Rasa Kantuk ketika Beribadah


Aku bangun sekitar jam 3 dini hari. Sekalinya bangun, aku langsung menguatkan raga menuju kamar mandi. Mandi adalah hal pertama yang wajib dilakukan bagiku sebelum solat malam. Setelah bertarung dengan dinginnya air, aku melaksanakan sunah-sunah yang aku ketahui untuk mengisi sepertiga malam terakhir. Dilanjutkan dengan nderes tipis-tipis. Tak jarang dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunah, rasa kantuk berdatangan. Ia menggoda siapa pun yang menggigit sunah dengan gigi gerahamnya untuk kembali membuai mimpi di atas pembaringan. Diri ini harus memutar otak melawan hawa nafsu mengantuk dengan berbagai cara salah satunya adalah nderes sambil berdiri dan jalan-jalan. Bisa juga dengan pindah-pindah tempat atau bercermin. Bisa juga nderes sambil ngemil. Intinya, aku berusaha sebisa mungkin agar meminimalisir rasa kantuk sebisa mungkin. 

Adzan subuh berkumandang. Aku langsung bersiap-siap ke mushola untuk melaksanakan agenda wajib pondok yakni solat berjamaah dan ngaji kitab. Aku menggelar sajadah di barisan ketiga. Setelah duduk bersila di atas sajadah, aku melanjutkan nderes yang terputus tadi selepas solat malam. Dari situ, rasa kantuk mulai menyerang. Kali ini lebih kuat. Terlebih ketika imam belum juga hadir di mushola. Masa-masa penantian sosok imam menjadi waktu yang paling menyiksa. Rasa kantuknya benar-benar luar biasa. Mata terasa byar pet byar pet. Kepala rasanya ingin putus lalu tergeletak di lantai. Rasane jan koyok kudu nggeblag ae. Teklak tekluk ae

Selepas solat jamaah adalah wiridan dan membaca surah Al Waqi’ah. Itu juga aku jalani dengan rasa kantuk yang luar biasa. Awak rasane kudu ambruk.  Kesadaran kadang bisa hilang dalam beberapa detik lalu tersadar kembali. Entahlah. Ngantuk ketika ibadah itu gak enak banget. Pokoknya gak enak. 
Acara dilanjutkan dengan ngaji kitab. Itu pun juga dalam kondisi sama. Sudahlah. Bagi yang pernah mondok atau pun yang belajar istiqomah melakukan ibadah tertentu pasti mengerti dengan apa yang aku rasakan. 

Mengenai kejadian ini, aku sedikit merenung. Mengapa setiap kita melakukan ibadah, kita selalu ngantuk? Coba kita balik. Jikalau kita melakukan kemaksiatan atau perbuatan dosa? Pernah merasa ngantuk? Pernah denger orang yang mau pesta miras itu ngantuk-ngantuk luar bisa sampai tidak jadi menenggak miras? Pernah denger orang mau pacaran itu ngantuk. Pernah gak yang pacaran kalau udah berdua sama pacarnya tiba-tiba nguantuk luar biasa sampai pacarannya dibatalin gitu? Telpon telponan saja sampai malam buetah sama pacar. Ngantuk banget tapi dikuat-kuatin. Pernah denger ada orang yang dugem terus nguantuk luar biasa sampai dia gak jadi dugem. Bisa kasih contoh lain?

Aku mengalami kejadian yang kelihatannya sepele. Tapi maknanya luar biasa dalam bagi yang berkenan mengoreknya lebih dalam. Allah memberitahu sesuatu lewat kejadian ini. Bahwasanya kita jika melakukan kebaikan terlebih ibadah, itu sama sekali tidak gampang. Pasti ada rintangan yang harus dilalui. Tapi jika kita melakukan kemaksiatan, sama sekali tidak ada halang merintang untuk melakukannya. Rasa mengantuk itu datangnya dari Allah. Itu adalah sebagian ujian dari Allah untuk menguji hambaNya ketika tengah melakukan ibadah. Apakah ia menuruti nafsu tidur dengan ngantuknya, atau tetap berjuang melanjutkan ibadah yang ia kerjakan. Karena tidak mudah, Allah memberi ganjaran yang besar bagi mereka yang istiqomah. Bayangkan ketika malam-malam yang masih sepi nan dingin, kita memaksakan diri bangun untuk sekadar mengistiqomahkan diri dengan dua rakaat tahajud. Dari situ Allah memberi kita rasa kantuk sebagai rintangan. Di saat orang lain tidur nyenyak di balik selimut penghalang dinginnya malam, kita justru solat. Itulah mengapa Allah menjanjikan doa ketika sepertiga malam terakhir seperti anak panah yang melesat tepat sasaran. Ndak bakal mbeleset! Doa-doa ketika malam itu diijabah Allah. Malaikat-malaikat turun dari langit untuk mengamini doa sebagian kecil hamba Allah yang berjuang melawan rasa kantuknya sesaat demi solat tahajud. Allah pun memberi banyak keutamaan bagi orang yang mau melaksanakan solat tahajud di antaranya dipermudah hisabnya dan dibangkitkan di hari kiamat dalam wajah berseri-seri. 
Jadi, ibadah yang istiqomah itu berat. Sulit. Tidak mudah untuk dijalani. Karena untuk melaluinya, ada rintangan-rintangan berliku yang sengaja Allah letakkan. Tapi di balik itu semua, Allah sudah menyiapkan hadiah bagi hamba-hamba yang mau teguh di jalanNya. Hadiahnya itu tidak main-main. Hadiahnya besar banget yakni kenikmatan surga dan kehidupan kekal penuh kebahagiaan di akhirat. 

Berbeda sekali dengan kemaksiatan atau perbuatan dosa. Ibarat turun dari gunung, sangat mudah bagi kita untuk melakukan dosa. Tidak pernah ada penghalang. Walaupun ada, mungkin itu dari Allah sebagai peringatan karena Allah masih menyayangi kita. Dosa selalu mudah untuk dilakukan. Mudah sekali. Maka dari itu hadiahnya juga tidak bisa dibandingkan dengan perbuatan baik dan istiqomah. Bahkan hadiahnya itu sendiri adalah konsekuensi dan pertanggungjawaban dari dosa yang sudah kita perbuat. Itulah keadilan Allah yang Maha Adil.

Ngantuk bukan satu-satunya rintangan dalam melakukan perbuatan baik. Itu hanya sekadar contoh kecil sehari-hari agar memudahkan pemahaman. Pada dasarnya, kebaikan itu sulit dilakukan. Sedangkan keburukan begitu mudahnya dilakukan. Hal itu tidak terlepas dari konsukuensi dari perbuatan tersebut sesuai janji dan ketetapan Allah. Jadi, pilihan untuk melakukan suatu hal ada di tangan kita sendiri. 

Dari buku Ahda Waid, Ayo Insaf
Iklan

Penulis: Itsnahm

Itsnahm a.k.a. Itsna Hikhmatul Maula. Reading and writing is my soul. So, enjoy to read all my writing here. Thank you.

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s