Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara


Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

Pancasila 5
Pancasila memuat Bhineka Tunggal Ika. Gambar dari Ekominator

Paradigma memiliki pengertian yaitu suatu kerangka berpikir, cara berpikir serta pandangan hidup terhadap suatu hal. Jadi, pancasila sebagai paradigma kehidupan mengandung arti bahwa pancasila berperan sebagai kerangka acuan dari berbagai tindakan yang akan dilakukan oleh setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Pancasila sebagai paradigma kehidupan terbagi menjadi tiga komponen penting yaitu sebagai paradigma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun dalam praktiknya, pancasila sebagai paradigma kehidupan bermasyarakat dapat ditemukan dalam sikap toleransi misalnya ketika kita hendak bertamu di rumah salah seorang teman yang akan keluar menjalankan ibadah rutin. Sikap kita setelah mengetahui kepentingan seorang teman tersebut hendaknya mempersilahkan ia untuk mendahulukan kepentingannya terlebih dahulu karena bertamu dapat dilakukan lain waktu. Contoh lain adalah perlunya musyawarah ketika memilih struktur kepengurusan baru dalam sebuah organisasi bukan secara sepihak sudah menentukan nama-nama baru untuk menggantikan kepengurusan lama. Musyawarah cukup penting untuk mempertimbangkan nama-nama calon pengurus untuk kebaikan organisasi itu sendiri di masa yang akan datang.

Contoh dari penerapan pancasila sebagai paradigma kehidupan berbangsa adalah tentang hubungan antara masyarakat dengan negara. Hubungan masyarakat dengan negara ini berkaitan dengan hak dan kewajiban baik masyarakat kepada negara atau sebaliknya yang sudah diatur dalam UUD 1945 pasal 27-31. Hak dan kewajiban masyarakat dan negara pun berdasarkan pada norma-norma yang terkandung dalam pancasila.

Pancasila sebagai paradigma kehidupan bernegara dapat dicerminkan melalui kehidupan bangsa dan negara yang sudah mengikut norma-norma dalam pancasila. Menurut UUD 1945 sendiri, pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. UUD 1945 juga dibentuk dengan pancasila sebagai dasarnya.

Beberapa butir pertanyaan muncul dari Pancasila sebagai paradigma bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu butir pertanyaan adalah mengenai peran pancasila dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pancasila yang memuat konsep, ideologi, falsafah dan dasar negara Indonesia sejatinya mampu berperan sebagai filter bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa pesatnya. Perkembangan IPTEK tentunya harus sesuai dengan norma-norma yang terkandung dalam pancasila. Contoh nyata dari pelanggaran norma pancasila adalah kloning manusia. Beberapa ilmuwan berusaha untuk meciptakan manusia tanpa ayah dan ibu yang artinya penciptaan manusia hanya dilakukan dengan penyatuan dua sel. Hal tersebut tentu tidak lazim karena seorang manusia pasti terlahir dari peran ayah dan ibunya. Kasus kloning manusia ini melanggar norma pancasila tepatnya pada sila pertama yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Kloning manusia tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yang meciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Maka dari itu, perkembangan IPTEK perlu ditelusuri secara filsafat ilmu tepatnya melalui pendekatan aksimologi yaitu mencari manfaat dari perkembangan IPTEK itu sendiri.

Kasus lain adalah pembuatan atom dan pembuatan obat-obatan keras atau terlarang. Pembuatan bom dan obat-obatan sebagai dampak perkembangan IPTEK perlu dikaji seperti manfaatnya bagi manusia. Manfaat di sini bisa bersifat baik atau merusak. Manfaat yang merusak inilah yang tidak sesuai dengan norma-norma pancasila seperti yang sudah diterangkan sebelumnya.

Butir pertanyaan lain adalah bagaimana praktik Pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi kerakyatan. Pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi kerakyatan yang digunakan Indonesia adalah berdasarkan pada gotong royong atau saling bantu membantu antar anggota masyarakat. Implementasi nyata dari pembangunan ekonomi kerakyatan adalah istilah anak asuh perusahaan yaitu perusahaan besar membantu perusahaan-perusahaan yang masih kecil baik dari segi ilmu, dana dan lain-lain agar perusahaan-perusahaan kecil tersebut mampu berkembang dengan baik. Namun, praktik pembangunan ekonomi kerakyatan ini tidak sesuai dengan harapan karena pengaruh kapitalisme yang bebas masuk di Indonesia setelah reformasi.

aksi-mahasiswa
Gambar dari Voxpop.id

Lalu, apakah Indonesia sudah sesuai dengan reformasi yang terjadi antara tahun 1987 hingga 1989? Kita perlu mengetahui tujuan dari reformasi yaitu menciptakan masyarakat yang madani. Masyarakat yang madani berarti masyarakat yang demokratis yaitu berperilaku dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Sayangnya, setelah reformasi, orientasi apapun yang ada di Indonesia selalu berkiblat oleh barat karena Indonesia kaget melihat indahnya kebebasan pasca Orde Baru. Akhirnya segala sesuatu dari luar negeri dapat masuk seenaknya ke Indonesia termasuk kapitalis yang berarti persaingan bebas. Indonesia sendiri mengakui bahwa ia berlandaskan pada demokrasi pancasila sedang dalam praktiknya sekarang sedang menganut paham liberal.

Pancasila sebagai paradigma sosial budaya di lingkungan pendidikan juga perlu diterapkan. Salah satu caranya adalah menghindari plagiarisme ketika mengerjakan tugas serta tidak mencontek dan mengutamakan kejujuran ketika ujian berlangsung. Kita sebagai mahasiswa juga sudah sepatutnya mengubah paradigma yang selama ini menjadi acuan ketika mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Bapak Sumarjono M.Si, dosen mata kuliah Pendidika Pancasila Universitas Jember mengatakan,

Jangan mengemis kerja kepada orang lain ketika lulus tetapi jadilah dermawan minimal terhadap diri sendiri.

Dermawan di sini berarti mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri serta mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain minimal bagi diri sendiri terlebih dahulu. Kita dapat bergerak secara mandiri bukan dengan bergantung pada perusahaan lain terutama perusahaan yang dimiliki oleh orang asing. Kita tidak sepatutnya menjadi budak di negeri sendiri. Paradigma inilah yang harus kita ubah sedini mungkin. Bapak Sumarjono pun memberikan pertanyaan terkait paradigma seorang mahasiswa.

Masih bisakah Anda tersenyum dan tertawa dua puluh tahun lagi?

Sebuah kalimat tanya yang patut menjadi perenungan mengingat bahwa nasib bangsa Indonesia kelak akan ditampu oleh para generasi mudanya yang kini tengah menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya.

Mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan artikel di sana. Kritik dan saran amat dibutuhkan dari pembaca. Terimakasih

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s