Kisah Mahasiswi Komputer yang Mencabuti Rumput Liar


Arek komputer kok dikongkon mbubuti suket. (Anak komputer kok disuruh mencabuti rumput). Saya mengeluh sepanjang waktu ketika diperintah Ibuk untuk mencabuti rumput liar. Ibuk hanya tersenyum dan sesekali tertawa. Sebagai anak yang baik, saya harus selalu sigap dengan apapun yang Ibuk perintahkan. Sedangkan keluhan tadi sebenarnya hanya guyonan semata. Istilahnya saya hanya ngguyoni Ibuk karena saya adalah mahasiswi ilmu komputer. Bukan mahasiswi pertanian. Jadi, saya kurang ahli kalau sudah berhubungan dengan tumbuhan. 

Saya dan Ibuk menyempatkan diri untuk mampir di perumahan. Kondisi sebuah rumah mungil dan tak berpenghuni memaksa Ibuk untuk melakukan perawatan secara berkala pada rumah mungil tersebut. 

Mengapa saya mengeluh? Kebetulan waktu itu saya baru saja selesai mandi. Masak sudah cantik-cantik kayak begini disuruh turun ke tegalan untuk mencabut rumput liar? Hehe.

Spontan saya mengeluh. Ada rasa jengkel. Manusiawi banget. Tapi rasa-rasa negatif segera saya tepis demi sembah bakti kepada Ibuk. Lagian apa susahnya mencabuti rumput liar? Jika dilogika, permintaan Ibuk sama sekali tidak berat untuk dijalani. Juga membantu orang tua merupakan salah satu sumber pahala yang besar. 

Setelah memakai atribut penutup aurat, saya terjun ke lapangan. Ibuk mencabuti rumput liar di sekitar tanaman hias. Sedangkan saya diperintahkan untuk mencabuti rumput liar di depan pagar rumah. Awalnya sebelum memulai aksi mbubuti suket, saya sempat bergidik ngeri karena takut jikalau ada ulat. Saya kan paling geli kalau melihat binatang melata yang kecil-kecil. Ibuk pun meyakinkan bahwa tidak ada ulat atau sesuatu yang harus ditakutkan.

Dan tiba-tiba…

Ada tikus kecil yang berlindung di bawah tumbuhan liar yang sudah tumbuh setinggi satu meter di salah satu sisi tembok luar rumah. Seketika saya langsung menjerit. Setelah sadar, saya langsung menggunakan akal sehat untuk sesegera mungkin mencabut tumbuhan liar itu dengan mengusir tikus kecilnya terlebih dahulu.

“Sujokno gak mlebu pertanian, Buk. Enek uler gilo. Ketemu tikus ae wes njerit.” (Untung gak masuk pertanian Buk. Ada ulat jijik. Ketemu tikus aja udah menjerit).

“Piye jal nasibku pas praktikum nek sawah mosok ketemu cacing e njerit.” (Gimana coba nasibku waktu praktikum di sawah masak ketemu cacing udah menjerit). 

“Ngene iki lak arek komputer kon mbubuti suket. Gak mari-mari.” (Kayak gini ini kalo anak komputer disuruh mencabuti rumput. Gak selesai-selesai).

“Gek opo hubungane suket kambek komputer jal?” (Dan apa hubungannya antara rumput dengan komputer). 

“Lha wong arek komputer kok dikongkon mbubuti suket.”

Saya terus ngomong sendiri sambil tertawa. Ibuk tidak berkomentar. Beliau hanya bisa tertawa melihat tingkah anak mbarep-nya ini.

Story Instagram saya hehehe. 
Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s