Bapak Si Pedagang Kue Basah


Ketika hujan turun sepanjang siang menjelang sore di Kabupaten Jember, saya mendapati sosok yang berusia tak lagi muda sedang berjuang membawa dua kotak aluminium besar dan terlihat berat. Matanya tetap memancarkan semangat ketika menawari saya barang dagangannya yang ternyata ada di dalam dua kotak tersebut.

“Ayo mbak dibeli jajanan kuenya.”, ujar si bapak sambil membuka salah satu kotak aluminium yang berisi kue basah berwarna-warni. Si bapak ini sudah jelas tidak muda lagi umurnya. Guratan-guratan lelah serta tubuh ringkih yang menahan dinginnya hujan terlihat jelas di mata saya. Meski dengan kondisi demikian, bapak tersebut tetap menunjukkan aura semangat untuk mencari rezeki.

Bapak itu menutup dagangannya lalu melangkah pergi ketika saya menolak tawaran beliau secara halus. Beberapa detik kemudian, saya mulai merenung. Kepergian bapak tersebut mengundang banyak kesimpulan pribadi dalam batin saya. Mengingat barang dagangan yang masih banyak pada tangkapan pandang saya tadi, beliau pasti bersedih jika pada akhirnya jajanan kuenya tersebut tidak laku dan membusuk ditelan hari. Bapak itu pasti memiliki alasan mengapa ia rela berprofesi sebagai pedagang kue basah dengan strategi penjualan secara tradisional yakni berkeliling kampus sembari jalan kaki. Atau barangkali bapak tersebut tidak memiliki pilihan lain selain berjualan kue basah karena hanya itu yang bisa ia demi menghidupi orang-orang terkasih di rumah.

Pikiran saya mendadak menalar segala sesuatu secara cepat tentang kehidupan bapak tersebut. Lalu menarik garis kesimpulan sendiri. 

Jika direfleksikan dengan diri saya, saya seharusnya amat sangat bersyukur dengan posisi saya sekarang. Saya bisa menikmati berbagai fasilitas kampus dan menempuh pendidikan sembari mengenakan jas almamater dengan penuh kebanggaan tanpa perlu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang hari ini. Berbeda dengan orang lain – atau mungkin bapak si pedagang kue basah tadi- yang tidak bisa menikmati momen emas seperti yang saya rasakan. Atau barangkali bapak tersebut sedang berjuang menahan dingin dan lapar yang menusuk sedangkan kehidupan saya di Jember selalu merasakan kenyang dan cukup atas segala sesuatunya.

Setiap saya melihat pedagang-pedagang – tidak hanya bapak si pedagang kue basah- yang berkeliling di sekitar kampus, saya selalu menerka-nerka lebih jauh tentang apapun mengenai diri mereka. Perjuangan mereka untuk mencari lembar demi lembar penerus kehidupan pasti memiliki latar belakang tersendiri terutama jika alasannya adalah untuk menanggung kelangsungan hidup orang-orang tercinta di rumah. Bisa jadi mereka sedang merangkai masa depan serta menancapkan harapan setinggi langit kepada generasi penerusnya agar dapat menikmati hidup dengan lebih layak.

Kepergian bapak si pedagang kue basah tadi membuat saya mendadak intropeksi diri. Saya harus pandai-pandai bersyukur. Ada sosok-sosok yang rela berjuang agar kehidupan saya dapat berjalan secara baik dan mereka adalah kedua orang tua saya. Saya masih perlu belajar banyak untuk bersyukur karena keluhan demi keluhan sering mendominasi keseharian. Saya harus menyadari jika cucian banyak dan menumpuk berarti saya memiliki baju karena tidak semua orang memiliki baju selayak yang saya pakai. Jika saya kekenyangan berarti ada rezeki yang bisa saya makan hari itu. Jika saya mendapati tugas kuliah yang tidak ada habisnya berarti saya memiliki kesempatan untuk sekolah. Jika saya merasa sulit untuk mengeluarkan motor dari parkiran berarti saya memiliki motor sebagai fasilitas kemana saja selama di Jember. Jika saya merasa jengkel dengan seorang teman itu artinya saya masih punya teman. Jika saya tidak merasakan segala sesuatu yang sering saya keluhkan sebelumnya, berarti saya tidak kuliah, tidak punya makanan, tidak punya motor, tidak punya teman dan segala kenikmatan yang sudah Allah titipkan kepada saya. 

Ya Allah, ajari Itsna untuk selalu bersyukur di setiap suasana. 
Ngomong-ngomong, saya sudah kehilangan satu kesempatan untuk berbuat kebaikan. Seharusnya saya membeli barang dagangan si bapak walaupun hanya satu biji. Sepele memang. Tapi bukankah membuat orang lain bahagia lewat tindakan sepele yang kita lakukan adalah salah satu bentuk kebaikan yang menuai pahala? Bisa jadi bapak itu amat sangat bahagia karena saya adalah pelanggan pertamanya hari ini. Penyesalan selalu datang di akhir. Hiks. 😥

Penampakan bapak si pedagang kue basah. Bapak selalu membawa dua kotak alumium di depan dadanya. Foto ini adalah momen ketika bapak tersebut pergi setelah dagangannya saya tolak

Ditulis ketika sedang kejenggreng di Universitas Jember. Kejenggreng itu artinya terjebak hujan. Hehe

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s