang Prabu bingung dengan nama yang akan diberikan oleh anaknya tersebut mengingat Raden Patah lahir dengan berbagai kondisi yaitu berasal dari keturunan Cina dari ibu, keturunan Jawa dari sang ayah dan lahir di pegunungan. Berdasarkan nasihat dari patih dan penasehat kerajaan, akhirnya sang putra diberi nama Babah Parah. Raden Patah sejujurnya tidak menyukai pemberian nama itu tapi ia menyembunyikan perasaannya di depan Sang Prabu. Babah Patah pun diangkat menjadi bupati di daerah Demak yang membawahi seluruh bupati mulai dari pesisir Demak hingga ke barat.

Agama Islam di tanah Jawa semakin berkembang pesat. Semua ulama lantas meminta Prabu Brawijaya untuk memberi izin pemakaian gelar sunan yang berasal dari kata susuhan yang maknanya adalah sosok yang ditinggikan. Prabu Brawijaya pun mengizinkannya.

Majapahit masih jaya di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya hingga suatu ketika sang patih mengingatkan Sang Prabu akan penguasa Giripura yang sudah tiga tahun lamanya tidak menghadap dan menyerahkan upeti sebagai tanda takluk kepada Prabu Brawijaya. Lantas sang patih menduga bahwa penguasa Giri yaitu Sunan Giri akan mendirikan negara sendiri. Apalagi nama Sunan Giri sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa saat itu. Prabu Brawijaya pun bangkit murkanya. Ia mempersiapkan pasukan untuk menggempur Giri.

Perang pun tidak bisa terhindarkan. Kala itu, separuh dari penduduk daerah Giri sudah memeluk agama Islam. Sunan Giri lari ke Benang untuk meminta bantuan pasukan dan kembali menghadapi pasukan Majapahit. Karena terdesak, Sunan Giri dan Sunan Benang datang ke Demak. Mereka berdua mendesak Raden Patah untuk menyerang balik Majapahit. Raden Patah semenjak lahir sudah beragama Islam.

Raden Patah menolak permintaan Sunan Giri dan Sunan Bonang. Ia takut merusak kerajaan Majapahit karena itu berarti ia memusuhi ayah sekaligus rajanya sendiri. Raden Patah juga ingin mengikuti nasihat Eyang Sunan Ngampelgadhing (Sunan Ampel) bahwa tidak diperbolehkan untuk memusuhi ayahanda sendiri meskipun ia beragama Buda. Apalagi, ayahnya sudah memberikan kemuliaan kepada dirinya dengan menjadi adipati di Demak.

Sunan Giri dan Sunan Benang terus membujuk Raden Patah dengan banyak alasan. Di antaranya adalah perkataan Sunan Benang bahwa sudah masanya Majapahit hancur dan Raden Patah adalah satu-satunya yang pantas menjadi raja di tanah Jawa serta Sunan Giri yang berkata bahwa ia tidak memiliki salah apapun tapi tiba-tiba diperangi oleh Prabu Brawijaya. Dengan bujukan kedua sunan tersebut, akhirnya Raden Patah benar-benar bersiap untuk menggempur Majapahit.

Akhirnya, Majapahit hancur berkat serangan Raden Patah secara tiba-tiba. Hal ini membuat Prabu Brawijaya sedih dan tidak menyangka bahwa anaknya sendiri yang akan memberontak untuk merebut tahta kerajaan darinya. Prabu Brawijaya berhasil kabur dari istana bersama Sabda Palon dan Naya Genggong ketika pasukan Demak menyerbu. Padahal jika dilihat kembali, kondisi Prabu Brawijaya sudah tua dan ia sendiri mengatakan bahwa ia sudah bosan menjadi raja. Sebenarnya jika Raden Patah mau meminta secara baik-baik, pasti akan ia berikan tahta kerajaan Majapahit tersebut. Prabu Brawijaya berniat untuk pergi ke Bali untuk menemui adiknya, Prabu Dewa Agung. Sang Prabu akan meminta adiknya untuk menghubungi raja bawahan Majapahit di luar Pulau Jawa untuk mempersiapkan pasukan perang. Sang Prabu juga akan menghubungi raja Cina untuk meminta bantuan pasukan yang kelak akan menggempur Jawa. Nama besar Prabu Brawijaya pasti masih diakui oleh raja Cina.

Kehendak Sang Prabu disampaikan kepada Sunan Kalijaga yang diutus Raden Patah untuk mencari keberadaan ayahandanya. Ketika itu Sang Prabu sudah sampai di Blambangan dan sebentar lagi menyeberang ke Bali. Beruntung Sunan Kalijaga bisa mengetuk hati Sang Prabu untuk membatalkan rencananya balas dendam setelah melalui dialog yang amat panjang. Dalam dialog tersebut, Sunan Kalijaga menyampaikan maksud kedatangannya untuk menyampaikan permohonan maaf Raden Patah yang sudah menyesali perbuatannya serta menjelaskan tentang seluk beluk agama Islam. Prabu Brawijaya pun terketuk hatinya untuk masuk Islam. Alhasil, Prabu Brawijaya mengucapkan syahadat di hadapan Sunan Kalijaga.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Resensi Novel terjemahan dan ulasan dari Damar Shashangka, Darmagandhul.

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s