Ridho Orang Tua adalah Segalanya


Ridho Orang Tua adalah Segalanya

Kemarin, 11 November 2017, Ustad Ari Dwi Widodo S.Pd.I, M.Pd.I selaku salah satu guru ngaji diniyah saya di pondok pesantren mahasiswi Al Husna menyampaikan petuah luar biasa di antara materi pembelajaran. Begitulah gaya beliau mengajar –yang saya suka– yaitu menyisipkan pelajaran atau nasihat kehidupan di sela-sela materi pembelajaran yang memang harus disampaikan.

Di kala hening tercipta di antara santri-santri yang sedang mencerna materi baru, Ustad Widodo tiba-tiba saja menyampaikan suatu hal tentang pernikahan. Beliau menyampaikan bahwa kita sebagai perempuan harus meminta pendapat dan persetujuan orang tua ketika hendak menikah. Hal ini menjadi pertimbangan yang amat sangat penting mengingat perempuan membutuhkan wali sebagai salah satu syarat sah pernikahan. Berbeda dengan laki-laki. Perempuan harus berdiskusi atau menjalin komunikasi penuh dengan orang tua terkait rencana pernikahan karena dari sana tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya akan berpindah tangan kepada laki-laki yang menikahinya. Terlepas dari gender laki-laki atau perempuan sepatutnya kita sebagai anak tetap mendiskusikan secara baik perihal besar seperti ini kepada ayah ibu kita selaku orang-orang penting yang telah berperan besar dalam hidup kita selama ini. Meskipun secara fiqih laki-laki tidak perlu meminta persetujuan orang tua dalam memilih dan menikahi seorang perempuan.

Ustad Widodo memberikan penekanan penuh mengenai persetujuan orang tua terhadap siapa calon pendamping kita sebagai perempuan. Ridho orang tua adalah yang paling penting ketika akan melangsungkan pernikahan karena atas ridho orang tua lah kehidupan pasca pernikahan yang kita jalani akan berjalan dengan baik dan bahagia. Ridho dan keikhlasan orang tua untuk melepas anak perempuannya kepada seorang laki-laki itu tidaklah mudah. Orang tua memiliki banyak sekali pertimbangan tentang laki-laki yang akan menikahi putrinya. Hal ini didasari tak lain dan tak bukan adalah bentuk kasih sayang orang tua yang sudah mendidik dan membesarkan anak perempuannya dengan penuh kasih sayang sedari kecil. Orang tua mana yang rela jika anak perempuannya yang amat disayangi jatuh ke tangan laki-laki yang tidak benar? Setiap orang tua sudah barang tentu ingin melihat anaknya –terutama anak perempuannya– bahagia ketika sudah benar-benar dilepas ke kehidupan yang sesungguhnya.

Ustad Widodo memberikan contoh yang diangkat dari kisah nyata. Alkisah ada seorang perempuan yang sudah mantap untuk menikah dan sudah memiliki pilihan pasti. Sayangnya, siapa sosok laki-laki pilihan perempuan ini tidak didiskusikan dengan orang tua terlebih dahulu. Perempuan ini tetap bersikukuh dengan pilihannya ketika pihak orang tua sama sekali tidak menyetujui rencana pernikahan mereka bahkan pihak orang tua sudah berkali-kali istikharah namun jawaban atas istikharah mereka hanya keburukan dan keburukan. Dengan kata lain, kedua orang tua sependapat bahwa mereka tidak setuju jika anak perempuan mereka menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri. Perseteruan antara perempuan dengan orang tuanya terkait masa depan si perempuan itu sendiri terus berlanjut hingga sang ayah meninggal karena stres atas perilaku anak perempuannya yang egois. Sang ibu pun juga dilanda stres akibat perilaku anak perempuannya. Akhirnya, sang ibu berbicara langsung kepada anaknya beserta laki-laki pilihannya dan langsung menentukan tanggal pernikahan. Sang ibu mengatakan bahwa tindakan ini tidak lantas berarti sang ibu setuju akan pernikahan mereka. Sampai kapan pun, sang ibu menyatakan bahwa beliau tidak ridho atas pernikahan anaknya sendiri.

Tanpa pikir panjang, pernikahan perempuan ini tetap berlangsung. Namun, kehidupan pasca pernikahan tidak seindah yang mereka bayangkan. Keluarga kecil ini sudah dililit utang sana-sini. Gaji pasangan suami istri sebagai pegawai negeri sipil harus habis untuk membayar utang. Kehidupan mereka serba kekurangan. Padahal secara logika dengan profesi antara suami dan istri yang sesama PNS seharusnya membuat kehidupan mereka berkecukupan. Hidup dengan penuh masalah dan serba kekurangan terus berlanjut hingga sang suami meninggal di usia muda dengan meninggalkan istri, tiga orang anak yang masih kecil serta setumpuk utang. Alhasil sang istri harus membayar utang suami sendirian hingga gajinya sebagai PNS hanya bersisa sekitar lima ratus ribu setiap bulan.

Tidak patuh terhadap orang tua sama seperti dapat diartikan sebagai durhaka kepada orang tua. Padahal durhaka kepada orang tua adalah dosa besar dan hukumannya pun tidak main-main yaitu langsung diturunkan di dunia ketika masih hidup sebagaimana salah satu hadist Rasulullah yang artinya:

”Setiap dosa-dosa, Allah Ta’ala mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua oranguanya, sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelakunya saat hidup di dunia sebelum wafat.” (Riwayat At Thabarani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim dan As Suyuthi)

15078759_10207159557297240_505501969287739622_n
Dua orang tercinta, Abah dan Ibuk. :’). Foto ketika Abah Ibuk liburan di Eropa tapi saya tidak tahu Eropa bagian mana karena saya tidak diajak.

Lalu, apa korelasi penyampaian Ustad Widodo beserta kisahnya dengan foto orang tua saya seperti di atas? Saya hanya teringat dengan orang tua saya ketika Ustad Widodo menjelaskan tentang pentingnya ridho orang tua. Ridho orang tua memang teramat sangat penting di setiap sendi kehidupan saya. Setiap ada apapun saya selalu berusaha untuk jujur dan terbuka. Terlebih mengenai anjuran dan larangan dari Abah dan Ibuk yang berusaha untuk selalu saya turuti. Apapun yang sedang saya lalui tidak pernah lepas dari restu orang tua yang senantiasa mendukung dan mendoakan saya dari rumah. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang patuh dengan orang tua serta mampu membahagiakan mereka. Aamiin aamiin.

Abah… Ibuk… Itsna kangen banget. Salam kangen dari Jember. Mohon doanya terus untuk Itsna di perantauan. :’)

 

Iklan

2 thoughts on “Ridho Orang Tua adalah Segalanya”

  1. Semoga kangennya sedikit terobati setelah menulis ini!
    Rasa-rasanya tersentil juga membacanya. Pernah mendengar kisah serupa juga dan akhirnya mirip-mirip. Terima kasih pengingatnya

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s