Resensi Buku Suyoto Rais, Seindah Sakura di Langit Nusantara.


Resensi Buku Suyoto Rais, Seindah Sakura di Langit Nusantara.

wp-1512379284236104073207.jpg

 

Judul buku : Seindah Sakura di Bumi Nusantara

Penulis : Suyoto Rais

Penerbit : Penebar Plus+ (Penebar Swadaya Grup)

Tahun terbit : 2015

Dimensi : 24.6 x 17.5 cm

Tebal buku : 215 halaman

Sinopsis

Suyoto Rais, orang yang kini dikenal sebagai seorang profesional global dulunya adalah anak sulung dari keluarga kurang mampu di Desa Jojogan, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sayangnya, kondisi keluarganya secara psikis juga tidak baik. Suyoto muda harus merasakan perceraian orang tuanya semenjak SD. Masing-masing orang tuanya pun menikah lagi. Perceraian mereka pun berdampak pada kehidupan Suyoto muda yang selanjutnya diasuh oleh kakek neneknya-orang tua dari ibu.

Kakek nenek mendukung penuh Suyoto untuk melanjutkan pendidikan. Dengan pekerjaan seadanya sebagai petani, mereka rela melakukan apapun agar Suyoto mampu melanjutkan sekolah. Namun, kondisi ekonomi yang jauh di bawah kemiskinan membuat kakek nenek sudah tidak bisa lagi membiayai pendidikan Suyoto ke jenjang SMP. Akhirnya, Suyoto bekerja sebagai pembantu di rumah salah seorang guru sekolahnya. Tidak ada rasa malu baginya untuk tetap melanjutkan pendidikan dan bercita-cita tinggi.

SMP mampu terselesaikan dengan baik. Namun, perjuangan masih belum berakhir. Suyoto melanjutkan pendidikan SMA dengan menetap di pondok pesantren tua asuhan Almarhum K.H. Mawardi secara gratis. Kyai sepuh yang cukup terkenal di Tuban ini sangat baik. Beliau mau menerima kehadiran Suyoto meski tujuan utama Suyoto tinggal di pondok pesantren bukan untuk belajar agama.

“Yang paling dicintai Allah itu bukan orang yang pinter ngaji, bukan yang hafal Alquran dan tahu banyak dalil-dalil. Namun, mereka yang benar-benar ikhlas menjalani kehidupan ini dengan segala ritual yang diperlukan, dan ikhlas menolong sesamanya. Kalau semua didasari dengan ikhlas, semua akan terasa ringan. Silahkan saja tinggal di sini selama kamu mau.”. Demikian kata bijak dari K.H. Mawardi yang masih Suyoto ingat sampai sekarang.

Selama hidup di pondok, Suyoto sama sekali tidak mengeluarkan biaya apapun untuk melanjutkan hidup. Makanan selalu ada donatur dari luar pondok. Sedangkan untuk masalah SPP pondok, kakeknya sering menggadaikan sawah. Hal itu membuat Suyoto tergerak untuk membantu kakeknya dengan nyambi berjualan es lilin sepulang sekolah. Suyoto juga pernah mengamen di sekitar Kabupaten Tuban selama libur panjang sekolah untuk menambah uang SPP.

Satu hal yang membuat Suyoto terkesan adalah kakeknya yang merasa bangga dengan nilai rapot Suyoto. Wajah kakek selalu berseri-seri karena konon beliau adalah orang yang dipanggil pertama kali ketika pembagian rapot. Pujian pun selalu datang dari para guru dan wali murid lain. Pembagian rapot saat itu memang berdasarkan urutan ranking tertinggi dan Suyoto selalu menjadi ranking satu di sekolahnya. Tanpa sadar, pencapaian nilai Suyoto di sekolah menjadi penyemangat hidup kakeknya sehari-hari. Tak jarang lelaki berusia 60 tahun itu duduk paling depan di antara wali murid yang lain saat pembagian rapot itu tiba.

Karier pendidikan Suyoto melejit. Dengan ketekunan belajar tanpa lelah, Suyoto diterima di ITS Surabaya dengan predikat lulusan terbaik di SMA-nya. Sayangnya, biaya lagi-lagi menjadi kendala. Beruntung bantuan dan sumbangan silih berganti termasuk dari Pak Lurah dan Pak Camat setempat karena keberhasilan Suyoto sebagai putra desa yang pertama kali diterima di perguruan tinggi negeri papan atas. Secara tidak langsung, hal itu mengharumkan nama desa dan SMA tempat Suyoto belajar dulu.

Masih berbekal bantuan dari orang lain, Suyoto tinggal di Surabaya dengan bantuan dari salah satu dosen ITS berhati emas yaitu Almarhum Pak Soehardjo. Suyoto bekerja sebagai pembantu di rumah beliau yang berada dalam kompleks perumahan dosen. Pak Soehardjo mau menerima Suyoto dengan baik meski tidak kenal sebelumnya.

