Aku dan Bintang Jatuh


purple-690724_960_720
Gambar dari akun Pixabay

Kemarin, Jalan Kalimantan dan sekitarnya mengalami pemadaman bergilir yang mungkin dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Jember. Pemadaman tersebut terjadi sekitar pukul 8 selepas agenda wajib pondok dilaksanakan. Alhasil, sebagian besar penghuni pondok merasa terganggu dengan pemadaman bergilir ini. Aktivitas malam yang kerapkali dilakukan oleh santri Pondok Pesantren Al Husna selepas mengikuti agenda wajib pondok adalah mengerjakan tugas-tugas kuliah. Apalagi ketika musim UAS seperti sekarang, kebanyakan dari santri belajar dan mempersiapkan diri sedapat mungkin di tengah agenda kampus dan kuliah yang seakan menghimpit waktu.

Kecanggihan teknologi amat dirasakan di sini ketika satu-dua santri menyalakan flash handphonenya. Ada beberapa yang menyalakan senter atau lampu cadangan sebagai penerang agar dapat melanjutkan aktivitasnya kembali. Ada beberapa yang lebih memilih menyerah dengan keadaan dengan kata lain tidur karena kondisi yang dirasa amat kondusif. Di antara santri lain, ada salah seorang santri yang kagum ketika pemadaman terjadi. Spontan, ia mendongak ke langit. Pandangannya dibuat takjub oleh gugusan bintang yang terlihat jelas sinarnya menggantung di langit. Santri tersebut tak lain adalah aku sendiri.

Pemadaman membuat langit seperti lebih bersinar dari biasanya. Apalagi ketika langit sedang cerah tanpa awan mendung yang menghalangi pemandangan. Aku dapat melihat dengan lebih jelas di balik kacamata ini akan ciptaan Allah yang luar biasa indah. Aku yang saat itu sedang berada di latar lantai dua berinisiatif untuk naik ke lantai tiga pondok. Pondok Pesantren Al Husna memang memiliki setidaknya lima daerah yang pengelompokkannya adalah demi memudahkan manajemen serta tata tertibnya. Aku sendiri berada di daerah 5 alias gedung baru. Gedung baru ini memiliki tangga menuju lantai 3 sedangkan di lantai 3 masih belum selesai pembangunannya. Kondisi lantai tiga yang masih berupa hamparan aspal kering nan kosong tersebut aku manfaatkan sebaik mungkin untuk menatap bintang.

Saat sampai di lantai tiga, aku semakin kagum. Formasi bintang beserta pesona sinarnya semakin jelas terlihat mata. Bahkan mataku nyaris tidak rela untuk berkedip demi menikmati pemandangan ini. Aku menolehkan kepala ke sana ke mari melihat bintang di langit yang cerah. Tiba-tiba, ketika aku menghadapkan pandangan di langit timur, sebuah sinar jatuh dengan kemiringan 45 derajat di bawah sumbu horizontal. Sinar jatuh itu memiliki ekor cahaya yang bersinar putih indah. Lima detik kemudian otakku bisa mencerna bahwa fenomena langit yang baru saja kulihat adalah bintang jatuh.

Untuk pertama kalinya, aku melihat bintang jatuh.

Meski hanya berlangsung satu detik, pemandangan di langit timur Kabupaten Jember terlihat amat jelas. Ada bintang jatuh! Rasanya masih seperti mimpi ketika aku berkesempatan melihat bintang jatuh. Suatu fenomena yang barangkali hanya dapat terlihat sekali seumur hidup. Perihal berdoa ketika bintang jatuh, aku tidak melakukannya. Terdengar tidak masuk akal ketika kita harus berdoa ketika melihat bintang jatuh. Cukup ucapan SubhanaAllah, MasyaAllah serta Laa haulaa walaa kuwwata illabillah sebagai tanda takjub atas keindahan ciptaan Allah.

Aku ingin menikmati bintang jatuh lebih lama lagi. Kurebahkan badan di atas semen kering kasar setelah kepala ini lelah mendongak ke langit. Pandangan demi pandangan di langit selain memberi rasa takjub juga menjadi bahan renungan. Allah menciptakan segala sesuatu pasti memiliki alasan. Termasuk dalam penciptaan bintang. Bintang diciptakan sebagai penghias langit sekaligus sebagai alat pelempar setan sebagaimana disebutkan dalam surah Al Mulk ayat 5.

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”  [QS Al Mulk 67:5]

Ini masih langit pertama. Ujarku dalam hati. Langit yang seluas ini dengan ketinggian tak terhitung angka manusia, masih merupakan  langit pertama. Padahal Allah telah menciptakan tujuh lapis langit. Tidak terbayangkan dimana letak Arsyi Allah yang agung itu. Bintang-bintang yang terlihat seperti titik-titik cahaya yang bergerak pelan sekali itu pasti berjarak ribuan kilometer dari bumi dengan pergerakan sebenarnya berkecepatan luar biasa cepat bahkan bisa jadi mendekati kecepatan cahaya. Mereka pasti memiliki garis edar sendiri sesuai dengan kehendak Allah. Betapa indah dan luar biasanya ciptaan Allah.

Tatkala memandangi langit, aku menyadari satu hal mengenai alasan Allah menciptakan alam semesta ini. Allah tidak akan menciptakan alam semesta seindah ini jika tidak karena kekasihNya, Rasulullah SAW. Allahumma sholli alaa sayyidina Muhammad.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s