Rasanya melelahkan sekali. Setiap hari harus mengaji dan mengaji. Tak lupa maju untuk setoran dan terus mengejar setoran. Terlebih aku takut kalau-kalau Abah menegur ketika bacaanku salah. Ketakutanku yang luar biasa terhadap Abah yang mendorongku untuk mengaji dengan keras dan berjam-jam. Tak terasa lelah ini mengantarkanku pada hari ketujuh aku hidup di pondok.

Selepas solat maghrib, aku turun ke aula. Suasana di aula masih sepi namun ada beberapa santri yang berpakaian seragam jubah merah hati dan berkerudung baby pinkMereka sibuk mengumpul dampar-dampar ke pinggir aula. Sedang beberapa yang lain sibuk check sound dan memegang rebana. Aku mengambil duduk bersila di sisi tiang sambil menikmati pemandangan sekitar. Berangsur-angsur, suasana mulai ramai. Seseorang duduk di sampingku. Ia mengenakan kerudung berwarna sama denganku yakni hitam.

“Mbak yang kemarin dari Tulungagung kan?”, tanya seseorang itu selepas mengambil duduk di sampingku. Aku mengangguk.

“Kok tau?”.

“Kemarin kan kita sowan bareng ke Abah Yai. Masih inget?”.

“Oalaaaah inget kok. Kamu yg dari malang kan? Bukan orang luar kota.”.

“Iya betul sekali.”.

“Siapa namanya?”.

“Halimah. Lha pean?”.

“Itsna….”

“Eh ini seragam pondoknya. Ganti sekarang ya!”, salah seorang santri senior memutus perbincanganku dengan Halimah. Aku mengiyakan saja dan langsung beranjak ke atas. Sebenarnya aku sudah mengimbangi diri dengan baju gamis milikku yang kebetulan warnanya sama persis dengan seragam pondok. Tapi aku tetap menurut. Selang tak berapa lama aku kembali turun. Beruntung tempat dudukku belum diduduki orang lain.

Kami pun melanjutkan obrolan panjang nan lebar. Sampai acara malai ini dimulai dengan penuh kemeriahan tabuhan rebana dan suara merdu beberapa vokalis. Dilanjutkan dengan kehadiran Abah beserta wejangannya. Sosok Abah yang pertama kali kulihat bertampang begitu menakutkan ternyata mampu membuat seisi aula tertawa kecil dengan humor sederhana beliau. Ketakutanku pada Abah mulai membiasa. Ternyata Abah itu bukan sosok yang menakutkan. Beliau hanya tegas ketika menyimak setoran agar kita yang maju benar-benar menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tapi di luar waktu setoran, beliau adalah sosok yang ramah dan bersahaja. Terlebih sebenarnya ketakutan itu demi kebaikan kita sendiri agar terdorong untuk meningkatkan kualitas hafalan baik dalam segi murojaah atau menambah hafalan. Acara pun ditutup dengan doa dan makan bersama di nampan.

Ternyata Halimah adalah perempuan berkerudung hitam yang tempo hari sowan bareng di ndalem Abah. Rupanya kita pernah bertemu sebelumnya.

Iklan

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s