Akhir dari Kisah Cinta Pertama


6
Gambar dari Gheasafferina

Anisa selesai menunjukkan aksi tarinya. Terdengar tepuk tangan meriah diiringi riuh penonton yang berdecak kagum.

“Penampilanmu sungguh luar biasa!”, ungkap salah satu dewan juri. Penonton bertepuk tangan.

“Aku suka aksi panggungmu! Kamu tampak lincah dan mampu membawakan makna tarian dengan baik.”, timpal dewan juri yang lain. Anisa tersenyum bangga. Tanpa sadar, ada salah satu dewan juri yang bersikap acuh tak acuh.

“Penampilanmu ibarat air di dalam gelas yang diletakkan di tengah meja.”, ujar salah satu juri yang bersikap acuh tak acuh tadi. Anisa, dewan juri sekaligus penonton melongo. Aula pertunjukan mendadak hening. “Kamu tau apa maksudnya?”, tanya juri tersebut kepada Anisa. Anisa spontan menggeleng penasaran.

“Penampilanmu sedari tadi nampak biasa saja di mata saya. Tidak ada yang istimewa.”, ujar juri tadi untuk menjawab gelengan kepala Anisa. Senyum Anisa pudar seketika.

Rama, laki-laki berusia 25 tahun itu adalah salah satu guru pembimbing kesenian di SMA Unggulan Nusa Bangsa di Banyuwangi. Ia terkenal sebagai sosok laki-laki cuek dengan pembawaan penuh misteri. Tubuh dengan porsi nyaris sempurna namun berkulit sawo matang membuat banyak perempuan penasaran serta tak jarang mendekati. Namun, Rama selalu menolak mentah-mentah setiap perempuan yang ingin mendekatinya. Atau bisa jadi perempuan-perempuan yang mencoba untuk dekat lambat laun menyerah karena saking dinginnya respon yang diluncurkan Rama terhadap lawan jenis. Rama adalah satu-satunya juri yang memberi komentar pedas kepada Anisa saat itu.

Anisa turun dari panggung dengan lunglai. Matanya berkaca menahan air mata yang berebut untuk jatuh ke bumi. Hatinya panas. Anisa jengkel dengan perkataan Rama yang langsung menghujam sanubari hatinya. Gadis kelas 2 SMA itu tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Langkahnya dengan tegar langsung menuju sekumpulan dewan juri. Beberapa dewan juri memang sedang berkumpul di salah satu sisi aula pertunjukan sambil berbincang ringan.

“Bisa bicara dengan Pak Rama sebentar?”, tanya Anisa membuyarkan obrolan sekelompok dewan juri tadi. Rama langsung menghampiri si penanya. Dewan juri yang lain memperhatikan.

“Ada apa mencari saya?”.

“Saya ingin meminta kritik dari Pak Rama agar saya bisa mengevaluasi diri untuk pertunjukkan selanjutnya.”, ungkap Anisa lugas dan langsung ke topik pembicaraan.

Rama berekspresi datar. Tidak menyunggingkan senyum sama sekali. Hanya ekspresi dingin yang sekilas mampu ditangkap Anisa. Dengan gaya yang terkesan disombongkan, Rama mencoba memberi jawaban.

“Cari tau dari orang lain. Jangan dari saya.”, jawab Rama tanpa menatap mata Anisa. Rama langsung mengambil langkah menjauh. Anisa hanya bisa terpaku diam atas apa yang sudah terjadi.

Seminggu kemudian, Anisa menjadi satu-satunya murid yang terpilih untuk mengikuti lomba sebagai perwakilan dari SMA Unggulan Nusa Bangsa di Surabaya. Amanah ini membuat Anisa berjuang keras. Ia berlatih tari setiap hari dan di setiap waktu luang bahkan ketika tentor yang membimbingnya tidak hadir. Anisa sungguh-sungguh melakukan demi usahanya untuk mematahkan argumen Rama yang menohok hati.

Pak Rama memang memiliki standar yg berbeda dari kebanyakan juri. Aku harus bisa menampilkan sesuatu sesuai dengan standar Pak Rama. Anisa pasti bisa! Anisa yakin! Anisa bergumam pada dirinya sendiri sembari latihan. Teman-teman sebagai penonton latihan tarinya memberi semangat.

Tibalah satu hari sebelum acara dilaksanakan. Anisa berangkat sendiri dari Banyuwangi ke Surabaya dengan menggunakan bus. Tentor tari yang membimbingkan untuk persiapan lomba mendadak tidak bisa menemani karena sakit. Anisa tidak masalah akan hal ini. Baginya kemandirian sudah sering dilakukan sedari kecil atas didikan kedua orang tuanya.

“Mau saya temani untuk perjalanan ke Surabaya?”, tanya Rama saat berpapasan tanpa sengaja dengan Anisa.

“Tidak perlu, Pak. Saya bisa berangkat sendiri.”.

“Tapi kamu perempuan. Tidak baik untuk pergi jauh sendirian.”, timpal Rama lagi. Anisa tetap bersikeras menolak. Rama tetap berusaha untuk mengajukan diri sebagai teman perjalanan. Anisa tetap bersikeras hingga akhirnya Rama mengalah.

Pukul 7 pagi, Anisa benar-benar berangkat sendiri ke Surabaya dengan menggunakan bus. Ketika bus mencapai separuh perjalanan, Anisa teringat akan berkas-berkas lombanya yang tertinggal di sekolah. Anisa panik. Ketertinggalan berkas-berkas itu membuat Anisa tidak akan bisa mengikuti lomba. Anisa berusaha menghubungi teman-temannya karena ia ingat betul bahwa berkas-berkas lombanya tertinggal di laci meja kelas. Hasilnya nihil. Tidak ada satu pun dari temannya yang berhasil menemukan berkas-berkas yang dimaksud Anisa meskipun sudah membersihkan seisi kelash bahkan sempat menanyakan kepada petugas kebersihan sekolah.

