Teguran Lembut untuk Sang Guru


Teguran Lembut untuk Sang Guru

Oleh Itsna Hikhmatul Maula

Murid-murid kelas X-3 SMA Trensains Tebuireng Jombang digegerkan dengan kehadiran sosok pengajar baru di sekolah mereka. Pasalnya, mereka kedatangan guru baru bernama Natalia yang akan membimbing mereka pada mata pelajaran fisika selama satu semester ke depan untuk menggantikan guru sebelumnya yang mendadak mengundurkan diri.

Langkah Natalia berhenti di depan murid-murid yang menciptakan hening. Natalia mulai memperkenalkan diri seadanya dengan bahasa cuek yang tidak mampu memecahkan secuil tawa pun dari murid satu kelas. Aksen ini mungkin terbawa dari latar belakangnya sebagai guru mata pelajaran eksak yaitu fisika.

Pertemuan pertama dengan murid-murid kelas X-3 dituntaskan dengan penjabaran materi satu jam tanpa jeda. Natalia tidak memberi kesempatan pada muridnya untuk bertanya.

“Bu!”, ujar salah seorang murid sembari angkat tangan. Natalia yang asyik menjelaskan rumus-rumus fisika di papan tulis mendadak menghentikan guratan spidol hitamnya. “Kenapa dari rumus itu bisa menghasilkan kecepatan? Bisa dijelaskan lagi?”, tambah salah seorang murid tadi setelah mendapat tatapan Natalia.

“Mangkanya kalau ada guru ngomong itu didengerin! Saya sudah menjelaskan panjang lebar tapi kalian malah tidak mau mendengarkan dengan baik apa yang saya sampaikan.”. Natalia merespon pertanyaan dengan nada tinggi. Kemarahan justru berlanjut panjang. Tugas Natalia yang seharusnya melanjutkan penjabaran rumus-rumus fisika terganti dengan ocehan kemarahan yang tidak henti untuk para murid yang baru pertama kali ia temui hari ini. Baik si penanya atau seluruh murid dalam kelas hanya bisa heran. Mereka lebih memilih hening atas sikap Natalia sebagai guru baru mereka. Natalia terus mengekspresikan kemarahannya hingga jam pelajaran usai.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”, ujar salah seorang murid sekaligus si penanya tadi kepada teman-temannya ketika Natalia sudah meninggalkan kelas. Teman-temannya hanya menggeleng. “Aku kan cuman nanya dikit kok malah marah.”, lanjutnya.

“Iya gak jelas nih! Masak satu kelas dimarahin semua!”, sahut salah satu dari mereka. Sebagian besar mengangguk setuju.

“Cantik-cantik tapi galak! Gak banget ya.”, timpal yang lain.

Satu kelas mendadak ribut. Satu per satu penghuni kelas tidak henti memberikan kesan pertama mereka mengenai sikap Natalia beberapa menit yang lalu. Gunjingan demi gunjingan dilontarkan dengan nada penuh kesal. Aktivitas mereka berakhir dengan kedatangan seorang guru tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai.

Keesokan harinya, Natalia hadir kembali di kelas X-3. Seisi kelas langsung hening mendapati kehadirannya kembali dalam kelas. Natalia langsung menjalankan tugasnya dengan cepat. Ia menjelaskan materi pelajaran yang baru tanpa dialog interaktif sama sekali dengan seisi kelas. Natalia langsung geram melihat aksi salah seorang murid yang tidur di kelas. Nada suaranya meninggi.

“Kalian ini tidak menghormati guru! Bisa-bisanya tidur di kelas! Sudah pelajaran tidak bisa masih saja sempat tidur di kelas!”, hardik Natalia hingga mengagetkan seisi kelas. Kemarahan Natalia berhasil menghentikan pemecahan masalah ketinggian maksimum suatu benda ketika dilemparkan secara vertikal dalam rumus fisika. Natalia kembali meluapkan kemarahannya seperti hari sebelumnya hingga jam pelajaran berakhir.

