Serangkai Kisah di Pondok Quran #4 – Kepulangan Kali Pertama


Mondok adalah pengalaman yang luar biasa baru bagiku. Pertama kalinya jauh dari orang tua. Lalu aku mulai mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Malang, Pasuruan, Lampung, Palembang, hingga NTT. Jujur saja, aku dahulu kala hampir tidak memiliki teman. Teman-temanku dulu hanya sebatas teman sekolah. Aku memang anak rumahan yang tidak tahu keasyikan dunia luar.

Aku merasakan malam pertama tidur di pondok hingga tak terasa satu bulan berlalu. Rumor-rumor perizinan pulang mulai berseliweran. Maklum saja dikarenakan kalender sudah menghabiskan usia November dan akan melahirkan Desember sekaligus pertanda akhir tahun menjelang. Musim libur semester yang sering dinantikan mbak-mbak mahasiswi pun akan segera dimulai. Mereka nampak bersorak kegirangan demi menyambut liburan. Tinggal menunggu pengumuman Abah Yai perihal kapan diperbolehkan pulang.

“Ternyata dalam waktu dekat ini ada agenda pulang, Buk!”, ujarku via chat kepada Ibuk. Ibuk meng”oooo”kan saja. Ibuk bilang tidak usah pulang karena masih sebulan yang lalu masuk pondok. Apalagi santri baru. Aku setuju-setuju saja. Rencananya aku memang tidak mau pulang dulu. Ingin mengumpulkan hafalan dengan segenap tenaga. Terutama bagaimana mengumpulkan rindu untuk keluarga. Agar cinta yang ada semakin besar dan bermakna. Walaupun sebenarnya rindu berat. Aku juga tidak ingin pulang sebelum hafalanku beres.

“Yo muleh ae nduk. Lak enek jatah libur ya muleh ae. Ben eruh omah.”, ujar Abah lewat telepon ketika aku berbincang ringan dengan Abah mengenai berbagai hal. Mulai dari aktivitas pondok dan kabar kebetahanku di pondok. Sampai pada pembahasan akhir yaitu liburan pondok. Aku bimbang antara pulang atau tidak. Perkataan Abah barusan sarat akan kerinduan. Padahal belum lama aku tidak berada di rumah. Masih sebulan pergi. Mungkin saja karena ini adalah kali pertama aku berada jauh dari rumah setelah sekian lama tinggal di rumah bersama Abah, Ibuk dan adik-adik.

Sebenere aku ya pengen anak ki panggah nek omah ae. Tapi yo sadar lak ngunu ki egois dan membuat anak tidak bisa berkembang untuk mengenal dunia luar. Perkataan Abah tiba-tiba terlintas di pikiranku. Abah mengatakan hal ini beberapa hari sebelum aku dilepaskan untuk mondok di Malang. Tanpa sadar air mataku berjatuhan pelan.

***

Hafalan yang melelahkan masih terus berlanjut. Aku menjalaninya dengan semangat yang harus terus dicharger agar tidak sampai menyerah. Di tengah-tengah sibuknya hafalan, aku masih memikirkan keinginan Abah supaya aku pulang. Aku semakin bingung karena menurut penuturan mbak-mbak senior, santri baru dilarang pulang dikarenakan masih orang baru. Bagaimana ini? Kata “pulang” sedikit demi sedikit mengusik pikiranku ketika mengaji.

Tanggal-tanggal November mulai berlalu dan kini melewati tanggal-tanggal muda pada Desember. Suatu ketika pada sore hari Ibuk mengejutkan lewat chat. Ibuk bilang kalau beliau ingin opname di rumah sakit. Aku terkejut setengah mati membaca chat dari Ibuk. Aku langsung berlari menuju kamar mandi untuk meledakkan tangisan. Kunyalakan kran air supaya suara tangisanku terbenam oleh suara air memenuhi bak kamar mandi. Cukup lama aku di kamar mandi hingga aku keluar dan berusaha menyembunyikan semuanya dari teman-teman.

Malamnya aku sama sekali tidak tenang. Ngajiku sama sekali tidak konsen tapi tetap kupaksa untuk setoran dan maju ke Abah Yai. Sepanjang dua hari adalah masa-maoaasa yang berat untuk kujalani. Hatiku kepikiran Ibuk. Rasanya benar-benar ingin pulang. Namun di sisi lain aku takut bagaimana caranya izin karena mekanisme izinnya langsung matur ke Abah Yai sembari menyerahkan kartu izin untuk kemudian ditandangani langsung oleh beliau.

Esoknya, ketika waktu dhuha menyapa, aku naik ke jemuran yang terletak di lantai empat. Waktu itu, hampir seluruh santri sedang kuliah dan pondok menjadi sepi. Aku langsung menelepon Ibuk di tengah semilir angin lantai empat.

