Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang


Hari kedua di pondok. Hari ini adalah hari minggu.

Aku tersentak kaget. Abah Yai menghardik salah satu santri yang sedang setoran karena bacaannya salah. Subuh nan dingin di kota Malang ternyata tak seramah Abah Yai yang kulihat sekarang. Mendadak aku yang kala itu masih mengantre di barisan belakang langsung mundur ke belakang satir. Aku takut. Akhirnya setelah lama berpikir, aku mencoba maju dan mengantre di barisan lain.

Mekanisme setoran dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sebelah kiri aula disimak oleh Abah Yai sedang kelompok sebelah kanan disimak oleh putra-putra beliau. Hal ini hanya terjadi setiap jadwal setoran pagi dan malam. Khusus sore, hanya Abah Yai yang akan menyimak setoran. Terserah bagi santri untuk memilih setoran kepada siapa.

Para santri sedang mengantre setoran pada seorang laki-laki paruh baya di sisi kanan aula. Ia berkopyah hitam dan berperawakan putih, tinggi nan kurus. Aku yang masih terasa asing dengan semua pemandangan ini hanya bisa mengikuti gerak-gerik santri lainnya.

“Ayo mbak maju o dulu.”, ujar salah seorang santri di sebelahku Tanpa terasa, antreanku sudah di barisan paling depan. Santri yang berada di depan sudah mundur. Aku mengangguk dan langsung maju. Kala itu, aku menyetorkan hafalan juz amma. Tanpa sadar, aku mengeraskan suara agar bisa berkonsentrasi penuh mengingat suaraku harus bersaing dengan tiga santri lainnya.

Ini berhenti dimana ya? Kapan boleh berhenti bacanya? Lama-lama kok capek. Aku bergumam dalam hati di tengah-tengah setoran. Aku tetap melantunkan apa yang aku setorkan hingga tanpa terasa hampir membaca setengah juz amma.

“Jajal dibaleni..”, ujar beliau yang sedang menyimak setoran hafalanku. Seketika itu juga aku langsung kaget. Aku lupa apa yang akan aku baca. Langsung saja kuulangi dari basmallah.

“Bismillaaaaaahirrohmaaaaaanirrohiiiiiim.”.

“Gak oleh ngunu iku. Kedawan. Baleni meneh. (Tidak boleh itu. Kepanjangan. Ulangi lagi)”.

“Bismillaaaaaahirrohmaaaaaanirrohiiiiiim.”.

“Kedawan!. Bismillaahirrohmaanirrohiim.”, ujar beliau cepat. Aku pun langsung menirukan lafal basmallah seperti yang beliau contohkan. Lalu langsung kusambung dengan membaca surah Al A’la. Setelah selesai satu surah itu, beliau menepuk pelan dampar di depanku. Aku langsung mengerti bahasa isyarat yang beliau tunjukkan bahwa aku disuruh menyudahi setoran dan mundur. Antrean terlihat padat dan memanjang sampai ke belakang satir. Namun, aku masih belum benar-benar paham dengan seluruh pemandangan yang kulihat.

Matahari sudah meninggi. Abah Yai lekas undur diri dari aula. Disusul laki-laki yang menyimak setoranku tadi. Seluruh santri langsung membubarkan diri diiringi oleh suara riuh. Ada yang menonton televisi, ada yang tiduran bahkan tidur, ada yang bergegas naik ke lantai atas, dan sebagainya.

“Dek, ngajinya jangan lama-lama ya. Kasian yang antre.”, ujar salah seorang santri senior kepadaku. Aku mengangguk. “Maksimal seperempat ya.”.

“Ooooh iya mbak.”, jawabku mengerti. Aku yang tidak tahu harus melakukan apa langsung naik ke kamarku.

“Kamu tidur o wes.”, ujar salah satu mbak kamarku. Namanya Mbak Luna. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Aku mengangguk sekaligus tersenyum. “Terus nanti siang tak anter beli selimut di pasar.”, tambahnya lagi.

