Setitik Harapan Kala Itu


Malamnya kota Malang. Foto dari elektro.um.ac.id

“Nol! Apakah takdir kita akan benar-benar di sini bersama-sama?”, tanya Alya saat berjalan di terotoar pada malam hari di kota Malang. Kala itu, kami berharap untuk tidak berjauhan saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Iya, Yen! Aku pengen supaya kita sekolah di sekolah yang sama lagi. Agar kita bisa sama-sama saling menguatkan dalam keistiqomahan. 

***

“Jadi beberapa dari kalian akan mengikuti lomba untuk mewakili sekolah.”, ujar Bu Muna sembari memegang selembar kertas di hadapannya. “Ini mandat dari sekolah. Bu Muna disuruh memilih beberapa dari kalian. Jadi buat pengalaman ya.”, tambah beliau kemudian.

Pagi itu, selepas setoran mengaji, Bu Muna memberikan pengumuman pada seluruh muridnya. Beberapa waktu kemudian akan diadakan lomba dengan tema Al Quran di Universitas Malang. Lombanya bermacam-macam seperti lomba kaligrafi, karya tulis ilmiah, tartil, debat sampai hafalan. Responku biasa saja waktu mendengar berita tersebut.

“Itsna sama Alya ikut ya.”, ujar Bu Muna setelah menunjuk beberapa murid lain. Aku mlongo.

“Udah gak papa. Dicoba aja.”, ujar Alya menenangkanku. Aku mengangguk polos.

“Nanti pada jam istirahat berkumpul di sini lagi ya.”, ujar Bu Muna memberi instruksi. Kami menjawab kompak.

***

Sempat terjadi kebingungan antara aku dan Bu Muna. Bu Muna ingin menempatkanku di lomba tartil. Sedang aku merasa tidak mampu bahkan lebih ingin untuk tidak mengikuti lomba saja.

“Ustadah Itsna gak bisa kalau tartil.”. Aku membela diri.

“Gak papa dicoba aja. Buat pengalaman.”.

“Tapi aku gak bisa kalau membaca ayat yang belum pernah aku hafal.”.

“Ya udah pindah ikut lomba tahfidz aja ya.”.

“Tapi ustadah hafalanku belom lancar.”.

“Ini lo cuman cabang satu juz. Ikut ya. Satu juz kan gampang.”, ujar Bu Muna lagi. Aku pun mengangguk pasrah sekaligus lega. Bayangan lomba hafalan Al Quran dengan materi lomba sebanyak hafalanku waktu itu ternyata salah. Lomba hafalan Al Quran ternyata memiliki banyak cabang. Salah satunya adalah cabang yang paling sedikit yakni hanya satu juz. Dari sini, aku yang pesimis perlahan menjadi optimis. Menjadi lebih percaya diri tapi tidak berharap menang juga.  Satu juz itu tipis. Ujarku dalam hati.

Esoknya, aku berlatih sambung ayat dengan Bu Muna setelah kemarin beliau mengintruksikan bahwa aku harus nderes. Antara juz 30 atau juz 1, aku memilih juz 1. Alasan sederhanaku karena juz 1 ayatnya lebih panjang dan mudah diingat lokasi ayatnya. Berbeda dengan juz 30 yang ayatnya pendek-pendek. Saking pendeknya aku lebih sering lupa ayat ini berada di surat apa dan berada di halaman mana.

Baru selesai membaca sebuah ayat, Bu Muna tersenyum. Pasalnya aku sama sekali tidak bisa menyambung ayat yang telah dibacakan Bu Muna. Aku meringis. Bu Muna mencoba membacakan ayat lain pada juz 1. Tapi aku juga masih tidak bisa menemukan ayat sambungannya. Otakku mendadak blank.

“Maklum belum bisa. Baru pertama kali ya?”, tanya Bu Muna lembut. Aku mengangguk. Bu Muna dengan sabar mengajariku tentang bagaimana menyambung ayat terlebih peraturan-peraturan yang akan diterapkan selama lomba esok.

Tanpa terasa, lomba akan berlangsung besok. Rombongan sekolah kami berangkat sehari sebelumnya demi mengikuti technical meeting dan pengambilan nomor urut lomba. Kami berangkat dengan dua buah mobil. Kami mengikuti lomba ditemani oleh beberapa guru pendamping serta sopir. Beberapa jam kemudian, rombongan sekolah kami sudah tiba di kompleks Universitas Malang. Begitu sampai, kami langsung menuju gedung tempat technical meeting berlangsung. Setelah sembahyang ashar di masjid dan dilanjutkan dengan menginap di rusunawi di kompleks Universitas Malang.

“Jadi gimana? Itsna sama Alya mau sekolah di sini?”, tanya guru pendamping kami saat berjalan jalanan Universitas Malang menuju rusunawi.

Aku dan Alya hanya bertatapan dan saling senyum. Universitas Malang adalah kampus pendidikan. Sayangnya, itu bukan cita-cita kami sama sekali.

Sesampai di rusunawi, kami bersih diri dan istirahat sejenak. Ketika hari sudah beranjak malam, aku dan Alya berinisiatif untuk mencari gedung lokasi lomba yang akan kami ikuti. Dengan pamit dan meninggalkan Bu Muna di kamar rusun, kami langsung keluar.

Ternyata, berjalan kaki keliling Universitas Malang itu melelahkan. Apalagi kita tidak tahu arah dan tujuan. Jalanan di kompleks Universitas Malang hampir sama dengan jalan raya. Bedanya hanya sepi karena sudah malam. Naasnya, hanya salah satu dari kami yang memakai kacamata padahal kami berdua memiliki kelainan mata yaitu rabun jauh. Akhirnya kami bergantian mengenakan kacamata untuk melihat palang-palang penunjuk jalan dan nama-nama gedung. Sempat salah masuk ke warung kopi universitas untuk membeli air putih karena kehausan tapi kehadiran kami yang berkerudung panjang nan lebar disambut dengan tatapan mata penuh tanda tanya. Kami malu saat itu. Tapi kami masih sempat keluar warkop dengan tertawa cekikian sambil terus melanjutkan perjalanan.

