Refleksi dan Tindakan Kita sebagai Generasi Penerus Bangsa Indonesia


Refleksi dan Tindakan Kita sebagai Generasi Penerus Bangsa Indonesia

Jember – Senin, 11 September 2017, Bapak Sumarjono, M.Si. selaku dosen mata kuliah Pancasila Universitas Jember sedang menerangkan materi Refleksi dan Tindakan atau to reflect and to act sebagai bagian dari suatu bangsa. Perbedaan antara negara maju dan berkembang sebenarnya bukan terletak pada umur berdirinya suatu negara. Sumber daya alam yang melimpah di suatu negara pun tidak menjamin akan membawa kemajuan bagi suatu negara. Sama seperti tolak ukur kedewasaan seseorang. Semakin banyak nominal umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Contohnya adalah Mesir dan India yang sudah berdiri kurang lebih sekitar 2000 tahun yang lalu tapi masih tetap miskin hingga sekarang. Padahal yang kita tahu, negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir dan India memiliki banyak potensi sumber daya alam melimpah seperti minyak bumi. Jepang, Singapura, Kanada, Australia dan New Zealand adalah contoh negara-negara yang berdiri kurang lebih sekitar 150 tahun yang lalu, namun sudah memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa serta penduduknya tidak lagi mengalami kemiskinan. Wilayah Jepang sendiri hanya memiliki sekitar 20% sumber daya alam dari bidang peternakan dan pertanian untuk dikembangkan.

Namun, Jepang saat ini mampu menjadi raksasa ekonomi nomor 2 di dunia. Padahal jika kita melihat kembali ke belakang tentang sejarah Jepang, Jepang mengalami kekalahan terhadap Amerika Serikat pada Perang Dunia II serta tragedi mengerikan yaitu dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang juga menjadi industri terapung yang mengimpor bahan baku dari banyak negara dan mengekspor barang jadi ke seluruh dunia.

bn-bf114_toyota_g_20140123043559
Hiruk pikuk produksi pabrik mobil Toyota di Jepang. Sumber gambar dari indo.wsj.com

Contoh lainnya adalah Swiss, negara yang terkenal dengan coklat terbaiknya di seluruh dunia. Padahal Swiss sebenarnya tidak memiliki kebun coklat. Bahkan negara yang memiliki luas wilayah tidak sampai setengah dari pulau Madura itu hanya memiliki sekitar 11% luas wilayah tanah yang mampu ditanami. Swiss juga terkenal dengan pengolahan susu terbaik di dunia. Nestle, brand makanan dan minuman terbesar di dunia menjadi bukti kualitas produk susu yang dihasilkan Swiss. Swiss tidak memiliki keamanan, integritas dan ketertiban yang baik namun bank-banknya menjadi favorit masyarakat dunia untuk menyimpan harta benda.

5135652-3x2-700x467
Kurang lebih sekitar 8 juta koin emas tersimpan di Kubah Bank Swiss seluas 45 meter persegi. Sumber gambar dari abc.net.au

Singapura, negara super kecil wilayahnya jika dibandingkan dengan Indonesia, menjadi raksasa ekonomi nomor 1 di Asia. Bahkan, Indonesia yang terkenal sebagai negara maritim dan memiliki wilayah lautan sebesar dua per tiga itu mengimpor 40% garam dari Singapura. Perdana Menteri Singapura saat itu mengatakan bahwa modal terbesar Singapura hingga menjadi seperti sekarang adalah kejujuran. Hal itu dibuktikan dengan mengadakan studi kasus yaitu peletakan dompet berisi uang di 100 WC umum yang berada di Singapura. Hasilnya? Hanya 10% dompet berisi uang yang benar-benar hilang. Sisanya masih tetap utuh berada di WC atau beberapa warga sipil melaporkannya ke polisi tentang penemuan barang hilang. Jangan dibayangkan jika studi kasus ini dilakukan di Indonesia.

Jika diteliti lebih jauh, ternyata negara-negara maju menerapkan prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut:

  1. Mengedepankan etika
  2. Jujur dan memiliki integritas
  3. Bertanggung jawab
  4. Meenghormati dan menaati peraturan
  5. Menghormati hak orang lain
  6. Mencintai pekerjaan
  7. Suka menabung dan berinvestasi
  8. Kerja keras
  9. Selalu tepat waktu

Kenyataannya, hanya segelintir orang dari negara berkembang dan terbelakang yang menerapkan prinsip-prinsip dasar kehidupan di atas. Namun, orang-orang yang dikatakan pemalas di negaranya sendiri, justru menjadi rajin dan produktif ketika bermigrasi dan menetap di negara orang lain. Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikas dengan temannnya dari negara berkembang dan terbelakang sependapat bahwa tidak ditemukan perbedaan signifikan terkait kecerdasan. Perbedaannya ada pada sikap dan perilaku masyarakatnya yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui pendidikan dan kebudayaan. Evaluasi dari bangsa Indonesia terutama generasi mudanya adalah mengenai perilaku. Kita yang kebanyakan sudah seperti orang jawa yang kehilangan jawanya, orang madura yang kehilangan maduranya, orang sunda yang kehilangan sundanya dan sebagainya. Kita mulai melupakan kebudayaan kita dan lebih berkiblat pada negara lain yang dianggap keren dan kekinian. Kita juga seringnya memiliki karakter pemalas, ngeyelan, dan bermental serba instan. Perlahan namun pasti, kita mulai melupakan karakter dan jati diri kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Seperti pesan Ir Soekarno bahwa jika suatu bangsa kehilangan jati dirinya, maka bangsa itu akan terancam hancur maka punah.

Thomas Lickona (1991), seorang profesor pendidikan Karakter dari Cortland University, mengungkapkan bahwa terdapat sepuluh tanda-tanda yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu menjadi sebuah pertanda bahwa bangsa sedang menuju ambang kehancuran. Tanda-tandanya antara lain sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
  2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk
  3. Pengaruh peer-grup yang kuat dalam tindak kekerasan
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas
  5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk
  6. Menurunnya etos kerja
  7. Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru
  8. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
  9. Membudayanya ketidakjujuran
  10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian

Permasalahan yang terjadi di negara kita bukan terletak pada kejam tidaknya alam terhadap kita. Permasalahan sesungguhnya terletak pada perilaku kita yang masih kurang disiplin jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Mari kita mengintropeksi diri sendiri agar kelak menjadi penerus bangsa serta mampu memajukan negara Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Review tatap muka perkuliahan pada hari Senin, 11 September 2017 dimana saya mulai menyukai pelajaran teoritis seperti Pendidikan Pancasila beserta sejarahnya.

Sumber pernyataan Thomas Lickona dari sini.

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s