Aku yang tidak mengenali kota Malang, dengan polosnya tidak membawa selimut ke pondok. Ternyata Malang itu dingin. Terutama ketika memasuki malam dan tatkala pagi hari menjelang. Malam pertama di pondok, aku tidur dengan menggunakan jaket dan memakai kaus kaki. Mbak Luna yang tidur di sebelah kananku sebelumnya telah menggelar kain sprei motif boneka coklat sebagai alasku tidur. Beruntung aku berinisiatif membawa jaket. Lumayan untuk menghangatkan tubuh ketika malam daripada tidak sama sekali. Melihat kondisiku yang demikian, Mbak Luna menjanjikanku untuk menemaniku membeli selimut di pasar esok hari.

***

“Itsna? Ayo bangun! Udah jam sepuluh. Ayo ke pasar!”. Mbak Luna membangunkanku yang benar-benar tidur di pagi hari. Lebih tepatnya ketiduran karena sehabis berbaring sambil memainkan hp. Aku duduk sejenak untuk memulihkan kesadaran. Lalu bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.

“Coba tak carikan toko selimut yang murah.”, ujar Mbak Luna sambil berjalan. Aku mengekor di belakang tanpa berkata-kata. Akhirnya kami sampai di depan gang. Suasana Pasar Besar Malang dan kesibukannya langsung terlihat di depan mata. Padat dan merayap. Baru kali ini aku keluar dari gang pondok dan berjalan-jalan di pasar. Jadi, segala keramaian yang tertangkap di depan mataku masih terasa asing.

Kami mampir dari satu toko ke toko yang lain. Mbak Luna menawar sekenanya. Setelah berhasil mendapat selimut yang cocok, aku pun membeli sajadah.

“Mbak aku pengen tumbas sajadah.”, kataku kepada Mbak Luna. Beruntung di toko tempat kami membeli selimut juga menjual sajadah. Ini adalah kepolosanku yang kedua. Aku tidak membawa sajadah ke pondok. Ketika solat berjamaah bersama santri lainnya, aku sendiri yang tidak membawa sajadah. Aku masih terbawa kebiasaan di sekolah dulu yang solat tanpa beralaskan sajadah. Beruntung tiba-tiba otakku teringat akan hal ini ketika masih di pasar. Jadi bisa sekaligus membeli kebutuhan lain seperti sajadah.

Alhamdulillah. Permasalahan pribadiku terselesaikan. Selimut dan sajadah. Dua komponen pribadi untuk menunjang hari-hariku di pondok.

***

Bel berbunyi nyaring memekakkan seisi pondok selepas sore menjelang. Aku tidak mengerti pertanda apa ini. Sepertinya bel tanda waktu setoran dimulai. Seluruh santri berbondong-bondong turun ke aula dengan Al Quran masing-masing dalam pelukan. Aku turut juga dengan tingkah laku santri lainnya. Rupanya, Abah Yai sudah rawuh. Aku mengambil duduk di belakang satir untuk menyiapkan setoran juz ammaku.

Tiba-tiba perutku terasa mulas. Awalnya aku tahan dan kualihkan rasa sakit perutku ke Al Quran. Lambat laun perutku semakin sakit saja. Akhirnya aku langsung naik ke lantai dua menuju kamar mandi.

“Heh sopo nek njero?! Bukak lawange. (Heh siapa di dalam? Buka pintunya!)”. Pintu kamar mandiku digedor oleh seseorang di baliknya. Ia berteriak dengan nada marah. Tapi aku sama sekali tidak peduli karena urusanku lebih darurat dan penting. Sekaligus aku tidak paham mengapa pintu kamar mandiku digedor dengan kasar. Seakan ingin dibuka secara paksa. “Mbak ndang metu mbak. Gak oleh adus saiki! (Mbak cepat keluar mbak! Gak boleh mandi sekarang).”, tambah seseorang di balik pintu itu lagi.