Beberapa hari kemudian, Natalia kembali bertugas seperti biasa dengan diiringi tatapan tegang, malas, jengkel dan kantuk yang tertahankan dari para murid. Sebagai objek pembelajaran, murid-murid kelas X-3 menganggap Natalia sebagai guru yang kaku dan membingungkan. Jika murid bertanya akan disalahkan. Jika murid diam justru tidak akan paham dengan materi yang disampaikan. Serba salah. Sebagai objek pembelajaran pula, mereka yang masih belum paham lebih memilih diam setelah belajar dari sikap Natalia pada hari-hari sebelumnya.

Keheningan kelas dan sikap egois Natalia ketika mengajar di kelas terus berlanjut hingga tak terasa materi satu semester sudah terlampau. Ujian akhir semester pun diselenggarakan bagi seluruh murid SMA Trensains Tebuireng. Tanpa terasa pekan UAS berakhir. Kini giliran para guru untuk mengoreksi hasil ujian. Rencananya hasil ujian akan diumumkan bersamaan dengan pendaftaran semester pendek bagi murid yang memiliki nilai kurang dan akan melakukan perbaikan nilai.

SMA Trensains Tebuireng Jombang gempar. Ada satu mata pelajaran yang menjadi sorotan penuh karena hasil nilai mayoritas murid sangat jauh di bawah standar nilai kelulusan yang ditetapkan oleh pihak sekolah. Mata pelajaran yang dimaksud adalah fisika di bawah naungan Natalia. Pada ujian akhir semester mata pelajaran fisika, hanya tiga dari total 102 murid yang memiliki nilai di atas standar kelulusan. Sisanya harus rela mengikuti semester pendek demi perbaikan nilai. Natalia menghelai napas panjang mengetahui hasil pengajaran yang diperolehnya dalam kurun waktu satu semester.

“Kok bisa-bisanya pelajaran saya tidak masuk ke kalian?”, tanya Natalia dengan nada kesal kepada kelas X-3. Pertanyaan yang sama sudah dilontarkan sebelumnya pada kelas-kelas lain. Lagi-lagi seisi kelas hanya bisa diam. “Baiklah! Pertemuan hari ini cukup sampai di sini dulu. Silahkan print out jadwal beserta materi yang akan saya ajarkan di semester pendek lalu bagikan ke semuanya.”, ujar Natalia kepada ketua kelas X-3 setelah beberapa menit kelas disibukkan dengan keheningan. Natalia langsung meninggalkan kelas dengan muka masam. Beberapa detik ketika langkah Natalia sudah dirasa jauh, seisi ruang kelas langsung ricuh.

“Nilaiku ancur banget.”. Salah seorang murid mengawali pembicaraan diikuti oleh sorak heboh dari yang lain tanda persamaan nasib.

“Bahkan nilai fisikaku kalah sama nomer absenku.”, sahut salah seorang yang ketika ujian akhir semester pada pelajaran fisika mendapat nilai 25 sedangkan nomor absennya sendiri adalah 28. Keluhan demi keluhan terlontar dari mulut seluruh penghuni kelas X-3. Nilai mereka memang tidak ada yang mencapai angka lima puluh.

“Gimana kalo kita laporin ini ke kepala sekolah atau guru BK kita.”, ujar ketua kelas menengahi.

“Setuju! Ini masih semester satu. Jadi apa nasib kita di semester-semester selanjutnya kalo kayak gini terus.”.

“Iya! Masak iya sama mapel fisika doang yang gak bisa lulus.”.

Perlahan satu per satu murid mulai setuju dengan pendapat bijaksana dari ketua kelas. Akhirnya, ketua kelas serta beberapa anak sebagai perwakilan datang ke kantor menemui kepala sekolah dan guru bimbingan konseling guna menyampaikan aspirasi. Setelah bertemu dengan dua tokoh penting, ketua kelas beserta beberapa anak tadi menyampaikan semua uneg-uneg mereka selama ini tentang Natalia selaku guru fisika mereka. Kepala sekolah dan guru bimbingan konseling mengangguk tanda mengerti.

Rapat kecil dilakukan oleh kepala sekolah beserta beberapa guru pembimbing konseling. Mereka mendiskusikan perihal aspirasi yang disampaikan oleh murid-murid kelas X-3. Ternyata aspirasi tidak datang dari kelas X-3 saja. Dua hari sebelumnya, aspirasi datang dari kelas-kelas lain. Semua suara mengarah pada perilaku Natalia ketika mengajar.