Uang sumbangan dari desa ternyata hanya cukup untuk biaya kuliah selama satu semester. Mungkin masalah makan dan tempat tinggal sudah teratasi dengan baik, namun masih ada biaya-biaya lain diluar perkiraan demi menunjang kegiatan kuliah termasuk biaya kuliah itu sendiri. Lambat laun, keputusan untuk berhenti kuliah sudah tergantung di depan kepala. Suyoto berpikir bahwa berhenti kuliah lalu bekerja adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Namun, mencari pekerjaan untuk lulusan SMA bukan perkara yang mudah. Pengajuan diri dari kantor ke kantor selalu mendapat penolakan.

Di tengah situasi genting itu, Suyoto mendapat informasi beasiswa OFP (Overseas Fellowship Program) di BPPT. Suyoto mengikuti segala prosedur dan persyaratan tes hingga nekad terbang ke Jakarta untuk tes dengan modal pas-pasan. Dari ribuan anak yang berprestasi dari seluruh Indonesia, Suyoto masuk dalam daftar kandidat calon penerima beasiswa OFP dan diberikan dipilihan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang atau Belanda. Tanpa pikir panjang, Suyoto langsung memilih Jepang sebagai destinasi pendidikan selanjutnya.

Suyoto kuliah pada bulan April 1987 di Industrial and System Engineering, Setsunan University dan lulus dengan gelar Bachelor of Engineer pada Maret 1991. Gelar insinyur dan impian kerja di BPPT seperti impian Suyoto selama ini pun terwujud. Konon di desa, kakeknya sering mendapat ucapan selamat atas kembalinya sang cucu yang sudah menjadi insinyur. Bisa dibayangkan betapa berserinya wajah kakek karena bangga terhadap cucunya, Suyoto Rais.

Pada Februari tahun 1992, Suyoto melanjutkan pendidikannya ke Master Program of Mechanical and System Engineering, Graduate School, Setsunan University dengan beasiswa dari BPPT. Suyoto mengambil jurusan Mechanical System Engineering. Setelah lulus S2, Suyoto melanjutkan S3 di Osaka Prefecture University dengan biaya sendiri. Inilah kali pertama Suyoto untuk membayar biaya pendidikannya sendiri.

Selain cerdas dalam karier pendidikan, Suyoto juga aktif dalam berbagai organisasi yaitu Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Osaka, BINDO Fans Club (BFC) dan lain-lain. Karier kerjanya pun tak kalah hebat. Sosok Suyoto Rais memiliki pengalaman kerja dengan berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang untuk mencari pengalaman. Suyoto sempat bekerja di Denso, Sumitomi Electrik Group, Nidec dan lain-lain. Apalagi ketika kinerja Suyoto sangat baik dan langsung dipercayakan untuk menduduki posisi penting di perusahaan tersebut.

Karier kerja Suyoto yang mengudara tidak serta merta melupakan dirinya dengan Indonesia. Suyoto mulai berpikir untuk bekerja menjadi ekspratriat di negeri sendiri. Selain itu, Suyoto menggalakkan aktivitas Love Indonesia (LOVIN) akibat Indonesia yang mengalami krisis multinasional pada tahun 1998. Kontribusi lain yang dilakukan Suyoto adalah mendirikan pusat produksi makanan halal Indonesia di Jepang yang nantinya mampu mengimpor bahan baku langsung dari Indonesia.

Salah satu kritik Suyoto dalam bukunya adalah kebanyakan peneliti Indonesia saat ini lebih mementingkan education oriented daripada market oriented. Education oriented adalah dimana struktur jabatan peneliti lebih mementingkan gelar akademis, sertifikat dan publikasi ilmiah dalam pengembangan iptek. Sekilas, sistem penilaian ini memacu persaingan sehat dan meningkatkan kreativitas para peneliti untuk berprestasi memperbanyak karya ilmiah. Tetapi realitasnya di lapangan adalah karya ilmiah yang dihasilkan hanya untuk mempercepat jenjang karier pribadi bukan untuk menghasilkan manfaat riil bagi masyarakat luas. Sedangkan market oriented lebih memfokuskan diri pada pengembangan sumber daya manusia seperti memberikan lapangan pekerjaan beserta pelatihan bagi masyarakat sekitar. Peneliti marked oriented ini lebih menekankan hasil penelitiannya agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Sudah seharusnya kita menjadi pelajar sebagai aset bangsa yang siap berkontribusi demi kemajuan Indonesia. Semangat menempuh pendidikan, meraih cita-cita dan berkontribusi untuk Indonesia sudah Suyoto salurkan untuk generasi muda melalui buku biografinya, Seindah Sakura di Bumi Nusantara.

wp-15123793120261205338565.jpg
Salah satu judul tulisan Suyoto Rais dalam buku
wp-15123792948421573259856.jpg
Album kenangan pada bab terakhir buku
wp-15123793036891739585316.jpg
Salah satu judul subbab pada buku.
Iklan

1 thought on “Resensi Buku Suyoto Rais, Seindah Sakura di Langit Nusantara.”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s