“Nggeh mbak.”. Aku tetap tidak peduli. Perutku yang sakit membuatku tidak sedikit pun takut dengan nada amarah seseorang di balik pintu kamar mandi.

“Sopo seh nek njero iki? Bukak!”.

“Nggeh mbak. Mengke!”.

“Sopo sing nek njero?”.

“Itsna, mbak.”.

“Lagi opo to sakjane?”.

“Mules mbak…”.

Hening. Pintu kamar mandiku tidak digedor lagi. Aku menyalakan kran air untuk memecah keheningan itu.

***

Malam hari menjelang. Bel yang bersuara seperti waktu sore itu berbunyi lagi beberapa saat selepas adzan Isya’. Aku dan santri lainnya yang selesai menunaikan solat Isya’ bergegas turun untuk setoran. Aku tidak maju untuk setoran karena belum siap. Lebih tepatnya belum siap mental. Setoran pun usai ditandai dengan Abah yang kundur. Tak berselang lama, dua santri senior langsung menghampiriku yaitu Mbak Luna dan seorang yang tinggi semampai. Aku masih belum mengenal namanya. Tapi yang kuingat, ia yang mengurus administrasi kedatanganku di pondok kemarin.

“Gini ya..”, ujar Mbak Luna memulai perbincangan. Mbak Luna menjelaskan tentang peraturan di pondok ini yaitu setiap sabtu dan minggu adalah hari wajib setoran. Jadi, setiap waktu setoran yaitu pagi, sore dan malam itu wajib hukumnya bagi seluruh santri untuk turun ke aula. Selama setoran berlangsung, tidak ada yang boleh naik ke atas kecuali izin sakit atau keperluan mendesak lainnya. Aku mengangguk mengerti. Diam-diam aku berpikir. Logat bicara Mbak Luna serta suaranya itu sama seperti seseorang yang menggedor pintu kamar mandiku tadi sore. Jangan-jangan yang tadi marah-marah di balik pintu adalah Mbak Luna? Tapi aku hanya beropini dalam diam tanpa berani bertanya.

“Terus kalo setoran ke Abah dulu ya. Jangan langsung ke gus. Dilihat dulu sama Abah bacaannya udah bener ato belum.”, tambah Mbak Luna lagi. Aku mengangguk mengerti. Aku juga baru mengerti bahwa yang menyimak setoranku tadi pagi adalah salah seorang putranya Abah. Namanya Gus Nafis.

“Lha maeng sore kok gak kok jak mudun? Kan dirimu kanca sakkamar e. (Tadi sore kok gak kamu ajak turun? Dia kan teman sekamarmu.)”, tanya mbak yang sedari tadi duduk di hadapanku mendengarkan celoteh Mbak Luna. “Dirimu kan keamanan barang. (Kamu kan keamanan juga.).”, imbuhnya lagi.

“Iyo, Fin. Dee wes tak jak mudun. Terus mbuh kok munggah meneh.”, jawab Mbak Luna lugas. Lalu wajahnya berpaling kepadaku lagi. “Oiya kalo misalkan darurat mau ke kamar mandi itu di aula aja ya. Kan di belakang situ kamar mandi juga. Jangan ke atas”, tambah Mbak Luna sambil melirik ke arah kamar mandi. Aku mengangguk lagi. Aku baru menyadari bahwa di aula terdapat kamar mandi. Dugaanku pun benar. Mbak Luna adalah orang yang tadi sore berteriak sambil menggedor pintu kamar mandiku tadi sore.

Ternyata Mbak Luna adalah keamanan. Tapi maksudnya keamanan itu apa ya? Entahlah. Yang kutahu Mbak Luna adalah seseorang baik hati yang berkenan mengantarkanku ke pasar untuk membeli selimut dan sajadah.

bersambung di bagian ketiga…

Iklan

1 thought on “Serangkai Kisah di Pondok Quran #2 – Kesan Pertama tentang Malang”

Ingin berkomentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s