“Bagaimana jika kita memberikan angket kepada seluruh siswa SMA Trensains Tebuireng?”. Salah seorang guru bimbingan konseling memberikan usulan. Beberapa langsung menyetujui usulan tersebut. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, para petinggi sekolah tersebut mendapat kesepakatan setelah kurang lebih tiga puluh menit berdiskusi.

“Ayo semuanya! Kalian wajib mengisi angket ini sebelum liburan.”. Kepala sekolah memberikan pengarahan kepada seluruh murid SMA Trensains Tebuireng yang sengaja dikumpulkan bersama di ruang auditorium. Kertas angket yang dirancang sesuai rencana sudah disebar kepada seluruh murid. Setiap murid mendapatkan selembar kertas angket yang harus diisi. Kertas angket tersebut berisi kesan-kesan kegiatan belajar selama satu semester serta guru yang disukai maupun dibenci. Jawaban dalam kertas angket pun harus berupa uraian singkat hasil pemikiran sendiri. Perlahan hening pun tercipta di ruang auditorium. Seluruh murid sibuk dengan pikirannya masing-masing untuk kemudian dituang ke selembar kertas angket.

Tidak berselang lama, kertas angket yang sudah terisi guratan-guratan penuh makna dari setiap murid dikumpulkan. Murid-murid diizinkan pulang sebagai tanda awal liburan dimulai. Kini giliran guru-guru yang sibuk membaca dan memeriksa hasil dari kertas angket. Hasilnya mudah sekali ditebak. Hampir semua murid SMA Trensains Tebuireng mengkritik tingkah laku Bu Natalia dalam kegiatan belajar mengajar. Tak jarang banyak yang memberikan komentar dengan kata-kata pedas di kertas angket. Kesempatan untuk jujur rupanya dimanfaatkan oleh seluruh murid dengan sebaik-baiknya.

Kepala sekolah berniat untuk memanggil Natalia untuk ke sekolah hari itu juga. Setelah Bu Natalia datang, kepala sekolah mengutarakan apa yang terjadi dengan hati-hati.

“Bu Natalia kiranya perlu membaca ini.”, kata bapak kepala sekolah sembari menyerahkan setumpuk kertas angket kepada Natalia. Natalia diselimuti kebingungan sekaligus rasa penasaran dengan apa yang sedang ia terima.

“Ini kertas apa, Pak?”.

“Ini adalah kertas angket dari anak-anak peserta didik kita. Tadi saya sempat meminta pendapat mereka tentang pembelajaran selama satu semester sebelum mereka liburan.”, jawab kepala sekolah. “Dan saya merasa Bu Natalia perlu mengetahui apa yang sudah ditulis anak-anak.”, lanjutnya.

“Ooooo. Iya, Pak.”.

“Lebih baik juga bila anda membacanya di rumah.”.

Natalia menyetujui saran kepala sekolah. Ia langsung pulang tanpa basa basi. Setelah sampai di rumah, ia membuka lembar demi lembar kertas angket yang menumpuk banyak sekali.

Gak suka sama Bu Natalia! Bu Natalia cantik tapi galak banget!

Masih suka dengan guru fisika lama daripada Bu Natalia. Sekian.

Gak pernah paham sama materi yang diajarkan Bu Natalia. Ditanyai malah marah. Jangan heran kalo nilaiku jelek.

Pokoknya males banget waktu Bu Natalia ngajar. Rasanya pengen go out aja.

Bu Natalia suka marah-marah gak jelas padahal kita dari awal pembelajaran cuman diem aja gak ngebantah sama sekali.

Bu Natalia mending dikeluarkan aja dari sekolah daripada fisika kita gagal sama sekali.

