Malam ketika Mengingat Kematian


wp-1503209899080.
Kitab Kasyifatussaja warna ungu.

Ba’da maghrib acara di Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna di Jember masih seperti biasa. Selepas tadarus ringan di juz satu, para santri bergegas mengambil kitab Kasyifatussaja. Pada kesempatan kali ini Ibu Nyai sendiri yang mengisi acara ngaos kitab karena Bapak Yai yang masih menjalani ibadah haji. Malam ini, Ibu membahas tentang bab kematian.

Setiap manusia pasti akan menghadapi sakaratul maut. Entah seperti apapun hal-hal yang dilakukan semasa hidup ditentukan di sakaratul maut. Penentuan nasib seorang hamba di akhirat kelak apakah baik atau buruk ditentukan ketika sakaratul maut. Maka dari itu, seseorang yang sedang menghadapi pedihnya sakaratul maut perlu dibimbing oleh orang lain seperti misalnya sanak saudara. Ketika seseorang sedang tersiksa oleh sakaratul maut, setan mulai berdatangan menawarkan berbagai macam hal-hal berharga dengan jaminan akan menghilangkan rasa sakit yang luar biasa jika orang tersebut mau menerima tawaran tersebut. Sebagai sanak keluarga, kita harus segera menolong saudara kita yang sedang menghadapi sakaratul maut dengan membacakan ayat-ayat suci Al Quran. Sedangkan dibutuhkan satu orang saja untuk mentalqin atau membimbing calon mayat agar kalimat-kalimat baik yang terakhir terucap. Ibu sendiri memaparkan bahwa kebanyakan orang meninggal tidak dalam keadaan baik alias su’ul khotimah dikarenakan orang itu menerima tawaran dari setan sedang sanak keluarga tidak membimbing sama sekali untuk mengucapkan kalimat tauhid.

Pada dasarnya, kita sebagai saudara sesama muslim memiliki kewajiban terhadap mayat. Kewajiban-kewajiban orang yang masih hidup terhadap orang meninggal adalah memandikan, mengafani, menyolatkan dan menguburkannya. Kewajiban orang yang masih hidup kepada mayat itu sendiri merupakan fardhu kifayah yang artinya wajib tapi perwakilan saja. Jika sudah ada yang memandikan, mengafani, menyolatkan dan menguburkan, maka saudara muslim seluruhnya tidak perlu melakukan hal yang sama. Cukup sebagian saja yang melakukan kewajiban.

Untuk memandikan mayat, yang paling berhak memandikan adalah sanak keluarga si mayat itu sendiri. Tingkatan tertinggi yang berhak memandikan adalah suami atau istrinya. Lalu dilanjutkan orang tua si mayat, saudara kandungnya, dan sanak keluarga yang lain. Tata cara memandikan mayat juga sederhana sebagaimana memandikan orang biasa asal menggunakan air mengalir. Hanya saja harus secara halus karena sebenarnya sentuhan sedikit saja terhadap tubuh si mayat membuat ia merasakan kesakitan yang luar biasa hingga seluruh hewan dapat mendengar jeritan si mayat.

Untuk membersihkan lubang-lubang di tubuh dan anggota tubuh lainnya menggunakan sabun dan kemudian dibilas dengan air. Setelah dirasa tubuh mayat sudah bersih, tubuh si mayat dibilas dengan air campuran daun bidara, daun kelor atau kapur barus. Penggunakan daun bidara, daun kelor atau kapur barus berfungsi sebagai pewangi bagi tubuh si mayit dan agar tidak didekati lalat. Setelah dimandikan sedemikian rupa, baru si mayat tersebut diwudhukan oleh orang yang memandikannya dengan niat mewudhukan jenazah. Jika sudah selesai memandikan, lubang-lubang di tubuh si mayat ditutup dengan kapas.

Ibu Nyai menuturkan bahwa begitu banyak manusia-manusia yang sudah berada di alam kubur ingin diberi kesempatan sekali saja untuk melaksanakan solat. Jadi, mengapa kita yang sekarang masih hidup justru bermalas-malasan ketika diajak solat berjamaah di mushola pesantren? Padahal fadhilah atau keutamaan yang diperoleh dari solat berjamaah itu banyak sekali. Bapak Yai sudah berkali-kali membahas hal tersebut sebelum beliau berangkat haji tahun ini.

Beberapa pesan yang Ibu sampaikan untuk para santri setelah membahas fikih kematian adalah pilihan untuk mondok dibanding ngekost atau ngontrak. Bukan demi memberi stigma pada kost melainkan pondok pesantren memiliki sistem yang tidak sebebas kost-kostan. Ibu dan Bapak selaku pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna tidak pernah memaksakan calon santri baru untu mendaftar. Jika mondok di pesantren tidak usah terpaksa. Apalagi jika dasarnya mondok di pesantren adalah keinginan orang tua agar anaknya kelak bisa mengirimkan doa untuk orang tuanya.

Jika ditilik dari pergaulan zaman sekarang, lingkungan memang sedikit banyak memengaruhi seseorang. Apalagi jika kita berada di suatu lingkungan yang amat berbeda dari visi misi hidup kita sebelumnya. Kepribadian tanpa sadar akan mulai ada perubahan dan itu terjadi tanpa kita sadari. Itulah mengapa kita perlu berada di lingkungan yang baik sebagai pondasi awal untuk menghadapi dunia luar khususnya di lingkungan kampus bagi mahasiswi. Pondok Pesantren Mahasiswi Al Husna yang terletak di Jalan Kalimantan X 173 ini memberikan suatu benteng bagi kita sebagai mahasiswi agar tidak melenceng dari akidah demi menghadapi kerasnya zaman sekarang. Itulah mengapa Bapak Yai dulu memilih tanah yang dekat dengan gerbang kampus Universitas Jember agar memudahkan akses kita untuk pulang pergi ke kampus.

Iklan

13 tanggapan untuk “Malam ketika Mengingat Kematian”

      1. Duhhh….sama sama belajar aja yuk. Soalnya aku baru sering nulis ahir2 ini aja 😀. Aku nge follow blogmu uda dr dulu kayaknya its. Suka sama tulisan2mu makanya ku follow. Hehe. Gatau drmana ya. Mgkin pas searching2 ketemulah blogmu 😀

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s