Napak Tilas Kenangan Sosok Guru


Bu Muna, guru mengajiku sedang asyik menulis sesuatu di selembar kertas kecil berwarna kuning.

“Kamu bisa baca ini?”, tanya Bu Muna menunjukkan hasil tulisannya. Aku menggeleng. Pasalnya tulisan yang ditunjukkan Bu Muna berupa tulisan arab tanpa harakat.

“Kalau gini? Udah bisa baca?”. Aku menggangguk meski caraku membaca tulisan tersebut masih terbata-bata. “Itu doa dari gurunya Bu Muna ketika Bu Muna mau mengikuti lomba tahfidz quran dulu.”.

“Yang jadi juara tingkat kabupaten itu ya ustadah?”.

“Iya! Itsna bener.”.

***

Sekilas memori beberapa tahun silam mencuat ke permukaan. Hati ini tiba-tiba teringat pada sosok Bu Muna, guru ngaji pertamaku yang menjadi tonggak awal perjalananku tanpa henti hingga sekarang. Beliau pernah sekali mendampingiku dalam lomba tahfidz cabang satu juz di Universitas Negeri Malang ketika aku masih SMA.  Kini aku berkesempatan mengikuti perlombaan yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember. Tidak kusangka aku akan mengikuti perlombaan seperti ini lagi meski tanpa pendampingan.

Aku pun teringat sepenggal doa pemberian Bu Muna dahulu ketika sehari sebelum pelaksanaan lomba. Aku masih ingat betul bahwa Bu Muna menulis doa tersebut di selembar kertas kecil berwarna kuning yang bahkan sengaja aku minta sebagai kenang-kenangan.

 اللّهُمَّ لَيِّنْ قَلْبِيْ وَ قَلْبَهُمْ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَوْوُدَ عَلَيْهِ سلَّمَ

“Ya Allah lunakkanlah hatiku dan hati mereka sebagaimana engkau melunakkan besi bagi Daud AS.”

Aku melafalkan doa itu kembali sebelum benar-benar berhadapan dengan juri. Di tengah penantian panggilan sesuai nomor urut, aku melakukan beberapa aktivitas seperti nderes, bermain hp bahkan tertidur. Sebagai nomor urut 21, aku berkesempatan maju di hadapan juri sekitar pukul 4 sore ba’da Ashar.

Nomor urut 21

Sekadar informasi, lomba Islamic Nursing Festival 2017 yang diadakan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember ini dimulai sekitar pukul 8. Sesi lomba tahfidz diawali oleh peserta laki-laki dengan urutan cabang juz 30, juz 29 sampai 30 dan juz 1 sampai 5. Penilaian dua dewan juri terhadap peserta laki-laki selesai pada pukul 10 lalu dilanjutkan dengan sesi lomba tahfidz untuk perempuan yang terpotong-potong istirahat dhuhur dan ashar. Perlombaan ini baru selesai sekitar pukul 5 ditemani oleh derasnya hujan yang mengguyur Kabupaten Jember. Antara peserta laki-laki dan perempuan sengaja dipisah sesi lombanya demi kemaslahatan bersama namun tetap ditangani oleh dewan juri yang sama.

Lelahnya menunggu.

Aku bersyukur dengan pengalaman seperti ini meski hasilnya kurang maksimal karena saking lelah menunggu, kepala pusing, kekenyangan dan segala alasan yang melatarbelakangi kegagalan. Aku gagal di soal kedua dari tiga soal karena kurang menyimak soal yang dibacakan salah satu juri. Jadi pada soal kedua yang terjadi bukan karena tidak tahu kelanjutan ayat melainkan tidak tahu ayat apa yang ditanyakan. Amat sangat disayangkan.

Mengenai Bu Muna, aku teringat akan sosok beliau berkat lomba ini walaupun niat awal mengikuti perlombaan hanyalah iseng semata. Bu Muna mungkin sudah terlalu jauh jaraknya dari pelupuk mata namun beliau tetap kuingat betul dalam lubuk hati ini yang paling dalam sebagai sosok inspirasi. Meski sudah hampir tidak pernah bertemu kembali, tapi hubungan kami sebagai guru dan murid tetap tersambung lewat serangkai doa meski hanya sekadar bacaan surah Al Fatihah.  Kami masih berkomunikasi ringan via Whatsapp. Bu Muna masih terus memberi semangat agar terus berjalan hingga titik akhir.

Bu Muna, Itsna masih ingat sama Bu Muna yang pertama kali ngajar di sekolahku waktu aku kelas 2 SMA.

Bu Muna, Itsna masih ingat ketika Bu Muna membacakan surah Al Baqarah ayat 124 pada juz 1 sebagai soal.

Bu Muna, Itsna masih ingat ketika Itsna gak bisa melanjutkan ayat-ayat yang dibacakan Bu Muna saat kita berdua duduk di mushola.

Bu Muna, Itsna masih ingat ketika Bu Muna wajahnya pucat karena menahan sakit tapi tetap memaksa masuk demi menjaga hafalan kami.

Bu Muna, pokoknya Itsna masih ingat dengan Bu Muna.

Itsna akan melanjutkan semangat Bu Muna hingga akhir hayat. InsyaAllah.

wp-image--2053216960
Ruangan lomba.
Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s