Natalia tertegun membaca lembar demi lembar kertas angket dengan cepat. Banyak tulisan bernada kebencian yang dialamatkan kepadanya. Natalia mendadak linglung sesaat. Lalu tanpa terasa air mata sedikit demi sedikit mendesak keluar untuk jatuh ke bumi. Setiap ujaran kebencian dan kritik pedas memberikan rasa sakit di hati. Dalam hati, Natalia melakukan pembelaan diri bahwa selama ini proses belajar mengajarnya baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun. Meski baru kurang lebih tiga tahun berkiprah di dunia pendidikan, metode pengajarannya masih sama seperti ketika mengajar di sekolah-sekolah sebelumnya. Selama ini juga tidak ada masalah. Lalu apa yang salah? Batin Natalia dalam hati.

Diakui memang bahwa selama ini Natalia jarang melakukan dialog interaktif dengan peserta didiknya dalam artian menanyakan paham tidaknya apa yang sudah ia sampaikan. Natalia berpendapat sepihak bahwa murid-muridnya sudah memahami apa yang ia sampaikan. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Fisika adalah salah satu mata pelajaran eksak yang memerlukan penalaran serta ketelitian berhitung. Dua hal itu harus sering dilatih agar peserta didik mampu menyelesaikan berbagai jenis soal dengan baik. Ternyata berprasangka baik tidak selamanya tepat. Murid-murid sebagai peserta didik terkadang lebih memilih diam daripada bertanya ketika mereka tidak memahami materi yang disampaikan.

Dari setumpuk kertas angket berisi berbagai hujatan dan kebencian, ada satu kertas angket yang menarik perhatian Natalia. Tulisan dalam kertas tersebut tersusun rapi. Natalia membaca perlahan isi dari kertas angket tersebut.

Assalamualaikum Bu Natalia. Semoga ketika membaca tulisan saya, ibu diberikan senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu.

Saya adalah salah satu murid Bu Natalia di kelas 10. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya mengenal betul bagaimana sosok ibu. Apalagi ketika nama ibu sering menjadi perbincangan teman-teman akhir-akhir ini.

Jika saya diperkenankan untuk berpendapat, jujur saya masih belum bisa memahami dengan baik materi yang ibu ajarkan. Bu Natalia kurang berinteraksi dengan kami seperti bertanya apakah kami sudah memahami apa yang sudah ibu sampaikan. Ibu seperti sekadar menggugurkan kewajiban ketika mengajar yaitu hanya menjelaskan materi tanpa berinteraksi atau bahkan mengakrabkan diri dengan murid-murid. Interaksi itu penting bu supaya tercipta kenyamanan saat situasi belajar mengajar. Kalo sudah nyaman, murid pasti lebih mudah memahami materi yang ibu ajarkan.

Saya rasa ibu juga perlu untuk mengubah sikap. Jangan galak-galak dong bu nanti kita takut untuk bertanya dan ngajak ngobrol. Nanti kalo galak cantiknya Bu Natalia bisa hilang. Sayang banget!

Senyum kecil tersungging di wajah Natalia. Wajahnya memerah. Di antara banyak sekali kritik penuh hujatan dan kebencian, masih ada selembar kertas angket yang menggunakan perkataan baik dan sopan untuknya. Melalui tulisan yang entah siapa penulisnya, hati Natalia terketuk pelan. Dia bertekad untuk mengubah sikapnya. Kita memang tidak mampu untuk melihat diri sendiri karena kita akan selalu merasa bahwa diri kita baik-baik saja. Kita masih butuh orang lain dalam rangka memperbaiki diri.

Semester pendek yang diselenggarakan pada masa liburan pun dimulai. Murid-murid gaduh sendiri sambil menunggu kedatangan seorang guru ke kelas. Buku paket fisika beserta buku tulis milik masing-masing murid sudah berada di atas meja. Jam pelajaran pertama pada hari ini akan diisi oleh Natalia. Untuk mengantisipasi kemarahan Natalia, seisi kelas sudah mempersiapkan segalanya.

Kelas langsung hening ketika Natalia sampai di kelas. Untuk pertama kalinya, Bu Natalia menyunggingkan senyum dan menyapa murid satu kelas.

“Selamat pagi anak-anak.”. Murid-murid masih dalam keadaan hening. Tidak ada satu pun yang berani menjawab keramahan Natalia. “Selamat pagi? Ayo mana kok gak jawab?”, tanya Natalia kembali sambil terus menebarkan senyum ramah.

