Maaf! Saya Kurang Beretika


wp-image-310733742
Suasana kelas saat mata kuliah. Terlihat salah satu teman sedang mempresentasikan materi pelajaran.

Tugas, tugas dan tugas. Masih belum lepas dari eurofia seorang mahasiswa baru, saya merasakan zona peralihan yang luar biasa berbeda. Setelah merasakan satu tahun lamanya tidak sekolah semenjak lulus SMA, kini saya benar-benar menempuh pendidikan kembali di jenjang perguruan tinggi. Seandainya dibuat studi banding, SMA dan kuliah adalah dua hal yang jauh berbeda. Mungkin di SMA kita akan belajar hanya dengan menunggu pembahasan dari guru. Kalau guru belum menerangkan otomatis kita tidak akan mempelajari. PR pun melimpah namun bisa secepat kilat terselesaikan. Entah dengan cara apapun. Coba bandingkan dengan kuliah ketika kita disuruh belajar mandiri serta berkelompok. Belum lagi tugas-tugas yang tidak ada matinya. Baru selesai satu, tumbuh yang lain. Tugas pun tidak bisa diselesaikan hanya dalam semalam dua malam melainkan bertahap dalam beberapa hari. Sebagai mahasiswa, kita juga dilarang keras copy paste hanya dari Google dan situs-situs tidak jelas lainnya. Dibutuhkan sumber refrensi yang terpercaya daripada hanya sekadar tautan bergaris bawah serta berwarna biru. Kesimpulan saya pribadi, kuliah menuntut kita menjadi pribadi yang gemar membaca. Jadi teringat dawuh Abah saya.

Kuliah itu gur ngunu-ngunu tok, Nduk! Mlebu kelas dilut, terus muleh. Jadi perlu ada kegiatan bermanfaat biar gak bosen.

Abah benar soal keadaan kuliah dimana kita hanya bertatap muka hanya sebentar bahkan waktu kuliah bisa terpotong dalam artian jam kuliah bisa dilaksanakan secara tidak beruntun. Tapi tugasnya masyaAllah!. Saya selaku mahasiswa baru masih terheran-heran dengan banyaknya tugas. Saking banyaknya tugas serta dikejar deadline, terkadang saya mengerjakan tugas secara amburadul dan seadanya. Hasilnya pun dirasa kurang maksimal. Munculnya semboyan pamungkas “sing penting nggarap sing penting mari sing penting ngumpulne”. Padahal ini masih semester satu. Bagaimana dengan semester-semester selanjutnya? Sesibuk apa? Gak usah dibayangne tapi dilakoni ae.

Mengingat perkembangan zaman yang semakin pesat, tugas pun bisa diberikan oleh dosen secara online. Mahasiswa tinggal membuka sistem informasinya saja di internet tanpa perlu bertatap muka langsung dengan dosen. Begitu pun pengerjaan tugas bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja selama memungkinkan. Termasuk saya yang mengisi waktu luang mata kuliah dengan mengerjakan tugas melalui smartphone.

Sebenarnya mata kuliah hari ini tidak benar-benar kosong melainkan diisi dengan acara presentasi oleh kelompok yang ditunjuk. Hanya saja karena dosen berhalangan untuk hadir, mahasiswa jadi sedikit banyak tidak bisa diatur. Kebanyakan mahasiswa -termasuk saya- yang harusnya menyimak dengan bijak malah asyik sendiri. Banyak yang tidak menghormati pemateri di depan mulai dari ngobrol, tidur sampai mainan hp. Saya adalah salah satu contoh kasus yang sedang mainan hp di kelas. Tapi saya tidak sekadar main hp melainkan mengerjakan tugas. Dengan aplikasi note dan Microsoft Word versi mobile, lumayan untuk menyicil tugas yang masih berantakan.

Jika disinggung dari segi adab, sopan santun, etika, akhlak dan istilah sejenis, jelas perbuatan semacam ini tidak bisa dibenarkan. Bahasa umum yang biasa digunakan adalah etika. Dimana ketika ada seorang pemateri yang sedang menyampaikan materi, kita sebagai penonton seharusnya menyimak apa yang disampaikan dengan baik. Tapi permasalahannya bukan terjadi pada penonton yang kurang beretika saja melainkan bagaimana pemateri dalam mempresentasikan topik dengan cara yang membosankan dan kurang beretika juga. Misalnya membacakan seratus persen isi makalah, slide power point yang penuh dengan tulisan, membacakan isi slide di power point kepada penonton, bahasa tubuh yang kaku dan tidak memperhatikan penonton, kurangnya penguasaan materi dan lain-lain. Pemateri juga turut andil dalam sukses tidaknya suatu acara. Kesuksesan dapat dibuktikan dengan antusiasnya penonton selama materi berlangsung serta bagaimana penonton dapat memahami apa yang disampaikan secara baik dan tepat.

Jujur, ketika teman-teman saya sedang presentasi di kelas, saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka sampaikan. Mereka tidak seperti menyampaikan materi melainkan membacakan materi. Ada yang membacakan isi makalah. Ada pula yang membacakan isi slide yang sebenarnya bisa dibaca sendiri oleh audience. Intensitas bahasa tubuh mereka yakni menghadap penonton saat presentasi juga kurang sekali. Daripada bosan dan melamun karena tidak paham dengan apapun yang disampaikan pemateri di depan, saya memilih nyicil mengerjakan tugas. Sebuah pilihan yang bijaksana daripada tidur di kelas.

wp-image-1020359384
Nyambi ngerjakan tugas. Maaf ya bagi teman-teman yang di depan.

Bagaimana menurut Anda? Siapa yang sebenarnya kurang beretika? Saya sebagai audience atau pemateri selaku pembicara di depan? Menurut saya sih dua-duanya salah. Hehe xD

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s