Opini Pribadi mengenai Perolehan Nilai di Sekolah


Gambar dari iTunes.

Liburan tidak serasa liburan bagi kami sebagai mahasiswa anyaran Universitas Jember yang baru genap menyelesaikan satu semester pertamanya di bangku perkuliahan. Kami sedang menunggu input nilai dari dosen melalui akun Sister masing-masing. Satu per satu nilai mata kuliah bermunculan disusul dengan pemberitaan dan obrolan sengit di grup angkatan. Hingga pada waktu batas akhir input nilai yakni 5 Januari 2018, grup angkatan di Whatsapp masih ricuh. Ada yang mengungkapkan rasa syukur akan nilai yang didapat. Tapi tidak sedikit yang mengeluhkan perolehan yang nilai dirasa kurang. Hingga pada titik akhir, mereka yang merasa nilainya kurang berusaha complaint terhadap dosen. Naas, dosen sudah lepas tangan. 

Bener-bener gak paham sama penilaian dosen. Ujar salah seorang teman di status pembaharuan Whatsapp. Saya setuju dengan pendapatnya.

Saya pribadi sudah merasa cukup dengan nilai yang saya peroleh setelah mencicipi satu semester pertama di bangku perkuliahan. Alhamdulillah bisa mendapatkan nilai yang baik. Padahal kalau diingat-ingat kesibukannya luar biasa. Ada ospek selama satu semester beserta hiruk pikuk kegiatan saya sebagai santri di sebuah pondok pesantren. Jadi, selain disibukkan dengan belajar dan tugas-tugas kuliah, saya juga disibukkan dengan agenda ngaji di pondok pesantren. Bisa dibayangkan betapa sibuknya saya waktu itu. Alhamdulillah saya bisa melalui semuanya dengan baik. Bahkan prioritas kuliah saya tempatkan di nomor sekian. Prioritas utama saya adalah ingin mengejar ilmu agama yang masih sangat minim sekali. Seperti kata Abah saya suatu ketika lewat chat. Ilmu dunyo iyo, ilmu agama yo iyo (Ilmu dunia iya, ilmu agama juga iya).

Mengenai perolehan nilai dalam sekolah baik itu nilai ujian, tugas maupun quiz sebenarnya adalah persoalan sepele yakni mengukur seberapa paham kita akan materi yang sudah guru ajarkan. Sering saya dengar banyak pendapat yang mengatakan bahwa nilai itu bukan segalanya. Nilai pun tidak bisa menentukan kesuksesan seseorang di masa depan. Banyak contoh kasus orang-orang sukses yang bahkan tidak lulus atau di-drop out dari sekolah seperti Michael Dell, Mark Zuckerberg dan Bill Gates. Tapi sebenarnya ada beberapa poin penting bagi saya terkait bagus tidaknya nilai yang kita dapatkan semasa sekolah.

Pertama adalah bagus tidaknya nilai menentukan keberhasilan seorang guru dalam mengajarkan materi kepada peserta didik. Kalau selama ini kita hanya berposisi sebagai peserta didik yang perannya minimal sebagai pendengar, cobalah untuk membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang guru. Coba bayangkan bagaimana perasaan kita yang sudah menjelaskan panjang lebar tapi masih belum bisa dipahami oleh murid-murid. Masih beruntung jika di bangku sekolah 12 tahun. Bandingkan dengan kondisi di perkuliahan. Dosen tidak mau tahu apakah kita paham atau tidak. Selama tidak ada pertanyaan, yo wes! Dosen akan menganggap semuanya sudah tuntas. Bahkan dosen tidak peduli kita hpnan, tidur, mendengarkan atau tidak. Tapi, cobalah hargai bagaimana perasaan dosen. Dosen sudah menjelaskan panjang lebar bahkan ada beberapa dosen berhati emas yang mengulang kembali penjelasan tanpa diminta (dosen berhati emas ini yang biasanya malah pelit di nilai😂😂😂) . Menjelaskan agar dimengerti orang lain juga bukan pekerjaan gampang. Tunjukkan bahwasana kita bisa memberikan nilai terbaik sebagai apresiasi kepada dosen atau guru yang berkenan mentransfer sebagian ilmunya kepada kita.

Kedua yang paling penting adalah menyelesaikan amanah orang tua yang sudah susah payah mencari biaya untuk pendidikan kita. Buktikan bahwa kita sudah belajar sungguh-sungguh. Pembuktian yang paling mungkin adalah dengan nilai sebagai prestasi yang kita dapatkan.  Meskipun terkadang nilai yang kita dapatkan tidak bagus, paling tidak kita sudah berusaha untuk belajar. Orang tua pasti akan senang jika kita mau belajar. Lagi pula, tidak semua orang memiliki orang tua dan dapat melanjutkan pendidikan seperti kita.  Bersyukurlah akan sesuatu yang tidak semua orang dapatkan dan jangan menyia-nyiakan hal tersebut. 

Alhamdulillah saya terlahir dengan orang tua yang tidak merisaukan nilai. Bahkan pernah suatu ketika Ibuk saya lupa saya kelas berapa karena saking semangat mencari uang untuk pendidikan saya. Orang tua saya sangat menghargai proses terutama proses saya dalam menuntut ilmu. Hasil bagus tidaknya yang paling penting adalah bagaimana kita mau berusaha dalam proses. Tak lupa untuk bersabar dalam proses karena tidak semua hasil dari usaha sesuai dengan keinginan kita. 

Tata niat dan pikiran agar bisa melewati segala proses dengan baik.  

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s