Metode Ketrampilan Komunikasi

Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) Mahasiswa Baru Universitas Jember tahun 2017

Salah satu pemateri Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) Universitas Jember tahun 2017 yang berkesan bagi saya adalah Bu Ifrina Nuritha atau yang biasa disapa Bu Rina. Bu Rina menjelaskan materi berjudul Ketrampilan Berkomunikasi. Menurut pengertian perkata, ketrampilan berarti kemampuan sedangkan komunikasi adalah aktivitas dialog yang melibatkan minimal dua orang. Jadi secara keseluruhan, ketrampilan komunikasi berarti kemampuan bagaimana cara menjelaskan suatu materi agar dapat dipahami oleh lawan bicara.

Pemateri bergelar Magister Komputer ini menuturkan beberapa cara pengembangan ketrampilan komunikasi itu sendiri. Salah satu cara yang paling mendominasi adalah berani mengungkapkan pendapat. Jangan takut salah ketikamengungkapkan pendapat karena bisa jadi pendapat-pendapat kita bisa menjadi solusi atau jawaban yang tidak terduga dari suatu permasalahan. Keberanian ini harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Biasanya dosen akan lebih melihat mahasiswa yang berani mengungkapkan pemdapat atau pemikirannya. Hal ini didasari jika seorang mahasiswa mampu mengungkapkan pendapat, berarti ia memiliki sifat kritis untuk menelaah berbagai masalah di hadapannya.

Cara pengembangan ketrampilan komunikasi lainnya adalah dengan foccus discussion yang berarti tidak bergerombol. Bu Rina mengingatkan kepada kita agar menghilangkan budaya suka menggerombol. Bu Rina lebih menyarankan agar menjadi pribadi yang suka membaur dengan siapa saja. Jangan takut untuk menyapa orang baru tatkala berada di lingkungan yang dikenal atau lingkungan baru sekalipun. Jangan sungkan untuk bergaul dengan orang atau komunitas lain. Berkomunikasi dengan orang di luar komunitas kita akan membuat kita akan mendapat lebih banyak informasi atau sekadar sharing.  Continue reading “Metode Ketrampilan Komunikasi”

Iklan

Serangkai Kisah di Pondok Quran #4 – Kepulangan Kali Pertama

Mondok adalah pengalaman yang luar biasa baru bagiku. Pertama kalinya jauh dari orang tua. Lalu aku mulai mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Malang, Pasuruan, Lampung, Palembang, hingga NTT. Jujur saja, aku dahulu kala hampir tidak memiliki teman. Teman-temanku dulu hanya sebatas teman sekolah. Aku memang anak rumahan yang tidak tahu keasyikan dunia luar.

Aku merasakan malam pertama tidur di pondok hingga tak terasa satu bulan berlalu. Rumor-rumor perizinan pulang mulai berseliweran. Maklum saja dikarenakan kalender sudah menghabiskan usia November dan akan melahirkan Desember sekaligus pertanda akhir tahun menjelang. Musim libur semester yang sering dinantikan mbak-mbak mahasiswi pun akan segera dimulai. Mereka nampak bersorak kegirangan demi menyambut liburan. Tinggal menunggu pengumuman Abah Yai perihal kapan diperbolehkan pulang. Continue reading “Serangkai Kisah di Pondok Quran #4 – Kepulangan Kali Pertama”