Resensi Buku Irfan L. Sarhindi, The Lost Story of Ka’bah


Resensi Buku Irfan L. Sarhindi, The Lost Story of Ka’bah. Fakta-Fakta Mencengangkan Seputar Baitullah

1c7e9e62-28e4-40b4-9266-5a6a1d995d7c

Judul buku : The Lost Story of Ka’bah. Fakta-fakta Mencenggangkan Seputar Ka’bah.

Penulis : Irfan L. Sarhindi

Penerbit : QultumMedia

Tahun terbit : 2013

Dimensi : 21 x 14 cm

Tebal buku : 322 halaman

Sinopsis

Pada dasarnya buku The Lost Story of Ka’bah menceritakan tentang sejarah siapa yang sebenarnya membangun Ka’bah untuk pertama kali. Mulai dari kisah masa lalu, masa sekarang hingga masa mendatang. Kisah diawali dengan Baitul Makmur, saudara kembar Ka’bah yang terletak di langit. Dahulu rumah Allah di bumi masih belum dibangun. Awal pembangunan Baitullah berdasarkan riwayat Ali bin Husain. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka Bumi.” (QS. Al Baqarah: 30). Malaikat menggugat pemberitahuan Allah. Mereka berpendapat bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah sebagaimana yang dilakukan jin pada masa lalu. Malaikat protes, “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang-orang yang akan berbuat kerusakan padanya serta menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” (QS. Al-Baqarah: 30).

Allah dengan lugas menjawab pernyataan para malaikat, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah: 30). Menyadari kemarahan Allah, para malaikat menjadi takut lalu memohon ampun dan ridha ke Allah. Para Mereka mengelilingi Arasy sebanyak 3 sampai 7 kali. Allah pun mengampuni para malaikat lalu memberi titah, “Bangunkan untukKu di Bumi sebuah rumah yang akan kembali kepadanya segenap makhluk yang Aku ciptakan. Berthawaflah kalian sebagaimana kalian thawaf mengelilingi Arasy, dan mohon ampunlah kalian sebagaimana aku mengampuni kalian.”. Para malaikat pun membuat sebuah rumah suci berbentuk kubus di suatu tempat bernama Bakkah yang mana tempat tersebut tepat di bawah Baitul Makmur. Rumah suci itu bernama Baitullah. Setelah itu, Allah menciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama dan terjadilah skenario yang sudah terabadikan dalam Al Quran hingga Adam dan Hawa menetap di bumi.

Di Bumi, Nabi Adam berdoa kepada Allah bahwa ia ingin mendengar suara-suara malaikat. Allah memberi jawaban dengan memerintahkan Adam untuk membangun sebuah rumah untukNya di bumi serta berthawaf dan berdzikir di sana sebagaimana Adam melihat para malaikat berthawaf mengelilingi Arasy Allah. Tidak jelas apakah Nabi Adam membangun atau merenovasi Ka’bah karena ketidakjelasan hasil pembangunan Ka’bah oleh para malaikat sebelumnya. Satu hal yang pasti, Nabi Adam adalah manusia yang pertama kali melakukan thawaf dan haji. Ritual haji yang dilakukan Nabi Adam tentunya belum sesempurna sekarang karena ritual seperti sa’i dan lempar jumrah baru dimulai berdasarkan kisah Nabi Ibrahim.

Dua puluh lima abad kemudian, Nabi Nuh diutus ke Irak. Pada mulanya, masyarakat di sana beragama muslim dan menyembah Allah semata. Namun, lambat laun ajaran mereka mulai menyimpang. Diawali dengan kematian orang-orang saleh di antara mereka. Mereka melukis wajah orang-orang saleh yang telah meninggal dengan tujuan mulia yakni agar mereka lebih bersemangat dalam ibadah. Tapi lama kelamaan semangat tersebut berubah menjadi penyembangan. Kemudian, kebiasaan menyembah pada lukisan orang-orang saleh beralih ke patung berhala.

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun di Irak. Hasilnya pun hanya sedikit saja dari mereka yang beriman. Lalu terjadilah skenario perintah Allah untuk membuat sebuah bahtera di tengah daratan dan kejadian banjir yang konon menenggelamkan seluruh bumi. Pada periode inilah Ka’bah hancur terendam banjir.

Datanglah masa Nabi Ibrahim, manusia yang tumbuh dengan merenungi eksistensi Tuhan. Nabi Ibrahim merasa bahwa patung-patung berhala tidak pantas menjadi Tuhan karena patung-patung tersebut adalah buatan tangan manusia. Nabi Ibrahim mencari kebenaran siapa Tuhan sebenarnya dengan melihat bintang yang mampu meredup sinarnya, bulan yang hilang ditelan siang dan matahari yang masih bisa tenggelam. Kesimpulan akhir adalah bahwa bintang, bulan dan matahari bukan Tuhan karena mereka bisa tenggelam. Lalu, turunlah wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk menerangkan siapa Tuhan sesungguhnya. Nabi Ibrahim pun diangkat menjadi nabi dan rasul. Skenario penghancuran patung-patung berhala, hukuman bakar bagi Nabi Ibrahim hingga kepergian Nabi Ibrahim dan Siti Hajar menuju di lokasi yang kelak akan menjadi tempat berdirinya Ka’bah.

Ka’bah dibangun beberapa tahun kemudian di suatu dataran rendah –sesuai ketetapan Allah- setelah penemuan air sumur zamzam di dekatnya melalui hentakan kaki Nabi Ismail kecil dan diikuti oleh kisah lain yang terjadi. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diutus Allah untuk membangun Ka’bah yang kisahnya paling detail terekam dalam sejarah. Bahkan pembangunan ini diterangkan secara jelas dalam Al Quran.

Renovasi Ka’bah mulai dilakukan kembali pada masa leluhur Rasulullah, Qusai bin Kilab yang saat itu menjadi pemegang kekuasaan tertinggi atas kepengurusan Ka’bah. Renovasi  bangunan Ka’bah, kepengurusan kiswah (kain penutup Ka’bah), juru kunci (pemegang kunci Ka’bah) serta kepengurusan bagi tamu-tamu Allah yang akan melakukan haji di Mekah secara turun temurun terus berlanjut hingga masa sesudah Rasulullah hidup seperti pada Dinasti Abbasiyyah hingga Utsmaniyyah.

IMG_20171128_070213
Salah satu halaman pada buku ketika menceritakan tentang kisah penyerangan pasukan bergajah oleh Raja Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah.
Iklan

2 tanggapan untuk “Resensi Buku Irfan L. Sarhindi, The Lost Story of Ka’bah

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s