“Ibuuuuuuuuuk.”, aku menangis sesenggukan. Begitu telepon sudah tersambung, aku tidak bisa menahan air mata.

“Loh nyapo nduk kok nangis?”, tanya Ibuk dari seberang.

“Ibuk kok sakit.”.

“Gak popo. Ibuk mau opname.”.

“Lhoooo Ibuuuuukk aku mau pulang.”.

“Gak usah pulang, Nduk! Nek kono ae. Ibuk gak papa.”.

“Emoh buk pokok e pengen pulang!

“Heleh gak usah. Wes gak usah nangis.”.

“Ibuk kok muesti to. Aku khawatir buuuuk. Aku pengen pulang.”.

“Hahahaha. Nyapo kok nangis.”. Ibuk malah tertawa terpingkal-pingkal di atas tangisanku.

“Ibuuuuk aku pengen pulang!”.

“Gak boleh nduk. Nek kunu ae. Ngaji disek.”.

“Besok tak pesen kereta api buat pulang.”.

“Gak usah aneh-aneh. Ibuk lo gak papa. Gak usah pesen tiket. Gak usah pulang. Sek ya Ibuk sibuk ki lho. Toko lagi rame.”.

Ibuk memutuskan telepon begitu saja. Aku bingung. Ingin sekali pulang demi melihat kondisi Ibuk. Tapi Ibuk dengan tegasnya menolak kepulanganku. Tak hilang akal, akhirnya aku melobi Abah lewat chat. Abah langsung menyetujui permintaanku untuk pulang.

Wajah orang sehabis menangis memang tidak bisa dibohongi. Mata sembab nan berkantung, mata merah dan wajah amburadul menyambut kamar Aisyah. Teman-teman sekamar heran dengan kondisiku.

“Itsna kenapa? Abis nangis?”

Pertanyaan itu pun membuat tangis yang ingin sekali kutahan akhirnya tumpah juga. Seisi kamar bingung.

“Eh ada apa Itsna?”.

“Coba pelan-pelan cerita biar kita tidak bingung.”. Dengan terbata-bata karena menahan tangis di kerongkongan, aku pun menceritakan semuanya.

“Gak papa lo kalo pulang. Walaupun kamu masih baru di sini. Tapi kalo emang ada sesuatu yang mendesak juga akan diizinkan pulang.”, ujar salah satu mbak kamar.

“Iya. Gak usah takut. Pasti boleh pulang kok. Gak papa.”.

Mereka memberiku sederet kata-kata bijak sehingga aku tenang. Dari sinilah aku merasakan betapa kentalnya kebersamaan di pondok. Dari bangun, makan, aktivitas hingga tidur lagi yang dilakukan dalam satu atap secara bersama-sama.  Tak heran jika lambat laun kami menjadi keluarga tanpa sadar.

Esoknya, pada pagi hari selepas setoran, aku memberanikan diri bertanya pada Abah Yai.

“Bah ngapunten badhe tangklet. Libur pondok mulai tanggal pinten?”

“Mulai tanggal 9.”, jawab Abah Yai. Beliau nampak berpikir. Barangkali mencurigai pertanyaanku. Aku pun diam sejenak.

“Anu bah. Kulo ijin pulang nopo saget? Ibuk kulo sakit dan opname teng rumah sakit.”. Akhirnya isi hatiku terungkapkan di hadapan Abah Yai meskipun dengan terbata-taba dan diiringi ketakutan.

“Ooooo. Lak misale opname yo gak popo muleh. Muleh ae. Lak opname ki gak popo muleh. Wes muleh ae. “, jawab Abah Yai. Aku pamit mundur dari lungguhan Abah. Tanpa terasa air mataku mengalir. Aku sedikit sesenggukan. Lalu berlari di atas.

Jam menunjukkan angka tujuh lebih dikit. Rupanya hpku ada beberapa misscall dari Abah. Begitu pun dengan pemberitahuan chat dari Abah.

Nduk alamat pondokmu dimana? 

Aku terkejut. Chat itu datang sekitar jam 6 kurang. Aku langsung membalas jawaban.

Ealaaah nduk aku kadung muleh ko travel. Ya wis tak balek meneh pesen tiket. Kirain gak jadi pulang. 

Aku tersenyum. Abah tidak marah karena aku terlambat membalas chat. Abah tidak dongkol untuk kembali ke agen travel lagi untuk memesankan tiket pulang untukku. Abah memang beneran kangen ya? 😛

Inilah yang ditunggu-tunggu. Berbekal tas ransel yang membawa beban seperlunya, aku berjalan keluar gamg pondok. Pukul 12 siang yang terik, aku sudah duduk di dalam mobil ber-AC. Tiga jam lagi tubuh ini akan kembali ke rumah.

Ealaaah. Betapa indahnya pulang. Ketika segala rindu bisa tertumpahkan.

Abah Ibuuuuuk! Itsna pulaaaaang!

 

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s