“Selamat pagi juga, Bu!”, jawab murid satu kelas secara kompak. Perasaan mereka masih diliputi tanda tanya dan heran. Natalia tidak pernah seramah ini. Biasanya hanya sikap judes lagi acuh tak acuh yang diperlihatkan. Hampir-hampir semua murid tidak percaya dengan apa yang sudah dilihat. Mereka saling berpandangan tidak mengerti.

Natalia memulai materi dari nol. Ia menjabarkan materi beserta rumus-rumus fisika dengan intonasi pelan dan sesekali memberikan senyum kepada murid. Perlahan namun pasti, para murid mulai memahami makna variabel-variabel dari rumus fisika yang diajarkan Natalia.

“Bagaimana? Ada yang mau ditanyakan?”. Murid-murid hanya bisa diam selama beberapa detik. “Ayo! Gak papa kalau mau tanya. Kalau gak paham harus tanya ya! Biar kalian bisa.”, sambung Bu Natalia dengan ramah. Murid-murid lambat laun mulai bersuara.

“Kasih contoh soal bu biar lebih paham!”, ujar salah seorang murid. Natalia dengan tangkas memberikan soal serta menjelaskan secara rinci bagaimana permasalahan beserta penyelesaiannya. Implementasi rumus-rumus fisika dijelaskan dengan pelan. Berbagai pertanyaan pun diajukan silih berganti dari para murid yang merasa belum paham.

Satu dua murid saling berpandangan takjub. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok Natalia yang dikenal mengerikan pada semester satu kini mulai berubah. Selain dapat memahami materi-materi yang diajarkan oleh Natalia, para murid lambat laun mulai menyukai sikap Natalia yang sekarang.

Semester pendek terlewati dengan pencapaian yang menakjubkan. Nilai ujian para murid di semester pendek jauh melampaui nilai standar kelulusan. Para murid bersorak gembira dengan hasil nilai yang mereka peroleh. Tidak sia-sia jika mereka mengulangi mata pelajaran fisika di semester pendek.

SMA Trensains Tebuireng menjalani kegiatan belajar mengajar di semester dua. Masih dengan Natalia, fisika lambat laun menjadi mata pelajaran favorit bagi mayoritas murid. Terutama sikap Natalia yang benar-benar berubah. Natalia menjadi sosok yang sabar dan pengertian. Tidak jarang jika beliau mengulangi penjelasan materi berulang kali kepada murid-murid yang belum paham.

“Nanti yang nilai ujian fisikanya bagus akan saya kasih hadiah”, ujar Natalia pada salah satu kesempatan mengajar.

“Tapi nanti yang menang pasti yang pinter-pinter.”, protes salah satu murid.

“Maka dari itu kalahkan yang biasanya dapet nilai bagus. Kalau kalian mau usaha dengan belajar sungguh-sungguh pasti bisa.”.

Itulah salah satu metode baru Natalia mengajar yaitu memberikan iming-iming hadiah bagi yang mendapatkan nilai bagus. Alhasil seluruh murid berlomba untuk mendapatkan nilai semaksimal mungkin. Ternyata iming-iming hadiah mampu membuat peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam belajar.

Natalia, guru mata pelajaran fisika yang dulunya paling benci, kinimenjadi guru favorit di SMA Trensains Tebuireng. Murid-murid yang menginginkan Natalia untuk hengkang dari sekolah justru berbalik ingin mempertahankan Natalia agar tetap menjadi guru fisika di SMA Trensains Tebuireng. Natalia pun merasa bahagia bisa menjadi salah satu dari keluarga besar SMA Trensains Tebuireng serta dicintai murid-muridnya. Tak jarang sambutan meriah datang dari kelas ketika Natalia bersiap mengajar.

Perihal penulis kertas angket dengan kritikan sopan, Natalia masih belum mengetahui siapa penulis pesan tersebut. Kertas angket kala itu tidak dibubuhkan nama terang si penulis. Jika ingin mengakui, Natalia amat berterimakasih kepada siapa pun penulis kertas angket tersebut. Tanpa tulisan itu, tidak mungkin Natalia terketuk hatinya dan bisa menjadi seperti sekarang.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s