Bus yang dinaiki Anisa sudah tiba di Surabaya. Anisa turun dengan lemas disertai perasaan campur aduk. Ia duduk termenung di salah satu kursi terminal. Ketertinggalan berkas-berkas lomba adalah kecerobohannya yang tidak bisa dimaafkan. Tanpa berkas-berkas itu, sekali lagi, mustahil ia bisa mengikuti lomba tari di Surabaya. Hal itu tentu akan mencoreng nama baik sekolahnya.

Lamunan Anisa buyar ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Anisa dengan cepat menoleh ke belakang dan langsung terkejut oleh sosok yang dilihatnya. Napas orang itu terengah-engah. Ia masih menggunakan helm dan jaket kulit hitam. Wajahnya tegang menikmati rasa lelah setelah berlarian di sepanjang koridor terminal. Di tengah rasa heran, Anisa mempersilahkan orang tersebut untuk duduk di sampingnya dan melepas helm.

“Lain kali jangan ceroboh. Ini berkas lombanya.”, ujar orang itu kepada Anisa. Anisa sampai tidak melihat apa yang sedari tadi di bawa orang tersebut di tangan kanannya. Sebuah map kuning berisi berkas-berkas lombanya yang dikumpulkan menjadi satu.

Anisa masih tidak percaya jika yang sedang duduk di sampingnya ini adalah Rama, salah satu dewan juri yang sempat memberikan komentar pedas atas pertunjukannya tempo hari. Rama datang dengan membawa berkas-berkas lomba Anisa. Anisa menerima map kuning itu dengan gamang. Perasaannya tidak menentu. Ia dilanda kebingungan.

“Terimakasih, Pak!”, jawab Anisa untuk mengusir kekosongan waktu di antara mereka berdua. Melihat Rama yang masih terengah-engah, Anisa berinisiatif memberikan minum. “Pak Rama minum dulu?”, kata Anisa menawarkan sebotol air mineral yang masih tersegel. Tanpa pikir panjang, Rama langsung merebut air minum tersebut dari tangan Anisa.

Rupanya Rama sengaja menyusul Anisa setelah mengetahui berkas-berkas yang dibutuhkan Anisa untuk lomba tertinggal di kelas. Tiket bus yang habis memaksa Rama untuk menggunakan sepeda motor. Jarak dari Banyuwangi ke Surabaya yang kurang lebih 291 km berhasil ditempuh Rama demi prediksi kesuksesan Anisa sebagai perwakilan lomba dari SMA Unggulan Nusa Bangsa. Anisa menangkap hal yang ganjal. Apakah ini hanya sekadar hubungan guru dan murid? Ataukah ada dasar cinta yang melatarbelakangi segala yang dilakukan Rama hari ini? Buru-buru Anisa menepis perasaan hatinya. Ia harus bersikap profesional.

“Semoga sukses untuk lombanya.”, kata Rama sembari menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedetik pun ke Anisa. Anisa mengangguk. Rama mengeluarkan sesuatu di balik jaketnya. “Mohon kehadirannya di pernikahan saya.”, ujar Rama sambil menyodorkan undangan dengan pita cantik sebagai penghias. Anisa melongo.

“Bapak mengundang saya?”, tanya Anisa antara terkejut dan bingung.

“Maafkan atas kesalahan saya.”, sahut Rama.

“Soal apa, Pak?”.

“Mohon maaf atas ketidakjujuran saya atas perasaan ini.”.

Anisa masih tidak mengerti.

“Maaf atas komentar pedasnya beberapa waktu yang lalu. Saya sengaja seperti itu bukan hanya agar kamu terpacu untuk lebih baik tapi juga untuk menghilangkan apa yang selama ini saya rasakan terhadapmu.”.

Keheningan tercipta. Rama berujar dengan tatapan lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke Anisa di samping kirinya. Anisa berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Rama dengan penuh tanda tanya. Anisa hanya bisa diam sembari memberikan kesempatan bagi Rama untuk berbicara.

“Maafkan atas perasaan saya selama ini kepada kamu.”, ujar Rama. “Saya sudah menyukaimu sejak pertama kali kamu masuk SMA. Saya sudah mencoba untuk melamarmu tapi orang tua dari kita masing-masing tidak menyetujui karena berbagai alasan. Orang tua masih menjadi segalanya bagi saya. Jadi saya lebih memilih keputusan orang tua daripada mengedepankan cinta kepada orang baru.”.

Datangnya cinta memang tidak pernah terprediksi. Ia bisa datang dari arah mana saja bahkan dari sesuatu atau seseorang yang tidak disangka-sangka. Mendadak mata Anisa berkaca-kaca menahan tangis.

“Saya sudah menemukan wanita lain atas persetujuan orang tua saya. Sulit memang untuk melupakanmu. Terutama karena dari kamu saya dapat merasakan indahnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Saya hanya ingin kamu mengetahui apa yang masih saya rasakan hingga sekarang.”.

Air mata Anisa benar-benar tumpah. Ia menangis tanpa suara. Tangannya mendekap mulutnya erat-erat. Anisa tidak pernah menyangka atas kejujuran Rama terhadap dirinya.

“Satu hal yang menjadi pelajaran penting.”, ujar Rama sembari berdiri dan meregangkan tubuh sejenak. “Cinta pertama tidak akan pernah berhasil.”, tutup Rama sambil melangkah pergi meninggalkan Anisa yang masih duduk terpaku di salah satu bangku terminal.

Andai kata Anisa juga mampu sejujur Rama jika Anisa juga memiliki perasaan yang sama.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s