Bersyukur karena sudah tahu lokasi lomba kami yang akan diadakan di fakultas dan gedung mana. Kami pun memutuskan untuk berjalan pulang. Itu pun masih ditempuh dengan penuh drama karena masih belum menemukan jalan pulang alias nyasar. Kami merasa selalu kembali berjalan di jalan yang sama. Tiba-tiba, Alya mendapat sms.

Alya kalo belom pulang tolong belikan sendal jepit. Sendal jepitku putus. Dari Bu Muna.

“Wah jadi kita keluar?”, tanyaku ke Alya.

“Ya iyalah! Kan disuruh ustadah beli.”.

“Kita aja jalan pulang ke rusun belum nemu. Malah mau nyari jalan keluar kampus.”, aku tertawa geli. “Berarti kita harus cepet karena rusun tutup jam 9.”.

“Iya kita harus cepet!”.

Kami pun memasang mode jalan cepat. Kami terombang-ambing mengikuti motor yang satu-dua berseliweran. Siapa tahu dengan mengikuti deru motor kami bisa menemukan jalan keluar kampus. Walhasil, kami benar-benar bisa keluar kampus Universitas Malang walaupun harus keluar melalui celah sempit karena gerbang sudah tertutup.

Keluar gerbang, kami langsung disuguhkan dengan pemandangan jalanan malam di kota Malang. Ramai dan gemerlap. Aktivitas penduduk masih belum mati malam itu. Kami berjalan dengan kebingungan lagi. Pasalnya, kami belum tahu dimana tempat membeli sendal jepit sesuai pesanan Bu Muna. 

“Coba kita ke indomaret.”, ujar Alya cepat. 

“Dimana indomaretnya?”. 

“Ya tanya orang.”. 

Akhirnya, kami berjalan jauh lagi dan sempat memotong jalanan ramai di Malang alias menyeberang demi membeli sepasang sendal jepit. Karena waktu masih tersisa, aku dan Alya memutuskan untuk istirahat sejenak karena capek. Kami duduk di pinggir jalan sambil menikmati cup es krim. 

“Nol! Apakah takdir kita akan benar-benar di sini bersama-sama?”, tanya Alya saat berjalan di terotoar pada malam hari di kota Malang. Kala itu, kami berharap untuk tidak berjauhan saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Iya, Yen! Aku pengen supaya kita sekolah di sekolah yang sama lagi. Agar kita bisa sama-sama saling menguatkan dalam keistiqomahan.

Andai kamu tahu, aku masih belum siap menghadapi dunia luar. Bukan takut untuk berhadapan dengan sesuatu yang baru. Hanya saja, aku takut suatu saat akan berubah bukan lagi menjadi sosok yang dahulu kau kenal. 

Aku masih takut ketika kelak tidak akan ada yang menegurku ketika aku berbuat salah. Dunia luar nampak indah namun menjerumuskan. 

Iya, Yen. Aku ya pengen kita bisa sekolah bareng lagi. Supaya aku gak jadi nakal.”, jawabku cengengesan. Aku dan Alya memang biasa memanggil dengan panggilan khusus. Alya memanggilku “Nol” atau “Itsnol” aka its0 dan aku biasa memanggil nya dengan “Yen” atau “Alyen”. Lebih mirip kata “alien” untuk nama panggilan Alya. Entah apa sejarah yang membuat kami menggunakan kosakata demikian untuk memanggil satu sama lain. Anggap saja tanda keakraban.

“Iya! Kita harus berdoa yang terbaik!”, sahut Alya demi menumbuhkan rasa optimis dan pantang menyerah. “Allah pasti ngasih yang terbaik.”.

Aku dan Alya terengah-engah sesampai di rusun. Beruntung rusun masih belum tutup dan kita masih diperkenankan masuk setelah sebelumnya drama nyasar terjadi lagi.

Lelah. Aku berbaring di kasur. Lalu aku teringat bahwa seharian belum nderes untuk lomba besok. Ah sudahlah aku capek.

***

Perlombaan itu sudah terjadi sekitar 1-2 tahun yang lalu. Tanpa kemenangan. Namun penuh kenangan. Tidak kusangka itulah saat-saat erakhir bercengkerama dengan Bu Muna setelah pada akhirnya beliau mengundurkan diri sebagai pengajar di sekolahku. Al Quran, Bu Muna, Alya dan apapun itu adalah segenap kenangan yang tak terlupakan. Aku dan Alya tanpa terasa telah lulus SMA. Alya sudah melangkah di semester tiga tahun ini sembari merangkai impian besarnya tanpa putus asa. Aku ditakdirkan di Malang sebentar. Lalu merantau jauh ke Jember demi menempuh pendidikan. Jauh dari bidikan utama yaitu bersekolah di Malang. Kita memang sudah berjauhan tapi tetap saling mendoakan dalam jarak. Aku sendiri sedang menjalani ospek kampus dan merasakan gegap gempita menjadi seorang maba setelah penantian dan perjuangan selama satu tahun di Malang sebagai bidikan utama dalam menempuh pendidikan.

Kita boleh merangkai impian-impian kita setinggi dan sematang apapun. Namun, keputusan Allah selalu lebih baik daripada yang kita ketahui selama ini. Allah selalu menyimpan alasan mengapa Ia memberikan takdir lain untuk kita.

Berprasangka baiklah pada Allah.

Iklan

1 thought on “Setitik Harapan Kala Itu”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s