Kisah Kegalauan Bunda


Pada suatu malam, saya menyempatkan diri untuk memijat kaki Ibuk. Profesi saya ketika di rumah adalah menjadi dukun pijat untuk ibu sendiri. Ketika tengah asyik memijat Ibuk sambil mengobrol ringan, tiba-tiba saja Ibuk berujar tentang keinginan beliau untuk jalan-jalan ke Rusia pada akhir tahun ini. Kali ini Ibuk akan nge-trip ke Rusia bersama teman-teman sesama perempuan alias tanpa Abah. Padahal sebelumnya ketika jalan-jalan di luar negeri, Abah dan Ibuk selalu jalan berdua. Mereka pun foto-foto di lokasi seakan orang pacaran yang tengah memadu kasih. Barangkali mereka ingin honey moon sejenak serta nostagi(l)a zaman mereka pacaran dahulu. Intinya, Ibuk akan berlibur ke Rusia bersama sekelompok ibu-ibu tanpa suami. Ibuk pun sudah membayar DP dengan nominal tertentu untuk liburan ke Rusia.

Saya mendengarkan seluruh rencana berlibur yang Ibuk lontarkan. Saya pun mengamini dan mendukung Ibuk untuk berlibur. Barangkali Ibuk perlu piknik untuk melepas penat dari lelahnya pekerjaan.

“Tapi kadang-kadang Ibuk itu merasa bersalah sama anak-anak.”. Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Ibuk. Saya mlongo. Abah yang ketika itu baru saja datang dan memijati Ibuk ikut mlongo.

“Emang Ibuk salah apa? Lha wong aku gak merasa Ibuk berbuat salah.”, ujar saya kepada Ibuk untuk meminta klarifikasi lebih lanjut.

“Ibuk sama Abah kok bisa keliling dunia, bisa mampir kemana-mana, hidup foya-foya, dan lain-lain. Padahal kalo ngelihat anak-anak, kalian justru hidup sederhana.”. Tanpa terasa Ibuk mbrebes mili. Saya pun ikut-ikutan menitikkan air mata karena tidak tega melihat Ibuk yang tiba-tiba menangis.

“Padahal anaknya pengen hape baru, pengen laptop Apple. Tapi uangnya malah dipake Ibuk sama Abah jalan-jalan. Padahal uang jalan-jalan bisa cukup buat beli apa yang anak inginkan.”. Ibuk melanjutkan kisah sedihnya sambil terus menangis. Saya lantas menjerit protes.

“Itu lho buk cuman pengen. Hanya sebatas keinginan. Kalo gak dibelikan ya gak papa. Lagian Itsna masih punya laptop sama hp dan masih bagus kok. Belum rusak.”. Saya membela diri. “Aku lho gak menuntut buat dibelikan. Jadi Ibuk tenang aja.”.

Entah mengapa, malam itu, Ibuk tiba-tiba baper sendiri alias galau. Ibuk yang memiliki hobi piknik ke luar negeri ini mengungkapkan kegundahan hatinya. Beliau mengkritisi diri sendiri bahwasanya di samping hobinya suka jalan-jalan serta beli baju, tas dan sepatu baru setiap hendak ke luar negeri, anak-anak Ibuk justru hidup sederhana. Penampilan ketika keluar rumah pun biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kemewahan yang melekat pada diri anak-anaknya Ibuk. Bahkan saya dan adik-adik selaku anak-anak Ibuk terlihat kurus karena memang tidak bisa gemuk. Sedangkan Ibuk dan Abah semakin kesini semakin bertambah berat badannya. Mungkin hal ini yang membuat Ibuk semakin nelangsa.

Ibuk juga sempat beberapa kali mendapat nyinyiran dari orang lain karena Abah Ibuk tidak mengajak satu pun dari ketiga anaknya ketika jalan-jalan ke luar negeri. Alhasil, Ibuk kadang geram mendengarnya. Tak jarang beliau hendak marah.

