Serangkai Kisah di Pondok Quran #3 – Perempuan Berkerudung Hitam

Rasanya melelahkan sekali. Setiap hari harus mengaji dan mengaji. Tak lupa maju untuk setoran dan terus mengejar setoran. Terlebih aku takut kalau-kalau Abah menegur ketika bacaanku salah. Ketakutanku yang luar biasa terhadap Abah yang mendorongku untuk mengaji dengan keras dan berjam-jam. Tak terasa lelah ini mengantarkanku pada hari ketujuh aku hidup di pondok.

Selepas solat maghrib, aku turun ke aula. Suasana di aula masih sepi namun ada beberapa santri yang berpakaian seragam jubah merah hati dan berkerudung baby pinkMereka sibuk mengumpul dampar-dampar ke pinggir aula. Sedang beberapa yang lain sibuk check sound dan memegang rebana. Aku mengambil duduk bersila di sisi tiang sambil menikmati pemandangan sekitar. Berangsur-angsur, suasana mulai ramai. Seseorang duduk di sampingku. Ia mengenakan kerudung berwarna sama denganku yakni hitam. Lanjutkan membaca “Serangkai Kisah di Pondok Quran #3 – Perempuan Berkerudung Hitam”

Iklan

Secuil Peringatan

Tadi aku sedang asyik nderes. Kala itu, aku membaca juz 4 usai solat dhuhur berjamaah. Tepatnya adalah surat Ali Imron. Aku membaca perlahan dengan maksud agar tulisan ayat-ayat yang pernah susah payah aku hafalkan itu tidak terlupa. Saking pelannya membaca, kadang napas tidak kuat dan mengakibatkan bacaan salah. 

Ketika membaca satu ayat, aku benar-benar merasakan bahwa ayat yang kubaca salah. Aku pun benar-benar tahu dimana letak kesalahan yang kubaca. Tapi aku tetap melanjutkan membaca ayat tersebut hingga selesai. Baru saja ayat itu selesai kubaca, tiba-tiba seseorang di sebelah kananku duduk menegur.  Lanjutkan membaca “Secuil Peringatan”