Sebagai seorang anak yang memiliki orang tua dengan hidup bercukupan, saya merasa bahagia. Saya senang meilhat Abah dan Ibuk bisa sehat. Tanda beliau berdua sehat adalah bisa jalan-jalan dan piknik kemana-mana. Bahkan ke luar negeri. Awalnya hanya Abah yang hobi touring keliling Indonesia menggunakan motor gedhe. Lambat laun Ibuk juga ingin jalan-jalan walaupun tidak seperti Abah yang menggunakan moge. Jika Abah dan Ibuk merencanakan berlibur, destinasi wisata mereka pasti ke luar negeri. Baru tahun lalu sudah di Cina. Sebelumnya sudah keliling Eropa meliputi Prancis, Belanda, Italia dan lain-lain sampai saya sendiri tidak tahu mereka sudah kemana saja. Dengar-dengar ketika tour Eropa tahun 2016 yang lalu, Abah dan Ibuk mengunjungi sekitar 20 negara Eropa. Sedangkan jauh sebelum itu, Abah dan Ibuk atas izin Allah sudah diperkenankan menjalani haji dan umroh. Seingat saya, Abah dan Ibuk melaksanakan haji sekaligus pertama kali berangkat ke luar negeri tahun 2010.

Saya sebagai anak juga bersyukur jika Abah dan Ibuk bisa melalangbuana jauh hingga ke negeri orang. Katanya untuk mentadaburi ciptaan Allah akan keberagaman budaya dan lingkungan. Saya tidak iri perihal Abah Ibuk yang mampu jalan-jalan ke luar negeri. Hal ini justru saya jadikan motivasi pribadi agar kelak bisa mengikuti jejak Abah dan Ibuk di luar negeri. Berbeda dengan pendapat teman-teman saya yang histeris kala melihat foto Abah dan Ibuk ketika berfoto mesra di Veniche, Italia. Atau teman-teman saya yang histeris ketika melihat foto Abah dan Ibuk yang sempat berfoto di depan menara Eiffel. Atau juga kehebohan teman-teman tatkala melihat foto Abah dan Ibuk yang tengah duduk berdua menikmati summer di daratan Cina. Teman-teman sempat mengajukan protes kepada saya. Seharusnya sebagai anak, saya bisa ikut ke luar negeri. Kalo jadi Itsna, aku pasti ikut orang tua ke luar negeri. Masak anaknya gak diajak. Ujar teman-teman saya. Saya sih santai saja sembari tersenyum

Saya merasa wajar apabila Abah dan Ibuk bisa jalan-jalan ke luar negeri dan memiliki baju-baju bagus. Hal ini karena beliau berdua sedang menikmati hasil jerih payah sendiri. Abah dan Ibuk ingin menikmati hasil kerja mereka mumpung masih muda. Berbeda dengan saya yang belum bisa mencari uang sendiri. Apa yang salah jika dari luar saya berpenampilan sederhana? Lha wong kenyataannya saya masih belum bisa mencari uang sendiri. Hehe. Masak saya bergaya sok kaya dan suka pamer padahal uang masih minta sama orang tua? Kan gak lucu.

Saya suka kesederhanaan. Serta merta menghindari sikap pamer. Biarkan orang lain tahu dengan sendirinya siapa sebenarnya saya. Lagi pula, sederhana itu mendamaikan. Hehehehe #ngomonggakpenting

15078759_10207159557297240_505501969287739622_n
Veniche, Italia.
17759701_10208230146661305_5330641754084793807_n
*gak tau dimana*
23622539_10209885347800299_7729848778990278568_n
Abah dan Ibuk sedang menikmati summer di Beijing, Cina
23658382_10209885354920477_1861182897638708651_n
Masih di dataran Cina. Tepatnya di Tembok Besar Cina.
17022124_10207961147336490_616857286136462739_n
*gak tau juga ini dimana*
Iklan

Satu tanggapan untuk “Kisah Kegalauan Bunda

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s